Simpanan Surga yang Terlupakan
2 min read
Simpanan Surga yang Terlupakan: Kalimat Laa Hawla wa Laa Quwwata illa Billah
Hadits dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,
وَعَنْ أَبِي مُوسَى اَلْأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: يَا عَبْدَ اَللَّهِ بْنَ قَيْسٍ! أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ اَلْجَنَّةِ؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ.
“Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku:
“Wahai Abdullah bin Qais (nama Abu Musa Al Asy’ari), maukah aku tunjukkan kepadamu satu simpanan dari beberapa simpanan surga?” (Yaitu): ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billah’ (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kehendak Allah). [Muttafaq ‘alaih, HR. Bukhari no. 4205 dan Muslim no. 2704]
Makna dan Kandungan Kalimat yang Agung Ini
Disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam penjelasannya dari hadits diatas, bahwa :
Kalimat “Laa hawla wa laa quwwata illa billah” adalah kalimat yang sangat mulia. Ia menunjukkan betapa seorang hamba tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun tanpa pertolongan dan kehendak dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika seseorang mengucapkan kalimat ini dengan penuh keyakinan, maka akan timbul dalam hatinya sifat rendah hati dan tunduk kepada Allah. Ia menyadari bahwa kekuatan, kemampuan, harta, dan jabatan yang dimilikinya bukanlah hasil usahanya semata, melainkan semata-mata karena izin dan pertolongan dari Allah.
Tanpa itu semua, bahkan untuk mengangkat sebelah kaki pun ia tidak akan mampu.
Maka tidak pantas bagi seorang hamba untuk menyombongkan diri di muka bumi ini. Barang siapa yang memiliki kelebihan, hendaknya ia menyandarkan segala nikmat itu kepada Dzat yang Maha Memberi, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pelajaran Indah dari Akhlak Rasulullah ﷺ
Pelajaran lain yang sangat berharga dari hadits ini adalah cara Nabi ﷺ menyampaikan nasihat. Beliau tidak langsung mengucapkan kalimat tersebut, tetapi terlebih dahulu bertanya kepada Abu Musa:
“Maukah aku tunjukkan kepadamu…”
Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ ingin agar sahabatnya siap menerima nasihat tersebut dengan hati yang terbuka.
Ini adalah adab dalam menyampaikan ilmu dan nasihat: mempersiapkan hati pendengar terlebih dahulu agar lebih mudah menerima dan mengamalkannya.
Kalimat Pengharapan dan Perlindungan
Kalimat ini juga merupakan bentuk permohonan dan harapan kepada Allah.
Bahkan dalam riwayat tambahan dari Imam an-Nasa’i disebutkan:
َلَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ
“Tidak ada tempat berlindung dari (takdir) Allah kecuali kepada-Nya.”
Sungguh, hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dan perlindungan.
Dalil Pendukung dari Al-Qur’an
Sebagaimana firman Allah:
إِذَا أَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ
“Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya.”. [Ar-Ra’d: 11]
Ini semakin mempertegas bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak dan kuasa Allah.
Tidak ada daya dan upaya untuk menghindar dari takdir-Nya kecuali dengan pertolongan dari-Nya pula.
📝 Kesimpulan:
Marilah kita memperbanyak mengucapkan “Laa hawla wa laa quwwata illa billah” dalam kehidupan sehari-hari.
Kalimat ini bukan hanya zikir, tapi juga pernyataan tauhid, pernyataan tunduk, dan pengakuan bahwa segala kekuatan adalah milik Allah semata.
Wallahu A’lam.
📻 Ringkasan Kajian Senin Petang
🗓️ 14 Muharram 1447 H / 07 Juli 2025
📍 Studio Radio Syiar Tauhid Aceh
🎙️ Bersama: Ustadz Adam Abu Rifqi
🖊 Penulis : Team Syiar Tauhid Aceh
