Sun. Apr 19th, 2026

Pasangan Hidup Yang Sekufu’ Adalah Anugerah Terindah

2 min read

الحقيقة أنّ الزواج بالشريك الصحيح، يُعتبر من أعظم النِّعم على الإطلاق

Sesungguhnya, pernikahan dengan pasangan yang tepat adalah salah satu nikmat terbesar yang tak ternilai

نعمةُ الوَنس والصُّحبة لا تُقارَن، الزواج أفضل علاقة إنسانيّة يُمكن أن تجعل الإنسان أخفّ نفساً، وأطيب روحاً، وأكثر التفاتاً للحياة

Nikmatnya teman hidup dan kebersamaan tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Pernikahan merupakan ikatan kemanusiaan terbaik yang mampu membuat jiwa terasa lebih ringan, hati lebih lembut, dan pandangan terhadap kehidupan lebih lapang serta penuh makna

فجلسةٌ واحدة مع شخصٍ بينكما تناسُبٌ روحيٌ تُعادِل ألف جلسة مع طبيبٍ نفسي، ما تفعله تلك المجالس من تطبيبٍ للمزاج وأنسٍ في القلوب واعتدال في السلوك لا يُمكننا وصفه، ولا يوجد له مثيل في سائر المجالس

Satu kali duduk bersama pasangan yang ada keserasian ruhani denganmu, nilainya sebanding dengan seribu kali duduk dihadapan seorang psikolog. Sebab, majelis-majelis kebersamaan itu mampu menyembuhkan suasana hati, menumbuhkan kehangatan didalam jiwa, dan menata kembali perilaku dengan keseimbangan yang indah, sesuatu yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata dan tak ada tandingannya dalam majelis lainnya

Bolehkah wali wanita menunda pernikahan putrinya sampai mendapatkan yg sekufu’ ?

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimin رحمه الله تعالى ditanya :

هل يلام الولي أو يأثم إذا تأخر زواج ابنته؛ لأنه لم يتقدم إليها من يرضى دينه وخلقه؟ وهل يجوز له أن يبحث لها عن زوج كفء لها؟ وهل بحثه لها عن زوج يعتبر منقصة له ولها؟ جزاكم الله خيراً.

“Apakah dicela atau berdosa apabila wali wanita menunda pernikahan anaknya, karena belum ada yang meminang anaknya pria yang memiliki agama dan akhlaq yang baik ?

Dan apakah boleh bagi wali untuk mencarikan buat anaknya suami yang sekufu’ dengannya ?

Dan apakah perbuatan wali si wanita tergolong ‘aib bagi wali dan putrinya ?”

Beliau رحمه الله menjawab :

إذا تأخر تزويج الرجل ابنته؛ لأنه لا يتقدم إليها من يرضى دينه وخلقه فإنه ليس بآثم؛ لأن هذا التأخر لمصلحة المرأة، فإن من لا يرضى دينه وخلقه سيكون نكبة على الزوجة في المستقبل، إما أن يصدها عن دينها، وإما أن يعاشرها معاشرة سيئة تذوق منه الحرين، فتأخير تزويجها انتظاراً لخاطب كفء ليس فيه إثم بل هو عين المصلحة، ولا يعد الولي آثماً بذلك.

“ Apabila seseorang menunda untuk menikahkan anak perempuannya karena sebab ketidak cocokan dari segi agama dan akhlaqnya maka ini bukanlah suatu dosa ; karena penundaan ini untuk kemaslahatan anak nya, karena orang yang tidak sesuai agama dan akhlaqnya akan menjadi bencana bagi sang istri dikemudian hari .

Bisa jadi sang suami melarang istrinya dari agamanya, atau dia mempergaulinya dengan pergaulan yang jelek yang keduanya akan dirasakan panas, maka menunda pernikahannya karena menanti pria yang meminang yang sekufu’ tidak ada dosa padanya bahkan itu semata-mata karena kemaslahatan, dan wali tidaklah tergolong berdosa dengan itu.

وأما الفقرة الثانية: وهي بحث الولي عن زوج كفء فإن هذا من السنة؛ فإن عمر بن الخطاب رضي الله عنه عرض ابنته حفصة على عثمان بن عفان رضي الله عنه ليتزوجها، فقال: إنه لا رغبة له في النكاح، ثم عرضها على أبي بكر فردها، قال: لا أريدها، ثم إن النبي صلى الله عليه وسلم خطبها، فلما خطبها النبي عليه الصلاة والسلام أخبر أبو بكر عمر بأنه إنما رده عرضه؛ لأنه كان قد سمع النبي صلى الله عليه وسلم يذكرها، فرد ذلك تأدباً مع الرسول صلى الله عليه وسلم، واحتراماً له، وإلا ففي ظني أنه ما كان يرد عمر بن الخطاب رضي الله عنه حين عرض عليه ابنته، لكن احتراماً لرسول الله صلى الله عليه وسلم تركها، والرسول عليه الصلاة والسلام ما خطبها ولكن تحدث عنها، وفهم أبو بكر أنه يريد أن يخطبها، فهنا عرضها على رجلين، فعرض الرجل ابنته على أهل الخير من الخير، وليس فيه منقصة بل فيه منقبة للإنسان.

Adapun point kedua : yaitu sang wali mencarikan pria yang sekufu’ maka hal ini termasuk sunnah ; karena sejatinya ‘Umar Ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu menawarkan putrinya, Hafshah, kepada ‘Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu untuk menikahinya, maka dikatakan : “ Sesungguhnya dia tidak memiliki keinginan untuk menikah ”,

Kemudian ditawarkan kepada Abu Bakar dan beliau menolaknya, beliau katakan : “ Aku tidak menginginkannya ”, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminangnya, dan tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminangnya Abu Bakar memberitahukan kepada ‘Umar karena sesungguhnya alasan beliau menolak tawarannya ; karena beliau telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya, maka beliau pun menolak tawaran tersebut sebagai bentuk adab kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebagai bentuk penghormatan baginya, dan jika tidak demikian maka menurut perasaanku bahwa beliau tidak akan menolak tawaran ‘Umar Ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu ketika ditawarkan putrinya kepada beliau, akan tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau tinggalkan,

Dan Rasul ‘alaihis shalatu was salam belum meminangnya akan tetapi baru menyebutkan tentang Hafshah, dan Abu Bakar faham bahwa beliau ingin meminangnya, maka disini Umar menawarkan kepada dua orang pria, kemudian beliau tawarkan putrinya kepada orang baik dari yang terbaik, dan tidak ada padanya ‘aib bahkan itu adalah kepribadian yang bagus bagi seseorang.

【 المصدر: سلسلة اللقاء الشهري > اللقاء الشهري : 20 】
فتاوى المرأة
النكاح والطلاق > شروط النكاح
رابط المقطع الصوتي

رزق الله تعالى كل فتاةٍ صالحةٍ زوجاً صالحاً، ورزق كل شابٍّ صالحٍ زوجةً صالحةً

Semoga Allah menganugerahkan kepada setiap wanita shalihah seorang suami yang shalih, dan menganugerahkan kepada setiap pemuda shalih seorang istri yang shalihah …

http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/mm_020_04.mp3

🖊 Repost By Team Syiar Tauhid Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *