Betapa Baiknya Allah Kepada Kita
2 min read
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Hasyr [59] : 18)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِى الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian”.(HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi).
Ayat dan hadits di atas mengandung banyak hal positif. Di antaranya adalah bentuk dari besarnya rasa kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya, yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala pada ayat tersebut mengingatkan kepada kita agar melihat kembali berapa banyak bekal yang telah kita persiapkan untuk menghadapi hari persidangan di hadapan-Nya kelak.
Kalau boleh kita umpamakan, kondisi yang nanti akan kita hadapi setelah kematian adalah bagaikan sebuah persidangan tunggal yang tidak ada sidang susulan setelahnya. Artinya, apabila kita sukses di dalam persidangan yang tunggal tersebut, maka kita akan mendapatkan sebaik-baik kehidupan. Namun, ketika kita gagal di sidang tersebut, tidak ada kata ulang terhadap apa yang telah Allah tuntut kepada kita berdasarkan data yang benar-benar valid, karena Allah mengetahui apa yang kita lakukan bahkan apa yang tersembunyi di hati kita. Tidak ada data yang tidak valid, semuanya pasti benar.
وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا
“Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.”(QS. Al-Kahfi [18] : 49)
Semua ini adalah bentuk kasih sayang Allah. Allah memperingatkan kita akan hari dan keadaan pada hari tersebut. Kalau seorang guru mengingatkan murid akan adanya hari ujian beberapa waktu mendatang, belum bisa kita pastikan hal itu sebagai bentuk rasa sayangnya kepada murid. Karena seorang guru ketika mengingatkan akan adanya hari ujian kepada murid yang ia ajarkan, itu bisa jadi untuk menjaga nama baiknya sebagai guru. Karena ketika seorang guru punya murid-murid yang belajar dengannya namun ketika diuji semua muridnya gagal, sedikit banyak pasti akan berpengaruh terhadap tinjauan manusia terhadapnya sebagai seorang guru. Jadi, ada manfaat yang kembali didapat oleh guru tersebut. Namun, di ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar mengingatkan kita akan hari persidangan tersebut tanpa adanya manfaat sedikit pun yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semuanya benar-benar murni atas dasar rasa kasih sayang Allah kepada kita dan Allah menginginkan kita menjadi orang-orang yang sukses di hari tersebut.
Pemateri : Ustadz Iqbal Abu Hisyam حَفِظَهُ اللهُ
Editor : Team Syiar Tauhid Aceh
