Memaafkan Saat Mampu Membalas
1 min read
Dalam sebuah hadits yang masyhur, pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengalami hari yang sangat berat di Thaif.
Beliau dihina, ditolak, bahkan dilempari hingga berdarah. Ketika malaikat menawarkan untuk menghancurkan mereka, Rasulullah tidak membalas dengan amarah. Beliau hanya berkata :
“Aku berharap, semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya.”
Inilah puncak akhlak seorang pemaaf – mampu membalas, tapi memilih mendoakan. Memaafkan bukan berarti lemah, tapi tanda hati yang penuh kasih dan yakin bahwa keadilan Allah -subhanahu wata’ala- jauh lebih indah daripada menyimpan dendam kepada manusia.
🖊 Repost By Team Syiar Tauhid Aceh
