Thu. Nov 14th, 2019

Wasiat Khusus dari Nabi Muhammad ﷺ

5 min read
Disebutkan oleh al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya al-Arba'in dan Riyadush Shalihin, bahwa ada sebuah hadits yang datang dari seorang sahabat yang bernama Abu Najih al-Irbadh bin Sariyah radhiallahu'anhu, dan diriwayatkan oleh al-Imam Abu Dawud dan al-Imam Tirmidzi.
Disebutkan oleh al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya al-Arba'in dan Riyadush Shalihin, bahwa ada sebuah hadits yang datang dari seorang sahabat yang bernama Abu Najih al-Irbadh bin Sariyah radhiallahu'anhu, dan diriwayatkan oleh al-Imam Abu Dawud dan al-Imam Tirmidzi.

Disebutkan oleh al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya al-Arba’in dan Riyadush Shalihin, bahwa ada sebuah hadits yang datang dari seorang sahabat yang bernama Abu Najih al-Irbadh bin Sariyah radhiallahu’anhu, dan diriwayatkan oleh al-Imam Abu Dawud dan al-Imam Tirmidzi.

Sebuah hadis yang sangat agung, yang mana di dalam hadis tersebut Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam menitipkan wasiat khusus dari beliau kepada beberapa sahabatnya dikarenakan permintaan mereka. Namun tentunya wasiat itu juga berlaku kepada seluruh umatnya. Di dalam wasiat tersebut beliau menjelaskan beberapa prinsip yang hendaknya dipegang dan dijalankan oleh seorang hamba terkait hubungan dengan Allah subhanahu wa taala dan dengan sesama manusia.


عَنْ أَبِي نَجِيحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: “وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ
مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا، قَالَ: أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ،
وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ”.

“Dari Abu Najih al-Irbadh bin Sariyyah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan kepada kami nasehat yang benar-benar menyentuh, hingga membuat hati bergetar dan air mata berlinang.

Lantas kami berkata: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah sebuah nasihat perpisahan, maka berilah kepada kami wasiat.

Beliau bersabda: Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, sekalipun yang memerintah kalian adalah seorang hamba sahaya, karena siapa saja di antara kalian yang hidup (panjang) sepeninggalku, akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib bagi kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang terbimbing dan mendapatkan petunjuk, berpegang teguhlah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam perkara agama) adalah bidáh, dan setiap bidáh adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi mengatakan ini hadis hasan shahih).

Dalam hadits ini Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan kepada kita beberapa perkara, beberapa perkara,

  1. Anjuran beliau kepada umatnya agar senantiasa bertakwa kepada Allah taala.
  2. Pesan beliau agar umat ini senantiasa taat dan mendengar kepada penguasa dan pemimpin mereka, sekalipun penguasa dan pemimpin mereka itu adalah seorang budak sahaya.
  3. Pesan beliau kepada para sahabat radhiallahu’anhum yang hadir di hadapan beliau bahwa siapa saja di antara mereka yang hidup panjang setelah beliau pasti akan melihat perselisihan dan perpecahan yang banyak yang terjadi di tengah-tengah umat Islam.
  4. Solusi dan bimbingan dari beliau ketika terjadi perpecahan agar mereka benar-benar berpegang teguh di atas jalan yang telah beliau tempuh, menjalankan apa yang telah mereka ketahui dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Baik terkait dimensi akidah, ibadah, maupun dimensi dan agar mereka benar-benar mengikuti petunjuk khulafaur rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiallahu’anhum).
  5. Penekanan beliau mengenai pentingnya mengikuti jalan yang telah beliau tempuh dengan sabdanya,“Gigitlah ia (sunnahku tersebut) dengan dengan gigi-gigi geraham kalian.”
  6. Peringatan akan bahayanya perkara-perkara baru yang diada-adakan di dalam agama (bid’ah), yang tidak ada anjuran dari al-Qur’an dan Hadits untuk melakukan amal ibadah tersebut, dan tidak ada contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Karena, agama Islam ini telah sempurna dengan wafatnya Rasulullah, sehingga tidak mungkin ada suatu amal ibadah baru (yang benar) setelah wafatnya Beliau.

Apabila terdapat suatu ibadah yang memang berasal dari syariat, namun ternyata ibadah tersebut tidak ada di masa Nabi, beliau tidak pernah menganjurkan dan tidak pernah pula melakukannya, maka hal ini tidak mungkin terjadi. Karena jika hal ini terjadi maka maknanya ada suatu kebaikan yang terluput dalam penyampaian Rasulullah. Kalau demikian, berarti kita telah memvonis bahwa Rasulullah telah lupa atau berkhianat sehingga beliau tidak menyampaikan amal kebaikan tersebut, sedangkan kedua kemungkinan tersebut tidak mungkin terjadi. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam memang merupakan seorang manusia yang mungkin saja mengalami lupa, akan tetapi Allah subhanahu wa taala tidak. Sehingga tidak mungkin Nabi lupa dalam menyampaikan agama-Nya, karena Allah yang menjaga Nabi Muhammad, terkhusus dalam penyampaian agama.

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

“..dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (QS. Maryam [19]: 64)

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ٠ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An- Najm [53]: 3-4)

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. al-Ma’idah [5]: 67)

Oleh karena itu, Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu menyatakan,

اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Ittiba’lah kalian dan jangan kalian berbuat bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (Riwayat ad-Darimi No. 211 dan di-shahih-kan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ta’liq beliau terhadap Kitabul Ilmi karya Ibnul Qayyim)

Hadis dari Irbadh bin Sariyah yang agung ini, banyak ulama menjelaskannya dengan beberapa lembar. Sekian lembar dari lembaran-lembaran di dalam kitab mereka terpenuhi dengan penjelasan terhadap hadis ini. Berikut beberapa pelajaran dari hadis tersebut,

  1. Keseriusan para sahabat di dalam mendengarkan penyampaian dakwah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sehingga Irbadh bin Sariyah mengatakan,

وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُون

“Hati kami bergetar dan air mata kami pun berlinang (mendengar ceramah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam).”

Para sahabat ketika mendengar ceramah dari Nabi sampai bergetar hati dan berlinang air mata. Hal ini menunjukkan keseriusan mereka ketika mendengarkan nasehat dari Nabi. Bahkan di dalam hadis Abi Dzar dalam riwayat al-Imam Tirmidzi, disebutkan bahwa ketika Rasulullah menyampaikan ceramahnya, para sahabat duduk dengan penuh adab sampai-sampai kata Abu Dzar bahwa seakan-akan di atas kepala sahabat pada waktu itu ada burung (karena tenang dan diamnya
mereka).

2. Inti dalam berdakwah adalah mengingatkan manusia agar hati mereka takut, agar mata mereka itu menangis mengingat Allah, mengingat surga dan neraka, dan alam barzakh. Karena mengingat apa yang akan mereka pertanggungjawabkan setelah meninggal dunia merupakan inti dan tujuan utama di dalam berdakwah. Itulah tujuan utama dalam berdakwah menyampaikan agama, bukan hanya untuk tertawa-tawa menghibur manusia. Sehingga sebagian masjid itu sudah menjadi seperti panggung komedi, karena bukan lagi dijadikan tempat untuk mengingat Allah.

Kata al-Imam al-Auza’i (Abdurrahman bin ‘Amr) seorang tokoh tabi’in,

عليك بآثار من سلف وأن رفضك الناس وإياك وأقوال الرجال وإن زخرفوه

“Berpeganglah dengan atsar salafus shalih meskipun seluruh manusia menolakmu dan jauhilah pendapat orang-orang (selain mereka) meskipun mereka menghiasi perkataannya terhadapmu.” (Asy-Syari’ah, hlm. 63)

Imam al-Auza’i berpesan agar hendaknya kita senantiasa mengikuti dan mendengar petunjuk-petunjuk para salaf yang bersumber Alquran, Hadis, dan ucapan para sahabat Nabi. Ikutilah itu saja, sekalipun manusia meninggalkan kita.

Ikutilah sesuatu itu jika memang benar berasal dari salaf, sesuai dengan manhajus salaf, walaupun mungkin yang menyampaikan ceramah tersebut bahasanya kurang, bahasa Indonesianya masih tidak beraturan, dan tidak pandai berorasi, ceramahnya datar begitu saja. Tetapi kalau dalam sebuah majelis isinya hanyalah pendapat-pendapat manusia, maka jangan diambil, walaupun yang menghadiri ceramah tersebut ribuan orang, tetapi kalau isinya hanya hiburan yeng mengundang gelak tawa manusia, hadis-hadis yang palsu, maka jangan kita mengikutinya.

(Diringkas oleh Tim Syiar Tauhid Aceh dari Kajian Ustadz Farhan Abu Furaihan)


Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Lihat Faedah Ilmiah Sebelumnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *