Fri. Feb 21st, 2020

Kisah Abu Bakar Menjaga Rahasia Keinginan Rasulullah Meminang Hafshah

3 min read
Diamnya Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu’anhu membuat Umar bin Khaththab marah. namanya Umar bin Khaththab tidak basa-basi, beliau kalau marah ya marah. namun perlu diingatkan bahwa marahnya beliau tersebut tidak membuat putusnya ukhuwah
Kisah Abu Bakar Menjaga Rahasia Keinginan Rasulullah Meminang Hafshah

Oleh : Ustadz Tanthawi Abu Muhammad

Saya ingin menyebutkan beberapa hadits yang menerangkan kisah bagaimana para ulama Salaf terdahulu dari kalangan sahabat menjaga rahasia di antara mereka.

Datang dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan Imam Bukhari rahimahullahu ta’ala, bahwa ketika Hafshah binti Umar bin Khaththab radhiallahu ta’ala ‘anhu meninggal suaminya, ini sebelum dinikahi oleh Rasulullah ﷺ. Datanglah Umar bin Khaththab radhiallahu ta’ala ‘anhu menemui Utsman Ibnu Affan radhiallahu’anhu. Ketika Hafshah meninggal suaminya, Umar bin Khaththab sebagai ayah, beliau datang kepada Utsman Ibnu Affan. Apa yang beliau inginkan? Beliau mengatakan kepada Utsman :

إِنْ شِئْتَ أَنْكَحْتُكَ حَفْصَةَ

“Wahai Utsman bin Affan, kalau engkau berkenan maka saya akan nikahkan putriku Hafshah untukmu.”

Coba lihat! Apa faedah yang bisa kita ambil di sini? Faedah yang bisa kita ambil di sini adalah dahulu para ulama Salaf, mereka itu memilih pasangan untuk putri-putri mereka dari kalangan orang-orang yang sholeh, mereka tawar kepada orang-orang yang baik, ia cari suami untuk anak-anak mereka tersebut suami-suami yang baik, orang-orang yang bertakwa kepada Allah ﷻ karena suami yang baik akan berpengaruh bagi rumah tangga anaknya tersebut.

Kemudian kata Utsman bin Affan radhiallahu ta’ala ‘anhu :

سَأَنْظُرُ فِي ذَلِكَ

“Wahai Umar, saya pikir-pikir dulu dalam beberapa hari ke depan.”

Jawaban yang sangat indah. beliau tidak langsung menjawab iya dan tidak langsung menjawab tidak. Ketika telah lewat beberapa hari Umar datang menagih tawarannya tersebut kepada Utsman bin Affan. Bagaimana jawabannya? Kemudian dijawab oleh Utsman bin Affan radhiyallahu ta’ala ‘anhu :

مَا أُرِيدُ أَنْ أَتَزَوَّجَ يَوْمِي هَذَا

“Aku telah memutuskan untuk tidak menikah dulu saat ini.”

Jawaban yang sangat sopan. Tidak lain jawaban yang seperti ini keluar kecuali dari orang-orang yang mereka berasal dari didikan Rasulullah ﷺ, manusia-manusia yang mulia.

Ketika Umar bin Khaththab radhiallahu ta’ala ‘anhu mendengar jawaban ini dari Utsman bin Affan, beliau datang kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu’anhu. Kemudian beliau mengatakan kepada Abu Bakar sebagaimana ucapan yang beliau ucapkan kepada Utsman bin Affan, beliau tawarkan putrinya :

إِنْ شِئْتَ أَنْكَحْتُكَ حَفْصَةَ

“Jika anda mau saya akan menikahkan Hafshah dengan anda”

pada saat itu Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ta’ala ‘anhu diam seribu bahasa dan tidak menjawab. beliau tidak katakan iya dan beliau tidak katakan tidak, beliau pun tidak katakan untuk berpikir-pikir dulu.

Diamnya Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu’anhu membuat Umar bin Khaththab marah. namanya Umar bin Khaththab tidak basa-basi, beliau kalau marah ya marah. namun perlu diingatkan bahwa marahnya beliau tersebut tidak membuat putusnya ukhuwah hubungan silaturrahim, persaudaraan di antara mereka.

Berselang beberapa hari setelah itu datanglah Rasulullah ﷺ meminang Hafshah binti Umar. Kemudian Umar bin Khaththab Radhiallahu ta’ala ‘anhu menikahkan putrinya dengan manusia yang paling mulia yaitu Rasulullah ﷺ. Luar biasa.

Setelah Nabi ﷺ menikah dengan Hafshah dan Hafshah sudah tergolong bagian dari ummahatul mukminin, bagian dari istri-istri Nabi ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu’anhu datang bertemu dengan Umar. Beliau mengatakan :

لَعَلَّكَ وَجَدْتَ عَلَيَّ حِينَ عَرَضْتَ عَلَيَّ حَفْصَةَ فَلَمْ أَرْجِعْ إِلَيْكَ شَيْئًا ؟

“Sepertinya anda pada saat menawarkan Hafshah kepada saya, anda berperasangka sesuatu terhadap saya, karena saya tidak menjawabnya?”

Dijawab oleh Umar :

نَعَمْ

“Iya.”

Tidak main-main Umar bin Khaththab Radhiallahu’anhu, beliau marah. Kemudian kata Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu’anhu :

فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي حِينَ عَرَضْتَ عَلَيَّ أَنْ أَرْجِعَ إِلَيْكَ شَيْئًا إِلَّا أَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُهَا ، وَلَمْ أَكُنْ لِأُفْشِيَ سِرَّ رَ سُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلَوْ تَرَكَهَا نَكَحْتُهَا

“Tidak ada yang menghalangi saya untuk menerima tawaran anda pada saat anda menawarkan Hafshah kecuali karena saya telah mendengar bahwa Rasulullah ﷺ pernah menyebutkannya, dan saya tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah ﷺ dan kalau beliau meninggalkannya maka saya akan menikahinya”.

Coba lihat pendidikan dari seorang alim, seorang shahabiyun jalil Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu’anhu.

Ditranskrip oleh Tim Syiar Tauhid Aceh dari kajian Ustadz Tanthawi Abu Muhammad

Lihat faedah lain disini:

Bantu Dakwah Sunnah di Serambi Mekkah. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khairan katsiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *