Tue. Dec 10th, 2019

Ringkasan Sunnah-Sunnah Ketika Makan dan Minum (Bagian 2)

4 min read

Beberapa sunnah dan adab yang dapat kita amalkan ketika makan/minum antara lain :

12. Makan dari pinggir ke tengah.

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda:

“الْبَرَكَةُ تَنْزِلُ فِي وَسَطِ الطَّعَامِ، فَكُلُوْا مِنْ حَافِيَتِهِ وَلاَ تَأْكُلُوْا مِنْ وَسَطِهِ!”

“Keberkahan tersebut akan turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir-pinggirnya dan jangan dari tengahnya!” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (IV/260) Kitaabul Ath’imah bab Maa Jaa-a fii Karaahiyatil Akli min Wasathith Tha’aam, ia berkata: “Hadits ini shahih).

13. Makan sambil bercakap-cakap.

Bahwa Nabi ﷺ pernah meminta istrinya untuk diambilkan lauk. Namun kata mereka, “Kami tidak punya lauk apapun selain cuka”.
Beliau ﷺ tetap minta diambilkan cuka, dan makan dengan lauk cuka dan mengatakan,

نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ ، نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ

Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka. (HR. Muslim 2052)

An-Nawawi menjelaskan hadits di atas,

وَفِيهِ اِسْتِحْبَاب الْحَدِيث عَلَى الْأَكْل تَأْنِيسًا لِلْآكِلِينَ

Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk berbicara ketika makan, untuk membuat suasana akrab bagi orang-orang yang ikut makan. (Syarh Shahih Muslim, 7/14)

14. Makan memakai sufroh (alas di bawah tempat makan).

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata:

مَا أَكَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خِوَانٍ وَلاَ فِيْ سُكُرُّجَةٍ.

“Rasulullah ﷺ tidak pernah makan di atas meja makan dan tidak pula di atas sukurrujah.” (HR. Al-Bukhari no. 5415)

Definisi Sukurrujah ;
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di dalam kitab Syamaail Muhammadiyyah hal. 88 no. 127 memberikan pengertian tentang sukurrujah yaitu piring kecil yang biasa dipakai untuk menempatkan makanan yang sedikit seperti sayuran lalap, selada dan cuka. Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (IX/532) berkata: “Guru kami berkata dalam Syarah At-Tirmidzi, “Sukurrujah itu tidak digunakan oleh Rasulullah ﷺ dan para Sahabatnya karena kebiasaan mereka makan bersama-sama dengan menggunakan shahfah yaitu piring besar untuk makan lima orang atau lebih. Dan alasan yang lainnya adalah karena makan dengan sukurrujah itu menjadikan mereka merasa tidak kenyang.”

15. Mengambil makanan yg jatuh, dibersihkan dan dimakan agar tidak menyisakan untuk syaithan.

Sebagaimana hadits Nabi ﷺ :

إِذَا سَقَطَتْ مِنْ أَحَدِكُمْ اللُّقْمَةُ فَلْيُمِطْ ماَ كَانَ بِهَا مِنْ أَذَى ثُمَّ لِيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ.

“Apabila ada sesuap makanan dari salah seorang di antara kalian terjatuh, maka hendaklah dia membersihkan bagiannya yang kotor, kemudian memakannya dan jangan meninggalkannya untuk syaitan.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2033, Abu Dawud no. 3845dan Ahmad 3/301).

16. Tidak menyisakan makanan di piring.

Sabda ﷺ :

“فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْرُوْنَ فِيْ أَيِّ طَعَامِكُمُ الْبَرَكَةُ.”

“Karena kalian tidak mengetahui di bagian makanan kalian yang manakah keberkahan itu berada.” (Dalam Shahih Muslim 3/1607)

17. Menjilati jari atau dijilatkan pada orang lain sebelum mencuci tangan.

Telah lewat bab ini dalam poin no. 9 perihal menjilati tangan.

Juga sabda Nabi ﷺ :

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Nabi ﷺ bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا

“Apabila seseorang di antara kalian makan, maka janganlah dia membersihkan tangannya sehinggalah dia menjilatnya atau menjilatkannya (kepada orang lain)”. (Riwayat Al-Bukhari no. 5456, Muslim no. 2031, At-Tirmidzi no. 1801 dan Ahmad 1/ 221).

18. Berdoa setelah makan.

Dari Anas bin Malik berkata, telah bersabda Rasulullah ﷺ,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah benar-benar ridlo kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) ketika selesai dari makan dan minum.” (Riwayat Muslim no. 2734, At-Tirmidzi no. 1816 dan Ahmad 3/ 100, 117. Berkata Asy-Syaikh Al-Albaniy: Shahih).

Dari Mu’adz bin Anas, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang memakan makanan lalu ia mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنىِ هَذَا وَ رَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِّنىِّ وَ لاَ قُوَّةٍ

‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi makanan ini kepadaku dan memberikan rizki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku’.

Maka akan diampuni baginya dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian”.
(Riwayat Abu Dawud no. 4023, At-Tirmidzi no. 3458, Ibnu Majah no. 3285, Ahmad 3/439, Ibnu As-Sunniy dan Al-Hakim. Berkata Asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan).

Dan masih banyak lagi do’a yang shahih selepas makan selain do’a tersebut.

19. Berkumur-kumur dan mencuci tangan setelah makan.

Dari Suwaid bin An-Nu’man radhiyallahu ‘anhu berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى خَيْبَرَ، فَلَمَّا كُنَّا بِالصَّهْبَاءِ دَعَا بِطَعَامٍ، فَمَا أُتِيَ إِلَّا بِسَوِيقٍ، فَأَكَلْنَا، فَقَامَ إِلَى الصَّلاَةِ فَتَمَضْمَضَ وَمَضْمَضْنَا

“Kami pernah keluar bersama-sama Rasulullah ke Khaibar. Ketika kami tiba di daerah ash-Shahba’, beliau minta dibawakan makanan. Tiada sesuatupun (yang dapat dihidangkan) melainkan gandum. Maka kami pun makan. Kemudian beliau berdiri untuk sholat (maghrib), maka beliau berkumur-kumur, dan kami pun berkumur-kumur.” (Riwayat Al-Bukhari no. 5454, 5455).

20. Menahan sendawa.

Ada orang yang bersendawa di dekat Nabi ﷺ . Kemudian beliau mengatakan,

كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِى الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tahan sendawamu di hadapan kami. Karena orang yang paling sering kenyang di dunia, paling lama laparnya kelak di hari kiamat”.
(Riwayat At-Tirmidzi 2666 dan dihasankan Al-Albani).

Dalam riwayat lain, disebutkan dalam Syarh Sunah,

أقصر من جشائك

“Kurangi sendawamu”.

Dalam Tuhfatul Ahwadzi dinyatakan,

النهي عن الجشاء هو النهي عن الشبع ; لأنه السبب الجالب له

Larangan banyak bersendawa merupakan larangan untuk kenyang. Karena kenyang merupakan sebab terjadinya sendawa. (Tuhfatul Ahwadzi, 7/153)

Kenyang diperbolehkan tapi hendaknya bukan dijadikan rutinitas.

21. Minum dan makan tidak sambil berdiri.

Sabda ﷺ :

لاَ يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا

“Sungguh janganlah salah seorang dari kamu minum sambil berdiri.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (6/110-111) dari Umar bin Hamzah)

22. Tidak minum dari gelas yang retak.

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu bahwasanya ia berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشُّرْبِ مِنْ ثُلْمَةِ الْقَدَحِ وَأَنْ يُنْفَخَ فِي الشَّرَابِ

“Rasulullah ﷺ telah melarang perbuatan minum dari bahagian gelas yang retak, dan beliau juga melarang meniup ke dalam minuman.” (Riwayat Abu Dawud no. 3722. Berkata asy-Syaikh Al-Albaniy : Shahih).

23. Tidak minum langsung dari mulut ceret.

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu,

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم نَهَى عَنِ اخْتِنَاثِ اْلأَسْقِيَةِ

“Bahwasanya Rasulullah ﷺ telah melarang (minum langsung) dari mulut qirbah (tempat minuman)”. (Riwayat Abu Dawud 3720, Al-Bukhori no. 5625, 5626, Muslim no. 2023 dan Ibnu Majah no. 3418).

24. Dan masih banyak lagi adab yang lainnya seperti membersihkan makanan yang kotor, tidak makan atau minum dari bejana emas dan perak, menutup makanan atau minuman, dst.

✒️ Pemateri : Ustadz Abu Ahmad Ar Ramadhany Abdurrahman Dani Hafidzahullah

Wallahu a’lam.

Repost By :
Team Syiar Tauhid Aceh 96.1 FM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *