Sun. Apr 19th, 2026

Berpegang Teguh pada al-Qur’an dan Sunnah

9 min read
Berpegang teguh pada alquran dan sunnah

Di dalam Shahih Bukhari, di dalam kitab al-I’tisham bil Kitabi wa as-Sunnah, dalam bab yang pertama, bab Ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi bersabda,

بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ

Aku diutus Allah dengan membawa jawâmi’ul kalim.”(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Jawâmi’ul kalim, para ulama menyebutkan ada dua maknanya, yang pertama maksudnya adalah ucapan yang ringkas tapi memiliki makna yang sangat dalam.

Para ulama lughah menyebutkan,

انه كان النبي صلى الله عليه وسلم يتكلم بالقول الموجز القليل اللفظ الكثير المعاني

“Jadi ucapannya itu ringkas, pendek, dan padat, tapi penuh dengan makna.”

Makna yang lain dari jawâmi’ul kalim adalah al-Qur’an. Namun, yang lebih dekat kepada kebenaran adalah makna yang pertama, disebabkan datang riwayat-riwayat lain yang menyebutkan bukan dengan lafadz jawâmi’ tapi dengan lafadz mafatih.

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَبَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُتِيتُ بِمَفَاتِيحِ خَزَائِنِ الْأَرْضِ فَوُضِعَتْ فِي يَدِي قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَبَلَغَنِي أَنَّ جَوَامِعَ الْكَلِمِ أَنَّ اللَّهَ يَجْمَعُ الْأُمُورَ الْكَثِيرَةَ الَّتِي كَانَتْ تُكْتَبُ فِي الْكُتُبِ قَبْلَهُ فِي الْأَمْرِ الْوَاحِدِ وَالْأَمْرَيْنِ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami (Sa’id bin ‘Ufair) telah menceritakan kepada kami (al-Laits) telah menceritakan kepadaku (Uqail) dari (Ibnu Syihab) telah mengabarkan kepadaku (Sa’id bin Musayyab), bahwasanya (Abu Hurairah) mengatakan, ‘aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Aku diutus dengan membawa jawami’ kalim, dan aku diberi pertolongan dengan rasa takut yang dihujamkan dalam dada-dada musuhku, dan ketika aku tidur, aku diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi, dan diletakkan pada kedua tanganku.’ Abu Abdullah mengatakan ‘dan sampai berita kepadaku bahwa makna jawami’ kalim ialah, Allah menghimpun sekian banyak masalah yang pernah ditulis dalam kitab-kitab suci sebelumnya dalam satu masalah atau dua masalah, atau seperti itu’.”(HR. Bukhari No. 6496)

Sa’id ibnul Musayyab adalah menantu dari Abu Hurairah. Oleh karena itu beliau banyak mengambil ilmu dari Abu Hurairah, sehingga beliau mendapatkan gelar sayyidu at-tabi’in (tuannya para tabi’in).

Dalam riwayat yang lain dikatakan,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ الْعِجْلِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطُّفَاوِيُّ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَبَيْنَمَا أَنَا نَائِمٌ الْبَارِحَةَ إِذْ أُتِيتُ بِمَفَاتِيحِ خَزَائِنِ الْأَرْضِحَتَّى وُضِعَتْ فِي يَدِي قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَذَهَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْتُمْ تَنْتَقِلُونَهَا

Telah menceritakan kepada kami (Ahmad bin Al Miqdam Al ‘ijli) telah menceritakan kepada kami (Muhammad bin Abdurrahman ath-Thufawi) telah menceritakan kepada kami (Ayyub) dari (Muhammad) dari (Abu Hurairah) mengatakan, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Aku diberi kunci-kunci al-kalim, aku diberi pertolongan dengan ketakutan yang dihujamkan ke dalam dada musuh-musuhku, ketika aku tidur tadi malam, tiba-tiba aku diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi hingga diletakkan dalam tanganku.’ Abu Hurairah mengatakan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas pergi sedang kalian memindahkannya’.”(HR. Bukhari no. 6483)

Ini menguatkan tafsir yang menyebutkan bahwa jawami’ adalah ucapan yang ringkas tetapi memiliki makna yang sangat dalam.

Kemudian dalam hadits tersebut Nabi juga mengatakan,

وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ

Aku diberi pertolongan dengan ketakutan yang dihujamkan ke dalam dada musuh-musuhku.”

Di dalam riwayat yang lain dari hadits Jabir ibn Abdillah disebutkan tambahan faedah,

نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ

Saya dimenangkan dengan ketakutan (musuh) dalam perjalanan sebulan.”(HR. Bukhari no. 335 dan yang lainnya)

 

Sebelum sampai bertemu dengan Nabi, kurang lebih satu bulan, musuh sudah takut. Ini adalah pertolongan atau kelebihan yang Allah berikan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَبَيْنَمَا أَنَا نَائِمٌ الْبَارِحَةَ إِذْ أُتِيتُ بِمَفَاتِيحِ خَزَائِنِ الْأَرْضِ

Ketika aku tidur, tiba-tiba aku diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi.

Apa yang menjadi mimpi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sesuatu yang benar terjadi. Berbeda dengan mimpi-mimpi kita, terkadang benar dan akan terjadi, terkadang hanya merupakan mimpi dari setan dan sekedar bunga tidur.

حَتَّى وُضِعَتْ فِي يَدِي

Hingga diletakkan dalam tanganku.

Artinya semua berada di dalam jangkauan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَذَهَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَوَأَنْتُمْ تَنْتَقِلُونَهَا

Abu Hurairah mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas pergi sedang kalian memindahkannya(mencampakkannya).

Di sini al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan,

“Mereka memanfaatkan, mengambil, mencampakkannya, tidak menjaganya.

Kalian mendapatharta,lalukalian buang dengan berfoya-foya dalam sesuatu yang tidak ada faedahnya, setelah kalian kumpulkan harta itu semuanya.

Hadis menggambarkan kepada kita,

Pertama, inti dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bab yang beliau buat,

بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ

Aku diutus Allah dengan membawa jawâmi’ul kalim.

Keterkaitan jawâmi’ul kalim dengan apa yang dibahas di dalam kitab al-I’tisham bil Kitabi wa as-Sunnah adalah jawâmi’ul kalim yang dibawa oleh Nabi itulah Sunnah, itulah al-Qur’anul Karim, itulah sesuatu yang kalau kita berpegang teguh dengannya maka kita akan mendapatkan petunjuk, sedang kalau kita berpaling darinya maka kita akan mendapatkan kesesatan.

Maka dengan makna ini lebih dekat kepada tafsir yang kedua, bahwa yang dimaksud dengan jawâmi’ul kalim adalah al-Qur’an dan ini menguatkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang jawami’ul kalim.

Dua makna ini semuanya bisa benar. Apakah maknanya al-Qur’anul Karim, ataukah maknanya adalah ucapan yang pendek tetapi padat maknanya. Namun, bab yang disebut oleh al-Imam al-Bukhari lebih mencocoki makna yang kedua.

 

Hadits yang kedua,

ما من الأنبياء نبي إلا أعطي ما مثله آمن عليه البشر، وإنما كان الذي أوتيت وحيا أوحاه الله إلي، فأرجو أن أكون أكثرهم تابعا يوم القيامة

Tidak ada dari seorang Nabi pun yang Allah utus kecuali ia telah diberi apa yang dengannya manusia akan beriman, dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku, maka aku berharap menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya pada hari kiamat.” (HR.Bukhari, dari hadis Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu)

Hadis yang kedua ini intinya adalah apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan bahwa beliau mendapatkan wahyu dari Allah, yaitu al-Qur’anul Karim yang itu adalah mukjizat terbesar yang dimiliki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Mukjizat

Perlu diketahui bahwa setiap Nabi, Allah Ta’ala berikan kepada mereka sebuah mukjizat. Mukjizatnya itu beraneka ragam dan biasanya menyesuaikan dengan kondisi yang ada di mana nabi tersebut hidup.

Nabi Musa ‘alaihissallam, semarak di zamannya berbagai model ilmu sihir. Maka Allah beri mukjizat kepadanya tongkat yang bisa berubah menjadi ular dan tangan yang bisa mengeluarkan cahaya. Nabi Isa ‘alaihi shalatu wa sallamhidup di zaman di mana ilmu medis dan ilmu pengobatan tumbuh subur. Allah memberikan mukjizat kepada Beliau,

وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”(QS. Ali-Imran [3]: 49)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallambeliau hidup di jazirah Arab, di tengah-tengah bangsa Arab yang terkenal dengan ilmu sastranya. Rasul mendapatkan mukjizat dari Allah dengan turunnya al-Qur’anul Karim

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

وإنما كان الذي أوتيت وحيا أوحاه الله إلي

Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku.

Sebagian dari para ulama, seperti dinukil oleh al-Imam an-Nawawi rahimahullahberbeda pendapat tentang makna wahyu yang Allah berikan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wahyu itu adalah al-Qur’anul Karim, dan sebagian lagi menyebutkan perkara yang lain. Beliau sendiri memilih bahwa yang dimaksud dengan mukjizat yang Allah ta’ala berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis ini adalah al-Qur’anul Karim.

Kemudian, Rasulullah menyebutkan,

فأرجو أن أكون أكثرهم تابعا يوم القيامة

Maka aku berharap menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya pada hari kiamat.

Dengan adanya mukjizat beliau al-Qur’anul Karim, beliau berharap menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya dengan mukjizat tersebut. Ini adalah sebuah harapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamyang diluluskan oleh Allah ta’ala. Beliau menjadi seorang Nabi yang paling banyak umatnya.

Sebagaimana di dalam hadis Ibnu Abbas, kisah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallambermimpi melihat sekelompok titik hitam yang besar, kemudian dikatakan itu adalah umat Rasulullah, dan bersama dengan mereka adalah 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Maka dari hadits ini dan sebelumnya, ada beberapa faedah yang disebutkan oleh para ulama.

Pertama, dalil dari hadis tersebut tentang adanya tanda-tanda kekuasaan Allah yang Allah berikan kepada para Nabi. Apakah itu mukjizat ataupun kepada orang-orang shalih yang dinamakan dengan nama karamah. Ini adalah dalil yang kuat menunjukkan adanya perkara tersebut.

Sekaligus merupakan bantahan kepada sebagian orang atau kelompok yang menolak adanya mukjizat dan menolak tentang adanya karamah. Ini adalah pendapat yang dimunculkan oleh kelompok mu’tazilah, terkhusus kelompok mu’tazilahzaman kini yang dipimpin oleh kelompok Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh dan lain sebagainya dari pentolan-pentolan mereka.

Mereka itu menolak adanya mukjizat dan karomah yang dimiliki oleh Nabi dan orang-orang shalih, mereka menganggap bahwa tidak mungkin bagi seorang setelah Nabi atau bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki mukjizat yang dengan adanya mukjizat tersebut berarti seakan-akan mereka itu bukan seorang pembawa kebenaran.

Oleh karena itu Syaikh Muqbil rahimahullahu ta’ala di dalam kitab beliau ash-Shahihul Musnad min Dalail an-Nubuwwah, di dalam mukadimahnya membantah kelompok tersebut dengan bantahan yang sangat banyak dan beliau menyebutkan dalil-dalil yang sangat banyak. Termasuk beliau mengarang buku itu tujuannya ialah untuk membantah mereka.

Sebagian ulama tidak menyetujui untuk menamakan kelebihan yang Allah berikan kepada para Nabi disebut mukjizat, karena mukjizat itu lebih umum dari sekadar apa yang dibawa oleh para Nabi, karena mukjizat itu maknanya sesuatu yang membuat orang lain tunduk.

Maka kalau seperti itu maknanya, bisa dinamakan juga sebagai mukjizat setiap keanehan yang terjadi disebabkan oleh tukang sihir atau keanehan yang dibawa oleh jin, karena orang yang melihatnya juga akan tunduk. Ini disebutkan oleh Syaikh al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala. Sebab itu, beliau mengatakan sebaiknya dinamakan dengan al-ayat.

Terlebih lagi kalau kita melihat di dalam al-Qur’anul Karim atau Sunnah, tidak ada satu pun lafadz yang menunjukkan nama mukjizat, justru yang ada adalah ‘ayat‘.

مَا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلاَّ أُعْطِيَ مِنَ اْلآيَاتِ

Tidak seorang Nabi pun yang diutus melainkan dikaruniakan padanya ayat-ayat.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (QS. al-Isra [17] : 59)

Penamaan ayat itu lebih utama daripada dinamakan dengan mukjizat adalah untuk membedakan antara keanehan-keanehan yang muncul dari tukang sihir atau dari jin atau nanti Dajjal dengan apa yang dibawa oleh Nabi-Nabi. Maka sebaiknya dinamakan dengan al-ayat walaupun penamaan mukjizat itu wariddi dalam penyebutan-penyebutan para ulama.

 

Kedua, disebutkan oleh para ulama bahwa hadis itu menunjukkan bahwa mukjizat atau ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah) yang diberikan Allah kepada rasul-Nya, yang paling agung adalah al-Qur’anul Karim.

 

Banyak sekali bentuk kehebatan mukjizat al-Qur’anul Karim dibandingkan dengan mukjizat-mukjizat yang lain yang Allah turunkan kepada Nabi-Nabi yang lain selain Rasulullah, misalnya,

  1. Mukjizat-mukjizat yang Allah berikan kepada para Nabi sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sesuatu yang akan hilang dengan wafatnya Nabi mereka. Tongkatnya Nabi Musa, tidak dijumpai lagi sekarang. Kehebatan Nabi Sulaiman ‘alaihi shalatu wassalam, setelah beliau wafat hilang. Namun, apa yang Allah berikan kepada Nabi berupa al-Qur’anul Karim terus ada sampai hari kiamat dan tidak akan hilang.

 

  1. Menjadikan orang-orang yang memusuhinya, justru menjadi tunduk. Contoh: masuk Islamnya Raja Najasyi, Jubair ibnu Muth’im, Umar ibnul Khaththab (menurut sebagian riwayat) dengan al-Qur’anul Karim. Bagaimana pentolan-pentolan Arab yang mereka pada dasarnya adalah ahli sastra masuk Islam dengan adanya al-Qur’anul Karimyang mereka baca dan mereka pahami serta tadabburi, kemudian mereka mendapatkan hidayah.

 

Ketiga, dalil bahwa para Nabi Allah ‘azza wa jallaitu mereka bertingkat-tingkat di dalam kemuliaan dan keutamaan. Termasuk juga mereka bertingkat-tingkat di dalam pengikut dan umatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Nabi yang paling mulia dan umatnya adalah paling mulia dan banyak. Nabi mengatakan,

نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Kami adalah umat terakhir, namun pertama pada hari kiamat.”(HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Keempat, dalil bahwa al-Qur’anul Karim adalah sebab manusia mendapatkan petunjuk. Rasulullah ketika menjelaskan bahwa beliau diberikan wahyu berupa Alquran, beliau menyambung dengan,

فأرجو أن أكون أكثرهم تابعا يوم القيامة

Maka aku berharap menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya pada hari kiamat.

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengurutkan, disebutkan mukjizat (al-Qur’an) karena banyak faedahnya, umum manfaatnya, baik orang yang ada atau belum ada saat itu, juga kepada orang yang akan ada sehingga urutan itu menjadikan Rasul berharap dengan adanya al-Qur’an, beliau menjadi seorang Nabi yang paling banyak pengikutnya.

 

Mencontoh Sunnah-nya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Dalam hal ini para ulama membagi, apakah setiap yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disuruh untuk mencontohnya ataukah ada perincian di dalamnya. Para ulama ternyata merinci, jadi tidak semua yang dilakukan oleh Beliau harus diikuti.

Ada perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang murni ibadah, murni adat istiadat, tetapi ada pula yang pada asalnya merupakan adat istiadat tetapi disifati oleh Nabi dengan sifat-sifat yang memiliki nilai ibadah. Secara umum ada tiga pembagian,

Murni ibadah, adalah sesuatu yang harus diikuti Seperti tata cara shalat, berdakwah kepada tauhid, puasa, zakat dan haji.

–  Murni adat istiadat, maka pendapat yang benar dari pendapat para ulama, itu dikembalikan kepada hukum asal, yaitu mubah. Seseorang boleh melakukannya dan boleh pula tidak melakukannya. Tetapi, kalau melakukannya ingin mencontoh Nabi maka dia akan mendapatkan pahala karena ta’asi (meneladani) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Asalnya adat istiadat, tetapi Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam membuat aturan-aturan tertentu di dalam perbuatan itu. Maka, sikap kita adalah meyakini perbuatan itu mubah, namun kalau dilakukan oleh seseorang, dia harus melakukan seperti apa yang telah Beliau contohkan. Seperti makan, secara asal adalah mubah, Tetapi Nabi telah membuat aturan kepada kita, kalau makan dengan tangan kanan dan membaca basmalah serta memakan dari sisi yang pinggir.

Imam Bukhari rahimahullah berkata, “Allah subhanahu wa ta’la berfirman”,

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. al-Furqan [25]: 74)

أَيِمَّةً نَقْتَدِي بِمَنْ قَبْلَنَا، وَيَقْتَدِي بِنَا مَنْ بَعْدَنَا

(Aimmah) pemimpin-pemimpin yang mengikuti orang sebelum kami, dan kami diikuti oleh orang-orang sesudah kami.

Di sini al-Imam Bukhari rahimahullahu ta’ala menyebutkan tentang makna iqtida.

Dari Abdullah bin ‘Aun rahimahullah,

ثَلاَثٌ أُحِبُّهُنَّ لِنَفْسِي وَلإِخْوَانِي هَذِهِ السُّنَّةُ أَنْ يَتَعَلَّمُوهَا وَيَسْأَلُوا عَنْهَا، وَالْقُرْآنُ أَنْ يَتَفَهَّمُوهُ وَيَسْأَلُوا عَنْهُ،وَيَدَعُوا النَّاسَ إِلاَّ مِنْ خَيْرٍ

Ada tiga hal yang sangat aku ridha untuk diriku dan saudara-saudaraku sesama Muslim: Sunnah ini, mereka mempelajarinya dan mereka bertanya tentangnya. Al-Qur’an, mereka memahaminya dan bertanya kepada manusia tentangnya. Tidak meninggalkan manusia kecuali apabila mendatangkan kebaikan.

Inti dari riwayat Abdullah ibnu ‘Aun ini adalah apa yang beliau sebutkan dari Sunnah dan al-Qur’an, yang beliau inginkan adalah agar manusia itu mempelajarinya dan memahaminya.

Para ulama mengatakan,

“Tidak ada kitab di dalam akidah yang lebih mulia dari al-Qur’an, tidak ada kitab di dalam fiqih yang lebih mulia dari al-Qur’an, tidak ada kitab di dalam manhaj yang lebih mulia dari al-Qur’an.”

Artinya adalah mengajarkan kepada manusia al-Qur’andan Sunnah. Walaupun perjalanan seseorang di dalam mengajarkannya pasti ada tantangan, beraneka ragam intimidasi, persekusi dan lain sebagainya. Tetapi ketahuilah, bahwa ini adalah sumber kemuliaan yang dimiliki oleh seorang muslim.

 

Diringkas dari Kajian al-Ustadz Imam Abu Abdillah oleh Tim Syiar Tauhid Aceh


 

Lihat faidah ilmiah lainnya:

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *