Penyimpangan Syiah Di Bulan Muharram
3 min read
Pada hari ‘Asyura tanggal 10 Muharram, ketika kaum muslimin berpuasa dalam rangka beribadah kepada Allah, ada sekelompok kaum yang beribadah di hari tersebut dengan menyelisihi ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam sebuah haditsnya:
ليس مِنَّا من ضرب الْخُدُودَ، وشَقَّ الْجُيُوبَ، ودعا بِدَعْوَى الجاهلية
“Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliah (meratap).” (Muttafaqun ‘alaih)
Hal inilah yang dilakukan oleh orang-orang Syi’ah Rafidhah dalam rangka memperingati 10 Muharram (‘Asyura) sebagai hari wafatnya Husein bin ‘Ali radhiallahu’anhuma. Mereka membacakan syair-syair yang menceritakan peristiwa pembunuhan Husein yang sebagiannya benar namun sebagiannya lagi berisi kedustaan. Hal yang mereka inginkan dari pembacaan syair-syair tersebut tidak lain kecuali kebatilan. Mereka ingin menampakkan dengan kedustaan mereka bahwa Ahlussunnah berserikat dalam membunuh Husein radhiallahu’anhu. Padahal Ahlussunnah mengutuk orang-orang yang membunuh Husein radhiallahu’anhu.
Tidak ada Ahlussunnah yang merasa senang dan bahagia ketika Husein dibunuh oleh orang yang zalim. Seandainya ada orang yang mengaku Ahlussunnah namun bahagia dengan terbunuhnya Husein, maka diragukan klaim Ahlussunnahnya, atau ia hanya penyusup yang sengaja ingin menjelekkan citra Ahlussunnah wal Jama’ah.
Apabila kafir dzimmi yang dilindungi pemerintah muslimin dibunuh, Ahlussunnah pasti mengutuk hal tersebut. Lalu bagaimana lagi jika yang terbunuh itu adalah putra dari putri yang paling dicintai Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam?
Namun pada hari ‘Asyura ketika muslimin berpuasa, Syi’ah Rafidhah justru melakukan ritual memukuli diri mereka, mencabik-cabik kulit mereka dengan benda tajam, seolah mereka melakukannya atas dasar kecintaan yang sangat mendalam terhadap Husein dan ahli bait Rasulullah, seakan mereka siap melukai badan agar dapat merasakan sakit sebagaimana yang ditanggung oleh Husein radhiallahu ‘anhu. Namun segala sesuatu itu tidak hanya ditimbang dengan akal dan perasaan semata. Bahkan ahlul bait Rasulullah juga tidak memerintahkan demikian, orang-orang yang mencintai Husein dari kalangan sahabat dan ahlul bait tidak pernah melukai diri untuk meratapi wafatnya Husein di hari ‘Asyura. Padahal kecintaan mereka kepada Husein dan ahlul bait melebihi kecintaan orang-orang Syi’ah. Oleh karenanya perbuatan Syi’ah Rafidhah tersebut tidak lain disebabkan kejahilan tentang agama atau untuk menipu orang-orang yang awam dari kalangan muslimin.
Bahkan apabila logika digunakan dalam penetapan syariat Syi’ah Rafidhah yang satu ini, akan muncul pertanyaan, kenapa hanya di hari kewafatan Husein di 10 Muharram saja mereka melukai diri? Kenapa mereka tidak melukai diri mereka di hari wafatnya ‘Ali radhiallahu’anhu? Bukankah ‘Ali lebih mulia dari Husein di mata mereka maupun Ahlussunnah? Bukankah ‘Ali juga syahid terbunuh sebagaimana Husein? Ini adalah pertanyaan yang menunjukkan bahwa agama yang dibangun oleh Syi’ah adalah agama yang tidak berada di atas kaidah yang benar, sehingga amalan mereka saling bertolak belakang antara satu dengan yang lainnya.
Oleh karenanya penting bagi kita untuk belajar, membaca buku-buku para ulama yang menjelaskan tentang kelompok Syi’ah ini. Karena orang yang memuliakan ‘Ali, Husein, Fatimah dan ahlul bait Rasulullah tidak bisa langsung disebut sebagai Syi’ah. Karena orang-orang tersebut memang mulia dan harus dimuliakan. Kecuali ada yang mengatakan bahwa seharusnya ‘Ali yang lebih berhak menjadi khalifah dibanding Abu Bakar, dan Abu Bakar dikatakan merebut kekhalifahan dari ‘Ali, ini adalah pertanda seseorang itu Syi’ah atau terkena syubhat dari pemikiran Syi’ah.
Begitu pula jika ada yang mengatakan Husein dizalimi oleh Yazid bin Mu’awiyah. Walaupun Yazid pada saat itu tidak terlibat langsung dalam peristiwa pembunuhan Husein, akan tetapi tentara-tentaranya yang telah membunuh Husein di bawah pimpinan Ziyad bin ‘Ubaidillah. Kalimat ini tidak mensinyalir seseorang sebagai Syi’ah. Akan tetapi jika seseorang mengatakan bahwa Ahlussunnah adalah orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Husein radhiallahu’anhu, maka ia tersinyalir masuk dalam kelompok Syi’ah atau tersyubhati dengan pemikiran Syi’ah. Karena Ahlussunnah berlepas diri dan tidak rida dengan pembunuhan tersebut.
Semoga Allah selamatkan kita dan kaum muslimin dari pemikiran dan amalan Syi’ah yang tidak berperikemanusiaan. Bahkan mereka sanggup melukai anak-anak mereka yang masih bayi dengan dalih sebagai wujud kecintaan mereka terhadap Husein radhiallahu’anhu di hari ‘Asyura.
Wallahua’lam bishawwab.
Pemateri : Ustadz Harits Abu Naufal حَفِظَهُ اللهُ
Editor : Team Syiar Tauhid Aceh
