Wed. Apr 1st, 2020

Lenyapnya Islam di Tangan Empat Golongan Manusia

3 min read
Disebutkan oleh al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Miftah Daris Sa'adah, beliau membawakan sebuah atsar yang datang dari Muhammad Ibnu Fadhl rahimahullahu ta'ala, beliau berkata, "Islam akan lenyap di tangan 4 golongan manusia.”
Disebutkan oleh al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Miftah Daris Sa'adah, beliau membawakan sebuah atsar yang datang dari Muhammad Ibnu Fadhl rahimahullahu ta'ala, beliau berkata, "Islam akan lenyap di tangan 4 golongan manusia.”

Disebutkan oleh al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Miftah Daris Sa’adah, beliau membawakan sebuah atsar yang datang dari Muhammad Ibnu Fadhl rahimahullahu ta’ala, beliau berkata, “Islam akan lenyap di tangan 4 golongan manusia.”

Ucapan ini bukan bermakna bahwasanya Islam akan hancur. Namun citra Islam itu bisa hancur di tangan empat macam orang yang disebutkan oleh Muhammad Ibnu Fadhl.

Pertama, orang-orang yang mereka mengetahui namun tidak mengamalkan ilmu yang mereka ketahui. Allah mencela orang-orang Yahudi dalam Alquran, salah satu sifat yang mereka miliki adalah mereka memiliki ilmu namun mereka tidak mengamalkan ilmu tersebut. Allah sebutkan,

يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ

“Mereka mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.” (QS. al-Baqarah [2]: 146)

Kedua, yaitu orang yang semangat di dalam beribadah namun dia tidak memiliki ilmu. Orang seperti ini ada kemiripan dengan orang-orang Nashrani yang mereka begitu semangat dalam beribadah namun mereka tidak memiliki ilmu. Sehingga amalan mereka tidak akan diterima oleh Allah.

Sedangkan aahlussunnah wal jama’ah sederhana sekali rumusnya, berilmu terlebih dahulu, baru beramal. Berbeda dengan sebagian firqah atau kelompok yang menyimpang, mereka beramal dahulu, kemudian baru mencari-cari dalil sehingga dipaksakan dalil itu agar sesuai dengan apa yang mereka amalkan.

Ahlussunnah wal jama’ah bukan demikian, mereka berdalil terlebih dahulu baru mengamalkan sebuah perkara. Sehingga betapa banyak manusia yang mereka gemar beribadah kepada Allah, namun tidak diterima amalannya karena dia tidak membangun amalan tersebut di atas ilmu. Sehingga disebutkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, “Betapa banyak manusia yang menginginkan kebaikan, namun kebaikan tersebut tidak sampai kepadanya.”

Disebutkan oleh al-Imam Ibnu Katsir dan yang lainnya sebuah atsar dari Umar bin Khaththab. Umar pernah melewati sebuah kuil, beliau pada saat itu melihat ada seorang rahib, beliau pun memanggil rahib tersebut sehingga rahib tersebut pun keluar. Umar bin Khaththab memandangnya, nampak benar bekas ibadah pada tubuh rahib tersebut. Umar kemudian menangis. Maka Umar ditanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai amirul mukminin?” Dijawab oleh Umar bin Khaththab, “Saya teringat dengan firman Allah,

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ . تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

“Rajin beramal lagi kepayahan, namun memasuki api yang sangat panas (neraka).” (QS. al-Ghasyiyah [88]: 3-4)

Hal demikian itu disebabkan mereka beramal tanpa memiliki ilmu.  

Ketiga, Orang yang tidak mempelajari agama dan tidak mengamalkannya. Saat seorang muslim tidak peduli dengan agamanya maka kehancuran yang akan didapati. Dalam sejarah, Allah mengangkat sahabat nabi, mengangkat para ulama, dikarenakan ilmu dan amalan yang mereka miliki. Sehingga nampak di wajah orang-orang kafir ketakutan pada saat itu karena ilmu dan amalan yang mereka miliki.

Tatkala terjadi perselisihan antara Ali dan Mu’awiyyah, dan mereka adalah ahli ijtihad, jadi jika ada kita baca dan kita dengar tentang perselisihan sahabat, maka lebih baik kita diam, jangan kita komentari ini benar, ini tidak benar. Kenapa demikian? Karena mereka adalah ahli ijtihad. Orang yang ahli ijtihad, jika dia salah maka dapat satu pahala, jika dia benar maka dapat dua pahala. Mereka lebih hebat dari kita, jangan kita komentari.

Disebutkan pernah terjadi perselisihan, maka Heraclius yang pernah menjabat sebagai Kaisar Romawi yang merupakan negara adikuasa pada saat itu mengirim surat kepada Mu’awiyyah, “Wahai Mu’awiyyah! Jika Engkau menginginkan bantuan niscaya akan Aku kirim pasukanku untuk memerangi Ali bin Abi Thalib.” Mu’awiyyah membalas, “Jangan Engkau masuk terhadap perselisihan dua saudara. Jika Engkau mencoba untuk mencampuri urusan kami, niscaya saya akan berdamai dengan Ali dan akan memerangi dirimu dan kerajaanmu.”

Dari segi bertempur, orang-orang Romawivlebih kuat, namun karena ilmu dan amalan Allah mengangkat mereka (kaum muslimin pada saat itu), Allah hancurkan Romawi. Hal itu dapat terjadi karena ilmu dan amalan yang mereka miliki. Apabila ilmu dan amalan yang membuat sahabat menjadi hebat dan terkenal kita tinggalkan, maka kehancuran dan kehinaanlah yang akan kita dapatkan.

Keempat, manusia yang menghancurkan Islam adalah orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Dia menghalangi manusia untuk mempelajari agama Allah, dan ini bermacam-macam caranya. Apakah dengan cara memasukkan ideologi-ideologi yang sesat, atau dengan terang-terangan membubarkan pengajian umat Islam yang berdasarkan al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka orang-orang yang seperti ini juga merupakan orang-orang yang akan membuat hancur Islam dan kaum muslimin.

(Dirangkum dari Pengajian bersama Ustadz Syauqy al-Yamani)


Lihat faedah ilmiah lainnya:

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *