Sat. May 2nd, 2026

Bagaimana Cara Menghidupkan Malam Lailatur Qadar ?

2 min read

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daa’imah

Pertanyaan:

Bagaimana cara menghidupkan malam Lailatul Qadar? Apakah dengan shalat, atau dengan baca Alquran atau membaca sirah Nabi atau nasehat dan bimbingan dan mengadakan perayaan untuk itu di masjid?

Jawaban :

  1. Yang pertama :
    Dulu Rasul ﷺ bersungguh-sungguh (dalam ibadah) di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, yang tidak pernah beliau bersungguh-sungguh semisal itu di bulan lain, dengan melaksanakan shalat malam, membaca Al-Quran dan berdoa.

    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha :
    “Sesungguhnya Nabi ﷺ dulu jika memasuki sepuluh terakhir Ramadhan, beliau menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya dan mengencangkan tali pinggangnya.”

    Dalam riwayat Ahmad dan Muslim :
    “Dulu beliau ﷺ  bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir, yang tidak pernah bersungguh-sungguh pada selainnya.”
  2. Yang kedua :
    Nabi ﷺ menganjurkan untuk melaksanakan shalat malam di malam Lailatul Qadar atas dorongan iman dan mengharap pahala. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi ﷺ bersabda :
    “Barang siapa yang melaksanakan shalat malam di Lailatul Qadar atas dorongan iman dan mencari pahala, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

    Diriwayatkan oleh al-jama’ah kecuali Ibnu Majah dan hadits ini menunjukkan akan disyariatkannya menghidupkan  Lailatul Qadar dengan shalat malam.
  3. Yang ketiga :
    Diantara doa yang paling afdhal, yang dibaca di malam Lailatul Qadar, adalah apa yang Nabi  ﷺ ajarkan kepada Aisyah radhiyallahu anha.

    Imam Tirmidzi meriwayatkan dan beliau menshahihkan dari Aisyah radhiyallahu anha berkata: Aku berkata :
    “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut anda, jika saya tahu suatu malam itu adalah malam Lailatul Qadar, apa yang mesti aku baca padanya?

    Beliau menjawab : Bacalah olehmu :

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

    Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.
    “Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha pengampun, dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku.”
  4. Yang keempat :
    Adapun mengkhususkan satu malam dari bulan ramadan dan menetapkannya sebagai Lailatul Qadar, maka ini butuh kepada dalil yang menentukan itu sebagai Lailatul Qadar. Akan tetapi malam-malam ganjil sepuluh terakhir itu lebih pantas dari yang lainnya. Dan malam yang ke duapuluh tujuh, itu yang paling pantas untuk jadi lailatul qadar. Berdasarkan beberapa hadits-hadits yang menunjukkan apa yang kami sebutkan.
  5. Yang kelima :
    Adapun berbuat bid’ah, maka hukumnya tidak boleh, apakah di bulan ramadhan atau selainnya. Dan telah pasti dari Rasulullah  ﷺ bahwasanya beliau bersabda :
    “Barangsiapa yang mengada-adakan pada urusan kami ini, apa yang bukan bagian darinya, maka itu tertolak.”

    Dalam riwayat lain :
    “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan, yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.”

    Maka apa yang dilakukan pada sebagian malam-malam ramadhan, dengan mengadakan perayaan-perayaan, maka kami tidak mengetahui dasarnya.
    Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad  ﷺ dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan.
    Allah semata tempat meminta taufiq.

📑 Pertanyaan ke 8 dari fatwa no 2392

🖊 Repost By Team Syiar Tauhid Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *