Thu. Apr 2nd, 2020

Adab Dalam Pernikahan

7 min read

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Faedah Kajian

  • Ustadz Imam Abu Abdillah
    Perumahan Dokter RSDZA, Lampriet Banda Aceh

Seseorang yang belum baligh maupun hingga seorang itu wafat perlu terhadap ilmu pernikahan ini. Sebab apabila ia belum nikah, perlu untuk dia persiapan sebelum nikah. Namun, apabila ia sudah menikah, maka perlu untuk persiapan anaknya menikah kelak. Jadi ini sesuatu seseorang yang perlu mengetahui ilmunya. Bukan berarti memahami bahwa seseorang yang belum menikah sudah tidak perlu lagi untuk belajar ilmu pernikahan ini, juga tidak boleh suudzan kepada orang yang sudah menikah namun belajar ilmu pernikahan yang mungkin orang tersebut akan menikah lagi. Namun kita perlu berhusnudzan, karena bisa saja itu modal bai seseorang yang sudah menikah belajar ilmu pernikahan untuk persiapan nikah bagi keluarganya ataupun bagi anaknya kelak.

Pernikahan itu merupakan sunnah para Nabi dan utusan-utusan Allah. Dan sabda beliau ﷺ :

اَلنِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي، وَتَزَوَّجُوْا، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ، وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ، وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ.

“Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golonganku. Menikahlah kalian! Karena sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh ummat. Barangsiapa memiliki kemampuan (untuk menikah), maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya (dari berbagai syahwat).” [Hadits shahih lighairihi: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1846) dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2383)]

Pernikahan adalah sebuah kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba. Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman :

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” [An Nahl ayat : 72]

Terlebih bagi orang yang berjuang untuk selamat dari fitnah dan menyelamatkan separuh dari agamanya, Allah akan membantunya sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :

مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً فَقَدْ أَعَانَهُ اللهُ عَلَى شَطْرِ دِيْنِهِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي الشَّطْرِ الثَّانِى.

“Barangsiapa yang dikaruniai oleh Allah dengan wanita (isteri) yang shalihah, maka sungguh Allah telah membantunya untuk melaksanakan separuh agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam menjaga separuhnya lagi.” [Hadits hasan lighairihi: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (no. 976) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (II/161) dan dishahihkan olehnya, juga disetujui oleh adz-Dzahabi. Lihat Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (II/404, no. 1916)]

Adab ke 1 – Harus memiliki niat yang baik

Niat yang baik ialah niat lillahi subhanallahu wa ta’ala atau niat karena Allah subhanallahu wa ta’ala. Menikah dengan niat menjalankan keta’atan terhadap Allah azza wa jalla dan beribadah kepada-Nya. Di dalam Al-Qur’an terdapat sangat banyak anjuran untuk menikah, Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman :

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [An Nur ayat : 32]

Diantara niat lain menikah selain karena Allah ialah karena ingin memiliki keturunan. Dari Abu Adzinah ash-Shadafi Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ نِسَائِكُمُ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ، الْمُوَاتِيَةُ الْمُوَاسِيَةُ، إِذَا اتَّقَيْنَ اللهَ

“Sebaik-baik isteri kalian ialah yang pengasih dan subur (banyak anak), giat dan cekatan, jika mereka bertakwa kepada Allah.” [HR. Ahmad (no. 26029).]

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu  berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak (subur) karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat ” [HR Ibnu Hibban 9/338.]

Adab ke 2 – Jangan nekat menikah kecuali mampu

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita demikian, sebagaimana diriwayat-kan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Ia menuturkan: “Kami bersama Nabi ﷺ sebagai pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau ﷺ bersabda kepada kami:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“ Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” [HR. Al-Bukhari (no. 5066) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1402) kitab an-Nikaah, dan at-Tirmidzi (no. 1087) kitab an-Nikaah.]

Adab ke 3 – Seorang budak tidak boleh menikah tanpa izin tuannya

Tentunya tidak dibahas karena jaman sekarang budak tidak ada lagi.

Adab ke 4 – Seorang menyegerakan dalam pernikahan

Para ulama membagikan keadaan menikah dalam beberapa keadaan. Kadang bagi seseorang menikah itu hukumnya mubah, sunnah, wajib, maupun makruh. semisal ketika seseorang telah sampai usianya untuk menikah namun ia masih mampu untuk menahan syahwatnya maka ia mubah untuk menikah.
Tetapi apabila ia ada kemampuan untuk menikah dan tidak khawatir terjatuh kedalam fitnah dan mampu menahan syahwatnya maka sunnah baginya untuk menikah.
Namun apabila seseorang sudah tidak mampu menahan syahwatnya dan terjatuh keadalam fitnah maka ia wajib menikah, walaupun keadaannya dalam keadaan berhutang. Ini dijelaskan oleh Syaikh Al-Allamah Abdullah Ibn Abdurrahman Al-Bassamdalam mensyarah Bulughul Maram dan juga para ulama yang lain ketika menjabarkan hukum-hukum pernikahan.

Adab ke 5 – Hati-hati orang yang menikah dengan konsep yang haram

Dalam Al-Qur’an, Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [ An Nisa’ ayat : 23 ]

Diantara kaedah yang dilarang dalam pernikahan adalah nikah syighar. Nafi’ berkata: “Syighar ialah seorang laki-laki menikahi puteri laki-laki lainnya dan dia pun menikahkannya dengan puterinya tanpa mahar. Atau seorang laki-laki menikahi saudara perempuan laki-laki lainnya lalu dia menikahkannya pula dengan saudara pe-rempuannya tanpa mahar.” [‘Aunul Ma’buud Syarh Sunan Abi Dawud (no. VI/60).]

Permisalannya ialah ada seorang pemuda yang dia mempunyai saudari perempuan, lalu dia nikahkan saudari perempuannya itu dengan pemuda yang mempunyai saudari perempuan pula dan saudari dari pemuda itu dia nikahi tanpa mahar. Maka dalam syari’at tidak diperbolehkan. Tetapi apabila masing-masing mereka memberikan maharnya, maka itu diperbolehkan. Termasuk didalamnya yang tidak diperbolehkan oleh syari’at adalah nikah mut’ah seperti yang dilakukan oleh Syi’ah Rafidhah. Sedangkan nikah dengan niat diceraikan itu seperti nikah biasa tetapi didalam hatinya sudah ada niat untuk menceraikan. Ini sering terjadi ketika seseorang merantau atau menuntut ilmu. Seorang menikah agar dia bisa menjaga diri, namun didalam hatinya dia akan menceraikan istrinya apabila telah selesai pendidikannya. Ini tentunya diharamkan dalam konsep pernikahan dalam islam.

Adab ke 8 – Lihatlah yang setara

Sebagian orang memahami maksud setara ialah apabila calonnya kaya tentunya dia pun harus kaya. Apakah demikian? Na’am, tentu saja. Bukan berarti disini kita disini tidak boleh meminta yang lebih, namun berat dalam mengimbanginya. Semisal saat seseorang menikahi seorang wanita yang kaya namun tidak mempunyai agama akan sulit. Karena seseorang tersebut tidak mampu mengimbanginya. Namun, apabila Allah anugerahkan kepada seorang hamba wanita yang kaya lagi shalihah, Insya Allah wanita tersebut tetap menerima apa adanya atau qanaah terhadap apa yang suaminya berikan. Jadi, kuncinya adalah agama dalam memilih pasangan hidup dan carilah yang sekufu. Dan sekufu itu relatif dan tentunya seseorang harus menyesuaikannya sesuaikan dirinya.

Dan Allah pasangkan lelaki baik dengan perempuan yang baik, dan perempuan baik dengan lelaki yang baik pula. Allah Azza wa Jalla berfirman :

 … وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ …

“… dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) …” [ An Nur ayat 26 ]

Demikian pula lelaki buruk Allah pasangkan dengan wanita yang buruk pula. Sesuai firman Allah Azza wa Jalla :

 الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula) …” [ An Nur ayat 26 ]

Adab ke 9 – Menawarkan diri pada lelaki yang shalih

Tidak masalah apabila seseorang wanita menawarkan diri pada lelaki yang shalih selama tidak keluar dari konsep syari’at. Artinya ialah wanita ini menawarkan diri melalui mahramnya kepada lelaki tersebut. Semisal saat Umar bin Khattab menawarkan anaknya yakni Hafsah bintu Umar kepada Abu Bakar As Shiddiq. Namun, Abu Bakar hanya diam dan Umar pada saat itu marah. Lalu, Umar menawarkan anaknya kepada Utsman bin Affan, lalu Utsman mengatakan “tidak”. Lalu, dalam keadaan bingung Umar datang menemui Rasulullah ﷺ untuk mengadukan hal tersebut. Lalu, Nabi memintakan agar Umar menikahkan dirinya dengan Hafsah. Setelah Rasulullah menikah dengan Hafsah bintu Umar barulah saat itu Abu Bakar tersenyum kepada Umar. Abu Bakar mengatakan bahwa apabila Hafsah tidak disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akan aku nikahkan. Demikianpula dengan Utsman. Dari kisah ini menandakan bolehnya menawarkan diri kepada orang lain selama masih dalam konsep syari’at. Bukan wanita yang datang langsung kepada lelaki tersebut.

Adab ke 10 – Dianjurkan mencari wanita yang subur

Telah diterangkan oleh Nabi ﷺ bahwa seseorang dianjurkan untuk mencarikan istri yang subur. Dari Abu Adzinah ash-Shadafi Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ نِسَائِكُمُ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ، الْمُوَاتِيَةُ الْمُوَاسِيَةُ، إِذَا اتَّقَيْنَ اللهَ

“Sebaik-baik isteri kalian ialah yang pengasih dan subur (banyak anak), giat dan cekatan, jika mereka bertakwa kepada Allah.” [HR. Ahmad (no. 26029).]

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu  berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak(subur) karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat ” [HR Ibnu Hibban 9/338.]

Adab ke 11 – Menikah dengan seorang gadis

Idealnya seorang perjaka menikah dengan seorang gadis. Namun bukan berati tidak boleh menikahi janda, tetapi seorang perjaka itu idealnya menikahi seorang gadis. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia pernah berkata,

تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً فِى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَقِيتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « يَا جَابِرُ تَزَوَّجْتَ ». قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ « بِكْرٌ أَمْ ثَيِّبٌ ». قُلْتُ ثَيِّبٌ. قَالَ « فَهَلاَّ بِكْرًا تُلاَعِبُهَا ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى أَخَوَاتٍ فَخَشِيتُ أَنْ تَدْخُلَ بَيْنِى وَبَيْنَهُنَّ. قَالَ « فَذَاكَ إِذًا. إِنَّ الْمَرْأَةَ تُنْكَحُ عَلَى دِينِهَا وَمَالِهَا وَجَمَالِهَا فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ »

“Aku pernah menikahi seorang wanita di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun bertanya, “Wahai Jabir, apakah engkau sudah menikah?” Ia menjawab, “Iya sudah.” “Yang kau nikahi gadis ataukah janda?”, tanya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun menjawab, “Janda.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kenapa engkau tidak menikahi gadis saja, bukankah engkau bisa bersenang-senang dengannya?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki beberapa saudara perempuan. Aku khawatir jika menikahi perawan malah nanti ia sibuk bermain dengan saudara-saudara perempuanku. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu berarti alasanmu. Ingatlah, wanita itu dinikahi karena seseorang memandang agama, harta, dan kecantikannya. Pilihlah yang baik agamanya, engkau pasti menuai keberuntungan.” [HR. Muslim no. 715]

Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالْأبْكَارِ فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا وَأَرْضَى بِالْيَسِيْرِ

“(Nikahilah) gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih manis tutur katanya, lebih banyak keturunannya, dan lebih menerima dengan sedikit (qana’ah)”.[Hadits riwayat lbnu Majah no. 1861 (1/598), dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, hadits No. 623 (2/192)] Gadis perawan lebih utama untuk dicari karena wanita janda bisa jadi hatinya masih terikat dengan suami sebelumnya sehingga cintanya kepada suami barunya tidak sepenuhnya (tidak sempurna), berbeda dengan gadis yang masih perawan” [Tuhfatul Ahwadzi 4/191].

Wallahu a’lam.

Ditranskrip oleh Tim Syiar Tauhid Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *