Mencintai Rasulullah dengan Benar

Share Yuk!!!

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bagaimana cara mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan benar. Allah mengatakan,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu’.” (QS. Ali Imran [3]: 31)

Tidak ada satu pun orang di muka bumi ini yang lebih lurus jika dibandingkan dengan para sahabat dalam mencintai Nabi Muhammad. Segala kebenaran adalah dengan mengikuti jalan mereka, dan segala kesesatan adalah menyelisihi jalannya mereka. Sebagaimana disebutkan oleh para ulama salaf, “Seluruh kebaikan adalah dengan mengikuti orang-orang salaf (terdahulu) dan semua keburukan pada bid’ahnya orang-orang khalaf (yang datang kemudian).”

Begitu juga dalam mencintai Rasulullah, telah dipraktekkan oleh para sahabat bagaimana caranya mencintai nabi. Mereka mengorbankan nyawa, siap menumpahkan darah mereka sebagai bentuk cinta mereka kepada Nabi Muhammad.  

Terkadang sebagian orang mengusap-usap kuburan para wali. Ada sebagian yang terkadang datang ke kota Madinah, mereka mengusap-usap dinding makam Nabi Muhammad. Bahkan tidak sedikit di antara mereka menengadahkan tangannya sampai menangis, mereka berdoa dan memohon kepada Rasulullah. Kalau ditanyakan mengapa mereka melakukan hal yang demikian, mereka jawab bahwa hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kecintaan mereka kepada Rasulullah.  

Bahkan terkadang penutup makam Nabi Muhammad dijadikan sebagai alat untuk mengalap berkah. Mereka berdalil dengan peristiwa ketika Rasulullah berhaji dan beliau tiba di Mina, lalu mencukur rambut kemudian rambut tersebut dibagi-bagikan kepada sahabat Rasulullah.

Dalil ini menunjukkan bolehnya ber-tabarruk dengan apa yang ada dari Muhammad. Bahkan juga para sahabat Rasulullah mereka rebut-rebutan air wudu Nabi Muhammad, dan juga ternukilkan para sahabat Rasulullah mereka rebut-rebutan air ludah Nabi Muhammad. Itu semuanya shahih, dan itu dilakukan oleh para sahabat ketika Rasulullah masih hidup untuk mendapatka berkah dan Rasulullah membenarkan perbuatan tersebut.

Namun perlu diketahui, berkah itu dibagi menjadi dua, ada berkah secara zat dan ada berkah secara sebab. Ada pun berkah secara zat, itu hanya khusus dimiliki oleh Nabi Muhammad yang tidak dimiliki oleh siapa pun dari kalangan manusia.  

Tidak ada satu pun manusia yang paling mulia setelah Rasulullah yang lebih dari Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab. Bahkan Ali bin Abi Thalib berkhotbah,

خَيْرُ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُوْ بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ

Dan sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah Abu Bakar dan Umar.”

Namun demikian, satu pun dalil tidak dapat ditemukan bahwa para sahabat mengambil berkah dari badannya Abu Bakar ash-Shiddiq dalam keadaan beliau adalah manusia yang paling mulia setelah Rasulullah. Hal ini menunjukkan keberkahan secara zat itu hanya dimiliki oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Hajar Aswad adalah batu yang diturunkan dari surga, ditempel di tempat yang paling mulia dan dijadikan sebagai landasan orang untuk bertawaf. Rasulullah menganjurkan untuk menciumnya dan ia akan menjadi saksi kelak di yaumil qiyamah bagi yang menciumnya.

Namun perlu diketahui, keberkahan Hajar Aswad bukan keberkahan secara zat, tetapi keberkahannya secara sebab. Sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khaththab radhiallahu ta’ala ‘anhu,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ  يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu”. (HR. Bukhari No. 1597, 1605, dan Muslim No. 1270)

Begitu juga di zaman Rasulullah, ada sebuah pohon yang Rasulullah menjadikan pohon tersebut untuk mem-bai’at para sahabatnya yang dikenal dengan Bai’atul Ridwan, pohon ini Allah sebutkan di dalam al-Qur’anul Karim,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon”. (QS. al-Fath [48]: 18)

Disebutkan dalam Alquran pohon terebut. Artinya, tidak ada pohon yang lebih berkah dari pohon ini. Rasul berdiri di sana, Rasul berteduh di bawahnya. Para sahabat berdiri di situ dan dikenal dengan sejarah Islam yang sangat besar.

Terhadap pohon tersebut, di zaman Umar bin Khaththab, orang-orang sudah mulai berpikir yang tidak-tidak. Mereka mulai beranggapan “Ini pohon dulunya Rasul berdiri di sini, pasti ada berkah dari pohon ini, pasti pohon ini punya kelebihan-kelebihan.” Mulailah mereka beriktikaf, salat, dan berdo’a di tempat itu.

Akan tetapi, Umar bin Khaththab justru tidak melestarikan pohon tersebut. Beliau tidak memagari pohon tersebut atau memasang marmer untuk membuat orang yang berziarah merasa lebih nyaman.

Umar bin Khaththab–adalah orang yang paling mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasalla–mentebang pohon tersebut sampai ke akar-akarnya. Namun bukan berarti kemudian kita katakan Umar bin Khaththab membenci Rasulullah atau tidak menjaga situs sejarah.

Umar bin Khaththab ingin menjaga akidah kaum muslimin, menjaga hati muslimin, supaya ketertautannya hanya kepada Rabbul ‘Alamin, tidak kepada selain Allah, ini yang diinginkan oleh Umar bin Khaththab, karena keberkahan secara zat itu hanya pada badan Rasulullah

Sedangkan kepada selain Rasulullah, keberkahan itu berasal dari sebabnya. Ilmu yang dia punya, akhlak yang dia punya, kitab yang dia tulis, sehingga akan memberikan keberkahan di tengah-tengah umat Islam, dengan ilmunya yang tersebar manusia dapat mengetahui apa yang halal dan haram, manusia jadi tahu apa itu tauhid dan  apa itu syirik, manusia bisa tahu apa itu sunnah dan yang bukan sunnah, manusia bisa bertaubat beribadah kepada Allah dengan ilmu yang mereka punya.

Bukan justru mengalap berkah dari badan para ulama, bukan demikian cara mencintai para ulama. Bukan dengan mengambil pakaian yang kita untuk kemudian digosokkan di kepalanya, badan dan tangannya. Ini merupakan kecintaan yang salah. Mencintai ulama adalah dengan mengikuti nasihat-nasihat mereka, bersemangat dalam belajar sebagaimana semangat mereka dan semangat dalam beribadah sebagaimana mereka semangat beribadahnya mereka.

(Diringkas dari kajian Ustadz Harits Abu Naufal)

Lihat faedah ilmiah lainnya:

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Share Yuk!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares