Sun. Oct 25th, 2020

Azab yang Paling Ringan di Neraka

2 min read

Nabi menggambarkan tentang orang yang paling ringan azabnya kelak pada hari Qiyamat di dalam neraka yaitu Abu Thalib, pamannya Rasul ﷺ.

Itu pun karena syafaat Nabi ﷺ, disebabkan Abu Thalib semasa hidupnya banyak membela dakwah Nabi, banyak membantu Nabi meskipun mati di atas kesyirikan.

Sehingga kata Nabi ﷺ:

لَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Kalau bukan karena syafaatku, pasti beliau akan disiksa di dasar neraka.”[HR. Muslim no. 209]

Namun karena syafaat Nabi, diangkat oleh Allah ﷻ dirinya sehingga api yang membakar dirinya cuma sebatas mata kaki saja.

وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

“Dia diberi dua sandal yang menyebabkan otaknya mendidih.” [HR. Ahmad no. 2636, Muslim no. 212, dan yang lainnya]

Bayangkan! Kaki yang terbakar, tapi yang mendidih adalah otak.

Bayangkan! Ini azab yang paling ringan di dalam neraka Allah.

Bayangkan hari ini kita terinjak bara api dengan kaki telanjang, apa yang terjadi?

Mungkin beberapa saat kita tidak bisa berbicara, otak ini tidak berjalan, tidak tahu harus berbuat apa.

Seakan-akan napas kita terhenti, ini baru bara api di dunia yang kita injak. Bayangkan azab pada hari Qiyamat!

Azab yang tersebut hanya Allah berikan kepada sebagian kuffar. Di dalam dalil yang lebih spesifik lagi yaitu kepada Abu Thalib, dipakaikan sandal dari api neraka, kemudian otaknya mendidih. Bayangkan bagaimana sakitnya!

Nabi ﷺ berkata “Kekal selama-lamanya di dalam neraka.”

Tidak ada habis-habisnya, sampai kapan orang itu seperti itu?

Sampai kapan Abu Thalib seperti itu?

Terus menerus, tidak ada batasnya. Sampai kapan?

Tidak ada batas, tidak ada matinya lagi, terus-menerus dalam azab.

Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Semoga Allah selamatkan kita.

Ini hanyalah azab yang paling ringan. Wallahi (demi Allah) kalau kita baca yang seperti ini, kita akan takut.

Namun, diri kita ini selalu bermaksiat kepada Allah, hati yang terlalu lemah, dan fitnah itu begitu menyambar hati-hati kita.

Siang dan malam kita melakukan dosa, siang dan malam kita terjatuh ke dalam pelanggaran syariat Allah.

Mungkin kita akan mengatakan bahwa lembaran kertas atau pun buku setebal 50 lembar tidak cukup untuk menulis dosa kita dalam satu pekan, saking banyaknya dosa kita.

Entah apa yang telah kita perbuat, banyak sekali dosa dan kesalahan.

Semoga bermanfaat

Pemateri : Ustadz Tanthawi Abu Muhammad حَفِظَهُ اللهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *