Mengapa Hidayah Dapat Dicabut Dari Seorang Hamba
2 min read
Pertanyaan:
Mengapa hidayah dapat dicabut dari seorang hamba, bahkan ada yang sampai murtad (keluar dari Islam)? Adakah kiat agar kita tetap berada di dalam hidayah Allah? Jazakallahu khairan.
Jawaban:
Hidayah adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Allah lah yang dapat membolak-balik hati seorang hamba. Sebagaimana doa yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sering panjatkan:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau mengkhawatirkan kami dalam keadaan kami beriman kepadamu dan kepada apa yang datang kepadamu?”
Maka nabi menjawab :
نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ
“Ya! Sesungguhnya hati (para hamba) itu berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki!” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi 2140)
Merupakan hikmah bahwasanya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mengetahui siapa yang pantas berada dalam keislaman dan siapa pula yang tidak pantas berada di atasnya. Tetapi hendaknya kita tetap berusaha agar hidayah itu dapat terus kita pegang teguh sampai bertemu dengan-Nya.
Tentu ada sebab-sebab yang dapat membuat seseorang lari dari hidayah, di antaranya adalah dosa, mulai dari dosa kecil hingga beranjak kepada dosa yang lebih besar, yang mana ketika dosa-dosa itu terus-menerus dilakukan, maka hati seorang hamba itu menjadi semakin gelap dan menjadikannya lebih condong kepada kekufuran. Begitu juga dengan pergaulan dengan teman-teman yang tidak baik, apalagi pergaulan yang intents dengan orang-orang non muslim atau orang yang memiliki syubhat pada pemikirannya, misalnya bahwa semua agama itu sama, tidak ada kebenaran yang absolut bahkan Al-Qur’an pun dikatakannya bisa salah, semua hal ini kita khawatirkan akan memalingkan seseorang dari hidayah.
Ketika kejahilan tidak diiringi dengan keinginan untuk belajar menuntut ilmu, maka saat syubhat terbaca dan terdengar dalam kondisi pemikiran-pemikiran batil banyak berseliweran di mana-mana, maka tidak ada pegangan yang mampu menyelamatkan seseorang itu dari kemurtadan. Akhirnya karena kejahilan ini pula, mimpi pun dapat menjadi sebab ia keluar dari agama. Sebab Islam yang dimiliki bukanlah yang dibangun di atas ilmu, tapi hanya atas dasar keturunan secara turun-temurun yang diwariskan kepadanya.
Maka kebalikannya, agar kita dapat istiqamah di atas hidayah, kita banyak berdoa kepada Allah, mencari teman-teman yang baik, senantiasa menuntut ilmu agama, tidak dekat-dekat dengan orang-orang yang memiliki pemikiran-pemikiran menyimpang agar Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyatukan hati kita dengan mereka di dalam penyimpangan.
Wallahu ta’ala a’lam bishawwab.
Pemateri : Ustadz Harits Abu Naufal حَفِظَهُ اللهُ
