Pelaku Kesyirikan Tidak Dapat Syafaat Walaupun Sudah Bertaubat
2 min read
Pertanyaan:
Apakah syafaat masih bisa diperoleh seorang hamba yang pernah berbuat syirik, namun dia sudah bertaubat di sisa-sisa umurnya?
Jawaban:
Allah di dalam banyak ayat dan hadits Nabi-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah menyebutkan bahwasanya barangsiapa yang wafat dalam kondisi telah bertaubat, maka Allah akan membersihkan dirinya dan mengampuni dosa-dosanya. Di beberapa ayat di akhir surah Al-Furqan setelah Allah menyebutkan tentang orang-orang yang pernah menyekutukan-Nya, berzina dan membunuh, Allah mengatakan:
اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا. وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَاِنَّهٗ يَتُوْبُ اِلَى اللّٰهِ مَتَابًا
“Kecuali, orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Maka, Allah mengganti kejahatan mereka (dengan) kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan barangsiapa bertobat dan mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan [25] : 70-71)
Segala bentuk dosa tersebut digantikan menjadi pahala setelah mereka bertaubat, menyesali, meninggalkannya, dan berjanji kepada Allah untuk tidak melakukannya kembali.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لا ذَنْبَ لَهُ
“Seorang yang telah bertaubat adalah seumpama orang yang tidak berdosa.” (Dihasankan oleh Al-Albani dalam Sahih Al-Jami’ Ash-Shaghir No.3008, sebagaimana beliau sebutkan juga dalam Ad-Dha’ifah pada penjelasan hadis No.1039)
مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ الله عَلَيْهِ
“Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat maka Allah menerima tobatnya.” (HR. Muslim)
إِنَّ الله تَعَالَى يَقْبَلُ تَوْبَةَ اْلعَبْدِ مَالَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menerima taubat seorang hamba selama belum ghargharah.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, al-Baghawi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim dari hadits Ibnu ‘Umar. Dishahihkan dan disetujui oleh adz-Dzahabi dan dishahihkan pula oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Muslim (XVII/25), dan dihasankan oleh al-Albani dalam kitab Shahiih al-Jaami’ ash-Shaghiir (1899))
Ghargharah menurut para ulama memiliki dua makna, yaitu : (1) belum terlihat olehnya azab Allah yang mematikan, dan (2) nyawanya belum sampai ke kerongkongan.
إنَّ الله تعالى يَبْسُطُ يدَه بالليلِ ليتوبَ مسيءُ النَّهارِ، ويَبْسُطُ يدَه بالنَّهارِ ليتوبَ مسيءُ الليلِ، حتى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Sesungguhnya Allah -Ta’ālā- membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima tobat orang yang berbuat kesalahan di waktu siang, dan juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima tobat orang yang berbuat kesalahan di waktu malam, sampai matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim)
Allah Jalla Wa’ala juga berfirman di dalam hadits qudsi:
يا بن آدم، إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان منك ولا أبالي، يا ابن آدم لو بلغت ذنوبك عَنان السماء ثم استغفرتني غفرت لك، يا ابن آدم لو أتيتني بقُراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئاً لأتيتك بقُرابها مغفرة
“Wahai anak Adam! Selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni semua dosamu yang telah kamu lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika dosamu setinggi langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku sedikit pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi [hasan])
Allah juga berfirman:
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Az-Zumar [39] : 53)
Wallahu Ta’ala A’lam Bishawwab.
Pemateri : Ustadz Ahmad Abu Abdillah حَفِظَهُ اللهُ
Editor : Team Syiar Tauhid Aceh
