Tidak Mampu Mengikuti Dzikir Selama 24 Jam

Yuk Share

Oleh : Ustadz Farhan Abu Furaihan

Sungguh indah kehidupan seorang muslim yang menjaga ibadah dari pintu dzikir.

Demi Allah! Andaikata kita ingin mengamalkan seluruh dzikir yang telah datang dari nabi Allah, tidak akan ada yang mampu melakukannya. 24 jam ini penuh dengan dzikir.

Kalau yang sudah ada saja kita tidak mampu amalkan, untuk apa dibuat yang baru lagi?

Masuk masjid ada dzikir khusus, keluar dari masjid, masuk WC, keluar WC, masuk rumah dan keluar rumah, kemudian mendatangi istri, kemudian menjelang tidur yang dzikirnya tidak kalah panjang dari dzikir setelah shalat lima waktu, kemudian kalau kita terbangunkan di malam hari dan mendengar suara ayam, terdengar oleh kita gonggongan anjing ada petunjuk dari nabi doa apa yang kita baca, ketika angin datang, ketika terdengar suara petir, dzikir mau berwudhu, dzikir bangun tidur, dzikir ketika melihat buah-buahan sudah mulai matang, dzikir ketika melihat orang ditimpa musibah, dzikir setelah shalat 5 waktu, dzikir pagi petang, dzikir setelah shalat Dhuha yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan oleh para ulama, dzikir di petang hari dan yang lain-lainnya, sungguh kita tidak akan mampu menjaga itu semuanya. bahkan mungkin sebagiannya, 50% nya mungkin kita sering meninggalkan nya. Kalau bukan karena Allah yang memberikan taufik kepada kita, mungkin 3% darinya kita tidak bisa menerapkannya.

Maka kalau yang sudah ada saja tidak mampu kita terapkan, untuk apa mengada-adakan hal yang baru?

Contohnya misalkan andaikata ada yang menyatakan, “Oh, yang kita baca ini kan baik.” Baik, kita mengalah kalau itu baik. Sekarang misalkan setelah shalat 5 waktu, kan sudah ada tuntunan dzikir dari nabi, nabi mengucapkan istighfar tiga kali, setelah itu :

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Ya Allah, Engkaulah Pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.” (HR. Muslim 591, Nasai 1337, dan yang lainnya).

Kalau dia seorang imam setelah membaca ayat ini, dia langsung menghadap ke arah makmum, bukan ke kanan atau ke kiri atau ke depan. Bahkan sebagian imam ketika dzikir langsung masuk ke dalam kamar imam. begitu salam langsung hilang duduk berdzikir sendiri di dalam.

Rasulullah ﷺ setelah membaca :

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Ya Allah, Engkaulah Pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.” (HR. Muslim 591, Nasai 1337, dan yang lainnya).

Beliau menghadap ke manusia wajahnya, ini sunnah rasul.

Sebagian imam tidak mau mengamalkannya karena malu. Kalau malu jangan jadi imam, cukup menjadi makmum. Daripada kita sombong membelakangi makmum. Kita kasih punggung kita ke orang tua yang berada di belakang kita, bukankah itu kesombongan? Lebih dari itu kita tinggalkan petunjuknya Rasulullah ﷺ.

Setelah itu nabi membaca :

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan haq selain Allah. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya-lah segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala se-suatu. Ya Allah, tidak ada yang menghalangi apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau tahan. Tidaklah bermanfaat bagi pemilik kekayaan. Karena dari-Mu-lah kekayaan itu.” (Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/325 no. 844)], Shahiih Muslim (I/414 no. 593), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/371 no. 1491)).

Dan juga datang dalam beberapa riwayat tambahan :

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya seluruh kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan (pertolongan) Allah. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah. Kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujian yang baik. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir benci. (Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1272)], Shahiih Muslim (I/415 no. 594), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/372 no. 1493), dan Sunan an-Nasa-i (III/70)).

Semua itu boleh diamalkan.

Setelah itu tasbih 33 kali, Imam Ibnul Qayyim menguatkan bahwa 11 kali namun semuanya itu menjadi 33 kali, namun yang rajih kedua-duanya boleh, yang afdhol 33 kali, tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, takbir 33 kali, 99 dan menjadi genap seratus dengan kalimat berikutnya :

اَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ ْالْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan haq selain Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nyalah segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 314)] dan Shahiih Muslim (I/418/597)).

Setelah itu dia membacakan ayat kursi, setelah itu membaca 3 Qul. kalau di Maghrib dan Subuh dia membaca 3 Qul masing-masing sebanyak 3 kali, kemudian ada tambahan :

اَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

“Tiada Rabb yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dia-lah yang menghidupkan (orang yang sudah mati atau memberi roh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 10 kali) (HR. An-Nasai dalam Al Kubro 9: 44. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, sebagaimana disebut oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram.)

Dan pada shalat subuh datang riwayat dari Ummu Salamah dalam Musnad Imam Ahmad yang dishahihkan oleh Syaikh al-Albani bahwa nabi setelah shalat subuh senantiasa membaca doa :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).”

Ini paket dari nabi, kenapa kita tukar dengan “Al-Fatihah! Warahmatullah..” Al-Fatihah yang dibaca, Kenapa tidak Al-Baqarah? Lebih panjang kan lebih bagus, dua juz setengah, atau baca Al-Qur’an sampai khatam. Andaikata itu baik, kita menganggap itu baik, maka mana yang lebih baik dengan petunjuknya Rasulullah? Nabi buat panduan setelah shalat lima waktu ini yang beliau baca. Kemudian datang riwayat dari Abdullah bin Amr :

ﻳﻌﻘﺪ ﺍﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﺑﻴﻤﻴﻨﻪ

“Rasulullah ﷺ menghitung tasbihnya dengan tangan kanan”. (HR. Abu Dawud dalam Sunannya no. 1502)

ini petunjuk dan panduannya rasul, kenapa kita buat yang lain?

Bukan tidak boleh shalawat, bukan tidak boleh baca Al-Fatihah, jangan dipolitisir. kita mengajak mengamalkan Sunnah Rasul, ini paketnya nabi, tinggalkan yang lain. Ada datang dari nabi kenapa kita ambil dari yang lain? Bukankah nabi memberikan wasiat kepada kita di Haji Wada yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Tirmidzi, Abu Daud, dan Imam An Nasa’i dari Irbadh bin Sariyah, nabi bersabda :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Maka barang siapa di antara kalian yang hidup (setelah ini) akan menyaksikan banyaknya perbedaan pendapat. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat”

Baik, sekarang beranekaragam. Ada yang berzikir seperti ini setelah shalat, ada yang kalau ba’da maghrib panjang sekali, ba’diyah maghribnya bahkan ada yang meninggalkannya, bahkan ada yang melakukan ba’diyah Magrib menjelang Isya, bukan lagi ba’diyah maghrib letaknya, sudah menjadi qabliyah Isya. Isya pendek, Subuh panjang, Zuhur pangkas dzikirnya, Ashar pendek, beraneka ragam. Apa sikap seorang muslim? pesan Nabi tadi :

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

“Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku”

Nah, sekarang petunjuknya Rasulullah setelah shalat lima waktu jelas, ini, tinggalkan yang lain.

Ada yang cara umrahnya demikian dan demikian, setiap kali thawaf ada bacaan ini dan bacaan itu, perselisihan terjadi. Ada bimbingan Rasulullah?

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ

“Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin”

Apakah nabi demikian? Apakah khulafaur-rasyidin demikian? Baik, kalau tidak maka saya lebih tenang dan nyaman serta tentram dengan petunjuknya Rasulullah dan para sahabatnya daripada yang datang setelah mereka. Jelas.

“Oh, ini tujuannya baik.”

Silakan kalau Anda menilai itu baik, tapi saya yakin yang terbaik buat umat ini adalah paket yang datang dari Rasulullah, panduan yang datang dari Rasulullah ﷺ. Baik menurut anda, ya silakan! Tapi yang jelas itu sudah ada datang paket dari nabi, masa kita ambil yang lain.

Baik kalau kita amalkan doa-doa dan dzikir dzikir yang sekarang ini setelah selesai shalat 5 waktu, kita kemanakan petunjuknya Rasulullah ﷺ? Tegakah hati ini meninggalkan petunjuknya Rasulullah demi petunjuk orang lain sedangkan 23 tahun beliau memperjuangkan kita agar kita selamat dari neraka Allah? Beliau dilempar, beliau diludahi, dilempar dengan kotoran kotoran hewan, beliau dikatakan seorang yang gila, penyair, diusir, para sahabatnya terbunuh, gigi beliau pecah keluar darahnya di Perang Uhud, ketika beliau berdakwah ke thoif beliau dilempar, 23 tahun dan ini paket serta panduan dari beliau setelah shalat lima waktu kita tinggalkan karena panduan yang lain? Seperti ini seorang muslim? Seperti ini umat Nabi Muhammad yang cinta kepada Rasulullah? kita kemanakan firman Allah :

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab [33] : 21)

Oleh karena itu Sebagian ulama Salaf menyatakan :

اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة

“Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bidah.” [HR. ad-Darimi (223), al-Lalika’i (1/55, 88) dan yang selainnya. Atsar ini Shahih]

Dzikir-dzikir yang datang dari nabi yang sudah ada paket khusus jangan kita ganti. Kalau mau dzikir mutlak silakan saja, kita beristighfar kapan yang kita inginkan dengan jumlah berapapun yang kita inginkan selama kita tidak meyakini secara khusus di waktu yang khusus dan di tempat yang khusus, datang mutlak yang secara umum maka kita lakukan di mana pun.

Ditranskrip oleh Tim Syiar Tauhid Aceh dari kajian Ustadz Farhan Abu Furaihan

Lihat faedah lain disini:

Bantu Dakwah Sunnah di Serambi Mekkah. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khairan katsiran.

Yuk Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yuk Share
Yuk Share