Mon. Aug 24th, 2026

Amalan-Amalan Utama Di Bulan Dzulhijjah

5 min read

Di antara kemuliaan dan keutamaan bulan Dzulhijjah adalah 10 hari pertamanya memiliki kemuliaan khusus sebagaimana hari-hari di bulan Ramadhan memiliki kemuliaan yang khusus pula. Banyak ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang menyebutkan tentag hal ini, seperti firman Allah:

وَالْفَجْرِۙ. وَلَيالٍ عَشْرٍۙ

“Demi waktu fajar, dan demi malam yang sepuluh (di bulan Dzulhijjah).” (QS. Al-Fajr [89] : 1-2)

Kebanyakan ulama tafsir termasuk Ibnu Katsir -rahimahullah- menafsirkan malam yang sepuluh sebagai malam-malam di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan ini termasuk pendapat yang shahih. Allah bersumpah dengan menyebutkan malam yang sepuluh sebagai isyarat kemuliaan dan keagungan dari hari tersebut di sisi Allah. Demikian pula firman Allah:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ

“Dan (hendaknya mereka) menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj [22] : 28)

Jumhur ulama menafsirkan hari yang telah ditentukan dengan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, demikian pendapat Ibnu Umar dan Abdullah bin Abbas radhiallhu’anhum. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam juga menyebut di dalam haditsnya yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu:

أَفْضَلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَيَّامُ الْعَشْرِ، يَعْنِي : عَشْرَذِيْ الْحِجَّةِ، قِيْلَ : وَلَامِثْلُهُنَّ فِي سَبِيْلِ الله؟ قالَ : وَلَامِثْلُهُنَّ فِيْ سَبِيْلِ الله، إِلَّا رَجُلٌ عَفَّرَ وَجْهَهُ فِيْ التُّرَابِ.

“Hari-hari yang paling utama di dunia ini yaitu hari yang sepuluh, yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah”. Dikatakan kepada beliau, “Termasuk lebih utama dari jihad dijalan Allah?” Beliau menjawab, “Termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang menutup wajahnya dengan debu (mati syahid)”. (HR al-Bazzar dalam Kasyful-Astâr (II/28, no. 1128). Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh at-Targhîb wat–Tarhîb (no. 1150))

Para ulama mengaitkan pula pembahasan ini dengan keutamaan 10 malam terakhir di bulan Ramadhan, di antara 10 malam tersebut yang paling mulia adalah malam yang ganjil, dan di antara malam yang ganjil itu yang paling mulia adalah malam lailatul qadr. Adapun siang hari yang paling utama adalah siang hari di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sebagaimana yang terdapat pada hadits di atas. Disebutkan pula di dalam hadits yang datang dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, dimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ اَلْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى الله عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ. قالُوْا: يَا رَسُوْلَ الله، وَلا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ الله؟ قالَ: وَلا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ الله، إِلا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ.

“Tidak ada hari dimana suatu amal shâlih lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla  melebihi amal shâlih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah)“. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasûlullâh, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allâh?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allâh, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad) dan tidak ada satu pun yang kembali (ia mati syahid)”. (HR al-Bukhâri (no. 969), Abu Dâwud (no. 2438), at-Tirmidzi (no. 757), Ibnu Mâjah (no. 1727), ad-Dârimi (II/25), Ibnu Khuzaimah (no. 2865), Ibnu Hibbân (no. 324, at-Ta’lîqâtul-Hisân), at-Thahawy dalam Syarh Musykilil Âtsâr (no. 2970), Ahmad (I/224, 339, 346)), al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah (no. 1125), Abu Dâwud ath-Thayâlisi dalam Musnad-nya (no. 2753), Abdurazzaq dalam al-Mushannaf (no. 8121), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (no. 19771), al-Baihaqi (IV/284), dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabîr (no. 12326-12328))

Maka sangat menyayangkan menyaksikan bagaimana hari-hari ini (yakni 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah) termasuk di antara hari-hari yang kebanyakan manusia tidak peduli dengan keutamaannya. Padahal hari-hari ini memiliki beragam kemuliaan seperti adanya hari Arafah di tangggal 9 Dzulhijjah, pada hari tersebut jamaah haji melakukan wukuf di Arafah, hari dimana Allah akan mengampuni dosa hamba-hamba-Nya dan memerdekakan hamba-hamba-Nya dari neraka. Bahkan kalau saja 10 hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut tidak memiliki keutamaan kecuali disebabkan adanya hari Arafah saja, maka sudah mencukupi kemuliaan hari-hari tersebut. Lantas bagaimana jika di dalam sepuluh hari tersebut terdapat pula hari Nahr (idhul adha; hari raya penyembelihan), termasuk pula hari dimana jamaah haji melaksanakan amalan-amalan seperti melempar jumrah, tawaf ifadah, wukuf di Mina dan menyembelih hadyu. Pada hari tersebut kaum muslimin yang tidak sedang berhaji pun melaksanakan shalat ‘Ied dan menyembelih qurban. Sungguh banyak keutamaan dan kemuliaan pada 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Ibnu Hajar menyatakan pula bahwa di hari-hari tersebut terdapat keistimewaan-keistimewaan yang tidak terdapat pada hari-hari lainnya, yakni berkumpulnya inti daripada semua ibadah; puasa pada hari Arafah, shalat ‘ied di hari ke-10 Dzulhijjah, sedekah dalam bentuk qurban dan menyembelih hadyu, serta pada hari itu terdapat ibadah haji yang tidak terdapat pada hari lainnya.

Oleh karena itu, jangan sampai persiapan kita dalam meraih keutamaan di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini tidak setinggi semangat kita dalam menyambut 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Karena Allah telah memberikan kasih sayang-Nya untuk kita pada hari-hari ini, beribadah sejenak namun diberikan pahala yang berlipat ganda. Di antara persiapan serta amalan yang dapat kita lakukan antara lain:

1. Taubat yang Jujur

Setiap muslim ketika menyambut hari-hari ketaatan, hendaknya dimulai dengan bertaubat yang jujur kepada Allah dan berniat kuat untuk kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:

وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24] : 31)

2. Niat yang Kuat Untuk Memperbanyak Ibadah Kepada Allah

Hendaknya seorang muslim bersemangat dengan semangat yang kuat untuk menghidupkan hari-hari ini dengan amalan-amalan salih serta ucapan-ucapan yang baik. Karena Allah akan memudahkan jalan bagi orang yang berniat sungguh-sungguh menjalankan ketaatan pada-Nya.

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut [29] : 69)

3. Menjauhkan Diri Dari Maksiat

Sebagaimana ketaatan merupakan sebab dekatnya seorang hamba dengan Allah, maka maksiat juga merupakan sebab jauhnya ia dari Allah beserta rahmat-Nya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menginginkan pengampunan dan dijauhkan dari neraka, hendaknya menjauhi maksiat khususnya pada hari-hari yang mulia ini. Para sahabat Nabi telah berusaha semaksimal mungkin dalam melaksanakan ketaatan di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, maka orang yang justru bermaksiat pada hari-hari tersebut menunjukkan remehnya keinginannya terhadap akhirat.

Maka bersemangatlah wahai saudaraku untuk beribadah semaksimal mungkin pada hari-hari ini dan sambutlah hari tersebut dengan sambutan yang baik dengan beribadah, sebelum kesempatan itu hilang darimu dan engkau menyesal. Allah akan tampakkan amalan orang-orang yang beribadah di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, lalu ketika seseorang melihat catatan amalannya tidak terdapat ibadahnya pada hari tersebut, ia akan menyesal. Padahal jika ia beribadah di hari-hari tersebut, niscaya dirinya diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Adapun amalan yang dapat dilakukan di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah seperti membaca Al-Qur’an, beristighfar, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturahmi, menyebarkan salam, memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan, mendamaikan manusia yang saling bermusuhan, mengajak manusia kepada perkara yang ma’ruf, mencegah kemungkaran, menjaga lisan dan kemaluan, berbuat baik pada tetangga, memuliakan tamu, berinfak di jalan Allah misalnya dengan membantu pembangunan masjid dan membantu anak yatim serta para penuntut ilmu, membantu menyebarkan dakwah dan kebaikan, menafkahi keluarga, mendatangi orang sakit, menunaikan hajat orang yang sedang ditimpa kesulitan, memperbanyak shalawat kepada Nabi, tidak mengganggu muslimin dan bersikap lembut kepada mereka, menyambung persahabatan dan senantiasa membantu orang-orang yang dulu juga bersahabat dengan kedua orang tua kita, berdoa untuk saudara kita secara tersembunyi, menunaikan amanat dan tidak berkhianat, menjaga pandangan, dan beragam amal ketaatan lainnya, karena semuanya akan dilipatgandakan oleh Allah pada hari-hari ini. Apabila hal tersebut sudah menjadi kegiatan yang menjadi amalan kesehariannya, hendaknya seseorang menambah semangatnya dalam menjalankan ketaatan-ketaatan tersebut.

Pemateri : Ustadz Harits Abu Naufal حَفِظَهُ اللهُ

Editor : Team Syiar Tauhid Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *