Sat. Dec 7th, 2019

Di antara Doa-Doa Rasulullah (Tiga)

3 min read
Rasulullah berdoa dengan merinci, beliau memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala perlindungan dari segala sesuatu yang akan memudaratkan seorang manusia ketika dia kelak menghadap Allah,
Rasulullah berdoa dengan merinci, beliau memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala perlindungan dari segala sesuatu yang akan memudaratkan seorang manusia ketika dia kelak menghadap Allah,

وَعَنْ أَبِي مُوسَى اَلْأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَدْعُو: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي
وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي
اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ اَلْمُقَدِّمُ وَالْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Abu Musa al-Asy’ari radhiallaahu ‘anhu berkata: ‘Nabi shallallahu alaihi wasallam membaca doa, ‘Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, keberlebih-lebihan dalam perkaraku, dan apa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah diriku dalam kesungguhanku, kelalaianku, kesalahanku, kesengajaanku, dan semua itu adalah berasal dari sisiku. Ya Allah, ampunilah aku dari segala dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, segala dosa yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku, Engkaulah Yang Maha Mendahulukan dan Yang Mengakhirkan, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (muttafaq ‘alaih)

Rasulullah berdoa dengan merinci, beliau memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala perlindungan dari segala sesuatu yang akan memudaratkan seorang manusia ketika dia kelak menghadap Allah,

Pertama sekali beliau meminta,

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku”

Hal ini juga sebagaimana di dalam hadis,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat
kesalahan adalah yang bertaubat”. (HR Tirmidzi 2499, Shahih at-Targhib, 3139)

Kemudian ucapan Rasulullah,

وَجَهْلِي

“Dan dari kebodohanku”

Beliau juga memohon ampun kepada Allah dari kebodohan. Jahli (kebodohan) di sini adalah kebalikan daripada al-khathiah (kesalahan yang dilakukan seseorang secara sengaja). Adapun jahil, dia melakukan karena kebodohan. Jadi yang namanya al- khathiah, yaitu seorang manusia melakukan sebuah kesalahan dengan sengaja. Namun yang jadi pertanyaan di sini, apakah Rasulullah bersengaja melakukan sebuah kesalahan? Karena Rasul tadi meminta,

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku”

Telah disebutkan bahwa khatiah adalah kesalahan yang disengaja. Maka jawabannya adalah tidak mungkin Rasulullah bersengaja di dalam melakukan sebuah kesalahan. Ketika Rasul mengetahui sesuatu sebagai sebuah kesalahan, tidak mungkin beliau melakukan kesalahan tersebut. Beliau melakukan itu karena menyangka itu adalah baik.

Contohnya, pada saat para sahabat mengawinkan kurma untuk berbuah lebih baik, Rasulullah mengatakan, “Seandainya kalian tidak melakukan seperti itu pun, niscaya kurma itu tetaplah bagus.” Setelah beliau berkata seperti itu, mereka tidak mengawinkan kurma lagi, namun kurmanya justru menjadi jelek. Ketika melihat hasilnya seperti itu, Nabi bertanya, “Kenapa kurma itu bisa jadi jelek seperti ini?”

Kata mereka, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kita begini dan begitu…”, kemudian beliau bersabda, “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” (HR. Muslim, No. 2363)

Kemudian Rasul juga berdoa,

وَجَهْلِي

“Dan dari kebodohanku”

Memang Rasulullah tidak mengetahui perkara yang gaib. Terkadang beliau melakukan sesuatu yang beliau menyangka itu adalah baik dan benar, namun terkadang adalah salah. Contohnya ketika Umar bin Khaththab mengatakan bahwa seluruh tawanan perang tidak boleh diterima upeti, dan Rasulullah pada waktu itu lebih memegang pendapat Abu Bakar. Ternyata, setelahnya turun wahyu yang membenarkan apa yang diucapkan oleh Umar bin Khaththab, dan Rasul tidak mungkin sengaja melakukan ini, ini menunjukkan beliau berpikir bahwa ini adalah baik, ternyata wahyu turun justru membenarkan apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab.

Demikian juga apa yang tertimpa kepada ibunda Aisyah radhiallahu’anha ketika

beliau dituduh oleh orang-orang munafik, bahkan Rasulullah pun sempat kurang lebih satu bulan tidak mengajak bicara Aisyah, sampai-sampai Aisyah sedih. Padahal Aisyah tidak melakukan kesalahan, ini juga menunjukkan bahwa Rasul tidak mengetahui perkara yang ghaib. Kalau memang beliau mengetahui perkara yang gaib, pasti beliau tidak akan termakan oleh isu yang disebarkan oleh orang-orang munafik.

(Diringkas oleh Tim Syiar Tauhid Aceh dari Faedah kajian oleh Ustadz Adam Abu Rifki)

Tulisan Sebelumnya:


Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Lihat Faedah Ilmiah Sebelumnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *