Walimahan Pakai Musik?

Yuk Share


Oleh : Ustadz Harits Abu Naufal

Saudara-saudara kaum muslimin dan muslimat, ini juga salah satu dari tradisi orang-orang kafir yang sudah mengakar di tengah-tengah Muslimin. Ketika kita berbicara tentang tradisi Islam, maka kita akan mundur ke zaman Rasulullah ﷺ. Telah terjadi pernikahan di zaman Nabi, Rasulullah menikahi istri-istrinya, apakah pernah Rasulullah ﷺ menghidupkan musik sebagai syiar penghibur bagi orang-orang yang hadir dalam walimah tersebut? Bahkan musik itu atau penyanyi di zaman dulu adalah orang-orang rendahan, budak-budak yang mereka tidak punya strata sosial, itulah yang bernyanyi dulunya. orang-orang yang mulia mereka tidak akan pernah menghinakan dirinya dengan bernyanyi-nyanyi, karena itu bukan tradisi kita orang Islam.

Ayyuhal ikhwah rahimani wa rahimakumullah, inilah yang menjadi hal yang bisa menghancurkan muslimin ketika mereka sudah menghalalkan musik dan alat musik.

Nah kalau seandainya dalam sebuah walimahan tidak setel musik, orang akan bergumam seperti berada di kuburan karena tidak ada hiburan.

Dan mohon maaf juga terkadang acaranya dibuat di aula di bawah masjid. Berarti kan orang-orang dekat dengan masjid ini. Orang yang dekat masjid juga naudzubillah semoga Allah mengampuni dosa kita dan dosa mereka, kalau kita buat acara tidak ada musik, pisah laki-laki dengan perempuan, ini pasti akan dianggap aneh dan akan menjadi super aneh. Tidak mungkin sepertinya buat acara tidak ada musik. beginilah orang-orang kafir sudah berhasil mendidik atau menjajah kita dan menjadikan itu bagian seakan-akan tidak sah walimahan tanpa ada musik, dan ini adalah hal yang harus ditinggalkan.

Nah kita yang sudah paham dengan sunnah, kuatkan, pertahankan yang seperti ini, jauhi hal-hal yang selalu berdasarkan tidak enakan, jauhi hal yang seperti ini, sampai kapan kita hana mangat (tidak enakan)? Sampai mati? Sementara yang memberikan rezeki kepada kita Allah, yang memberikan kita segala kemudahan Allah, kenapa kemudian keinginan manusia yang kita ikuti sementara keinginan Allah tidak pernah kita gubris? Ini sebuah kekeliruan.

Kuatkan, pegang! Yang itu akan memberikan faedah kepada kita dan juga pelajaran buat saudara-saudara kita Muslimin bahwa ternyata seperti ini cara seseorang membuat acara walimahan. Tapi kalau kita terus-menerus merasa tidak enakan dengan masyarakat sehingga kita buat sebagaimana kebiasaan masyarakat, kita mendapatkan dosa, orang lain pun tidak bisa mengambil pelajaran.

Saya teringat di Banda Aceh waktu itu ada pernikahan orang yang cukup dikenal di Banda Aceh. Kebetulan anaknya beliau menikah dengan salah seorang dari teman kita. buat acaranya di Darussalam, karena memang beliau adalah orang yang dikenal di Banda Aceh, akhirnya tamu dari segala kalangan, dari pejabat, gubernur, sampai orang-orang yang seperti kita. Dipisah antara laki-laki dengan perempuan, laki-laki punya pelaminan sendiri, perempuan punya mengambil pelajaran dan ibrah. tapi orang-orang yang memang naudzubillah keadaan mereka tidak ada kecuali mencari fitnah di tengah-tengah Muslimin ya memang begitu keadaan mereka, tidak perlu kita gubris, justru merekalah yang perlu kita ajarkan, jangan kita yang mengikuti alur mereka. Terkhusus di sini bapak-bapak yang mau menikahkan anaknya, jangan ikut kebiasaan masyarakat, biasakanlah sesuatu yang baik dan jangan membiasakan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan.

Nah di awal pernikahannya sudah dengan musik, sudah dengan hal-hal yang diharamkan, kapan Allah akan memberikan keberkahan dalam rumah tangga? Kapan? di awal saja sudah sesuatu yang diharamkan oleh Allah.

Jalankan!

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ

“Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu).” (QS. Al-Hijr [15] : 94)

Jalani apa yang datang dari perintah Allah ﷻ walaupun yang melakukannya itu tokoh dari organisasi tertentu.

Ya Akhi! Mau dia tokoh atau bukan tokoh, dia itu tidak bisa untuk menyelamatkan kita kelak di yaumul qiyamah, yang kelak bisa menyelamatkan kita yaumul qiyamah adalah iman dan taqwa yang kita punya. Karena setiap seruan yang seruan tersebut tidak berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah, semua seruan tersebut hakikatnya adalah seruan setan. Jadi jangan sampai kita menyesal di hari kiamat ketika setan dikumpulkan oleh Allah dengan orang-orang yang mengikuti setan, setan pun berkata :

فَلَا تَلُومُونِى وَلُومُوٓا أَنْفُسَكُم

“Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 22)

Jadi, jadilah kita pengikut Nabi ﷺ karena selain daripada jalan yang telah ditetapkan oleh Rasul, semuanya adalah jalan setan walaupun terkadang manusia yang berjubah yang mengajaknya, walaupun terkadang orang yang berkopiah dan bersorban yang mengajaknya.

Nabi ﷺ menyebutkan dalam hadisnya :

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)

Jadi mereka berpakaian dengan A, B, dan C, ujung-ujungnya setan. Apa saja yang menyelisihi jalannya Rasulullah, menyelisihi sunnah, semuanya itu adalah jalannya setan.

فَلَا تَلُومُونِى وَلُومُوٓا أَنْفُسَكُم

“Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 22)

Terlebih Allah akan bertanya kepada kita di yaumul qiyamah,

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَآ أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ

“Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia (Allah) menyeru mereka, dan berfirman, Apakah jawabanmu terhadap (seruan) para rasul?” (QS. Al-Qashash [28] : 65)

Rasul mengharamkan musik, kalian justru membuat musik. Rasul mengharamkan kalian ikhtilat, justru kalian buat ikhtilat.

Ini harus kita pikirkan. Kalau omongan manusia, kalau semakin kencang omongan mereka kepada kita, bisa tidak dia ambil rumah kita? Bisa tidak dibubarkan acara kita? Tidak! Paling cuma omongan. Tapi kalau seandainya Allah tidak rida dengan kita, bisa saja lagi di panggung joget-joget hancur panggungnya, sering kejadian seperti ini. Ini di dunia Allah nampakkan, bagaimana lagi nanti di akhirat.

Jalani dan Jangan peduli dengan manusia kalau memang itu hak Allah ﷻ. Mudah-mudahan akan menjadi pelajaran buat mereka.

Wallahua’lam bishawab.

Ditranskrip oleh Tim Syiar Tauhid Aceh dari kajian Ustadz Harits Abu Naufal

Lihat faedah lain disini:

Yuk Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yuk Share
Yuk Share