Tue. Jun 16th, 2026

Ghuluw Akar Kekufuran Umat Terdahulu

2 min read

Makna Ghuluw

Para ulama menjelaskan bahwa ghuluw artinya adalah melampaui batas dalam sikap atau keyakinan, terutama dalam perkara agama. Sikap ini bisa terjadi dalam berbagai hal, termasuk dalam ibadah dan dalam memperlakukan orang-orang shalih. Contohnya:

  • Melampaui batas syariat yang telah ditetapkan oleh Allah.
  • Berlebihan dalam menjalankan amalan sunnah.
  • Menolak rukhshah (keringanan) yang sebenarnya disyariatkan.
  • Melampaui batas dalam memuji orang shalih, hingga menganggap mereka layak disembah (uluhiyyah).
  • Menganggap mereka sebagai pengatur alam semesta (rububiyyah).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata:

“Bab tentang sebab utama kekafiran adalah ghuluw dalam mengagungkan orang-orang shalih.”

Dalil dari Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman:

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” [QS. An-Nisa: 171]

Penjelasan para ulama:

  1. Ayat ini ditujukan kepada Yahudi dan Nasrani yang telah berlebihan dalam memuliakan nabi dan orang-orang shalih mereka.
  2. ⁠Kaum Nasrani sesat karena berlebih-lebihan terhadap Nabi Isa ‘alaihis salam, hingga menganggapnya sebagai Tuhan dan ma’shum dari kesalahan.
  3. Kaum Yahudi menyimpang karena menyatakan ‘Uzair adalah anak Allah.
  4. Umat Islam diperingatkan agar tidak meniru mereka.

Sebagaimana dikatakan para ulama:

⁠“Barang siapa yang memuji secara berlebihan kepada Nabi atau orang shalih yang telah wafat, maka ia telah meniru perbuatan Yahudi dan Nasrani.”

Dalil dari Riwayat Shahih

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالُوْا لَا تَذَرُنَّ اٰلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّلَا سُوَاعًا ەۙ وَّلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسْرًاۚ

“Dan mereka berkata: Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu, dan janganlah kamu meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.” [QS. Nuh: 23]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan:

“Mereka adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada kaumnya agar membuat patung mereka di tempat pertemuan, dan menamakannya dengan nama-nama tersebut.”

Awalnya, patung-patung itu hanya dijadikan simbol penghormatan. Namun setelah generasi pertama meninggal dan ilmu agama dilupakan, patung-patung itu akhirnya disembah.

📝 Kesimpulan

Sikap ghuluw terhadap orang-orang shalih merupakan akar utama kesyirikan dan kekufuran yang menjangkiti umat-umat terdahulu.Oleh karena itu, umat Islam diperingatkan agar tidak terjerumus pada kesalahan yang sama, dengan cara :

  1. Menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan syariat.
  2. Tidak memuji atau mengagungkan orang-orang shalih secara berlebihan.
  3. Tidak memuji atau mengagungkan orang-orang shalih secara berlebihan.

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ.

“Dan jauhilah kalian oleh sikap ghuluw dalam agama. Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena ghuluw dalam agama.” [HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah – shahih]

📻 Ringkasan Kajian Rabu Petang
🗓️ 13 Muharram 1447 H / 09 Juli 2025
📍 Studio Radio Syiar Tauhid Aceh
🎙️ Bersama: Ustadz Tanthowi Abu Muhammad
🖊 Penulis : Team Syiar Tauhid Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *