Mulia karena Memuliakan Islam
10 min read
Terdapat banyak dalil baik dari Alquran maupun Hadis yang menunjukkan bahwa tidak perlu khawatir akan hilangnya Islam di muka Bumi. Di antaranya adalah,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan Kami pula yang menjaganya.” (Al-Hijr [15]: 9)
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Mereka (orang-orang kafir) berusaha untuk memadamkan cahaya Allah, tetapi Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya.” (QS. as-Shaf [61]: 8)
Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,
لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله
“Bahwasanya akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang mereka berpegang teguh di atas keislaman mereka, mereka selalu akan berada di atas kebenaran, dan tidak ada yang mampu memudharatkan mereka siapa saja yang ingin memudharatkan mereka, sampai datang perkaranya Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. Muslim no. 1920)
Islam itu akan jaya dengan adanya kita atau tanpa adanya kita. Islam itu akan jaya apakah kita membela Islam atau kita tidak membela Islam. Islam akan selalu tinggi apakah kita cinta kepada Islam ataukah kita tidak cinta kepada Islam.
اْلإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَىعلِه
“Islam itu tinggi dan tidak ada apapun yang lebih tinggi daripada Islam.” [HR. ad-Daruquthni (III/ 181 no. 3564), tahqiq Syaikh ‘Adil Ahmad ‘Abdul Maujud dan Syaikh ‘Ali Mu’awwadh, Darul Ma’rifah, th. 1422 H) dan al-Baihaqy (VI/205) dari sahabat ‘Aidh bin ‘Amr al-Muzany radhiyallahu anhu. Lihat Irwaa-ul Ghalil (V/106 no. 1268) oleh Syaikh al-Albany rahimahullah)]
Namun ketika kita tidak berpegang teguh di atas Islam, tidak ada dalam hati kecintaan kepada Islam, pembelaan kepada Islam atau bahkan meninggalkan Islam, maka sangat mudah bagi Allah subhanahu wa ta’ala mencari orang lain yang akan menyebarkan, menegakkan dan membela Islam.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS. al-Maidah [5]: 54)
Jadi diri kitalah yang perlu kita khawatirkan, karena tidak ada di antara kita yang mendapat jaminan pasti akan mati di atas Islam. Tidak ada jaminan seeorang bisa mengucapkan “Lailahaillallah” sebelum meninggal dunia.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallammenyebutkan dalam hadisnya,
إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار
“Ada seseorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka.” (HR. BukharidalamBad’ul Khalq)
Disebutkan oleh al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala dalam kitab al-Wabilush Shayyib mengapa seseorang yang kelihatannya beramal dengan amalan penghuni surga, namun pada akhir hayatnya justru beramal dengan amalan penghuni neraka sehingga dimasukkan ke dalam neraka. Itu karena tersembunyi dalam hatinya sebuah penyakit, apakah itu penyakit hasad, dengki, iri atau kebencian yang membakar seluruh kebaikannya yang akhirnya sebelum kematiannya justru berbuat amalan kekejian.
Kisah Ummu Habibah radhiallahu ta’ala ‘anha
Ummu Habibah, anaknya Abu Sufyan yang ketika itu masih musyrik, belum masuk Islam. Ummu Habibah diberikan izin oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk hijrah ke Habasyah bersama anak bayi beliau dan suaminya yang bernama Ubaidillah Ibnu Jahsy.
Beliau hijrah meninggalkan negerinya, meninggalkan kemewahan, untuk hijrah ke negeri lainnya demi menjaga agamanya. Bukan untuk mencari dunia, bukan untuk mencari rezeki, bukan untuk merantau mencari kerja, tapi untuk menjaga agamanya.
Di akhir hayatnya, Ubaidillah Ibnu Jahsy murtad menjadi Nasrani. Padahal dia telah melihat wajah Rasulullah, istrinya adalah shahabiah yang mulia, gurunya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Tapi dia bisa murtad dari agama Allah.
Allah memberikan ujian yang begitu berat kepada Ummu Habibah. Sehingga ada tiga pilihan kepada Ummu Habibah. Pertama, murtad mengikuti suaminya. Kedua, kembali ke Mekkah. Dan ketiga adalah bersabar, inilah yang menjadi pilihannya.
Dengan bersabarnya Ummu Habibah, dalam beberapa waktu Allah subhanahu wa ta’ala memberikan jalan keluar kepadanya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melamar beliau sebagai istrinya.
Mengkhawatirkan Diri Sendiri
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Segeralah beramal (shalih), (sebelum ada) fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Seseorang pada pagi hari mukmin, sore hari kafir. Atau sore hari beriman, pagi harinya kafir. Dia menjual agamanya dengan harta kekayaan dunia.”(HR. Muslim, no. 186)
Sehingga yang paling harus dikhawatirkan oleh seseorang adalah diri sendiri. Tidak ada satu pun ayat di dalam Alquran, tidak ada satu pun butir hadis yang mengkhabarkan bahwasanya kita pasti masuk surga. Tetapi yang ada jaminan kepada kita adalah Allah akan menjaga Islam, agama-Nya.
Adapun kita, sejauh mana kita memuliakan agama Allah, Islam. Sejauh mana kita mempraktekkan Islam dalam kehidupan kita sehari-hari. Di situlah Allah akan menjaga dan memuliakan kita serta memberikan kekuatan kepada kita. Namun kalau sebaliknya, kita meninggalkan Islam, kita tidak mengamalkan Islam dalam kehidupan kita, kita meninggalkan agama Allah, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menghinakan kita.
Sungguh sangat indah apa yang disebutkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiallahu ta’ala ‘anhu waradha’, “Kami dahulu adalah kaum yang hina, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala. Memuliakan kami dengan Islam. Maka barangsiapa yang mencari kemuliaan selain dengan Islam, Allah akan menghinakannya.”
Para sahabat tidak memiliki harta, mereka juga tidak memiliki daripada ilmu dunia yang tinggi. Dari sisi dunia, para sahabat adalah orang-orang yang fakir, namun Allah memuliakan mereka.
Bahkan Said Ibnu Amir al-Jumahi radhiallahu ta’ala ‘anhu, gubernur Kuffah di zaman khalifah Umar bin Khaththab radhiallahu ta’ala ‘anhu. Pada waktu Umar datang ke Kuffah dan mengumpulkan masyarakatnya, mereka mengadu kepada Umar, “Wahai Umar, sesungguhnya gubernur kami setiap satu bulan, dia tidak pernah keluar kepada kami, dia tidak mengurusi urusan kami, setiap bulan ada satu hari.”.
Kemudian Umar bertanya kepada Said, “Ya Said, kenapa kau tidak menjumpai rakyatmu?” Said menjawab, “Ya amirul mukminin, aku malu untuk mengungkapkannya. Tapi karena sudah engkau tanya (maka aku akan menjawab). Wahai amirul mukminin, aku hanya mempunyai satu pakaian di badanku dan setiap bulan aku mencuci sekali pakaianku sehingga aku tidak pernah keluar dari rumah sampai pakaianku kering.”
Ketika Khalid bin Abi Walid radhiallahu ta’ala ‘anhu mengirim surat kepada Hiraqla (Heraklius). Kata nasihat dalam surat itu adalah, “Wahai Hiraqla, masuklah kamu ke dalam Islam. Kalau seandainya engkau tidak masuk ke dalam Islam, aku akan mengirimkan pasukan kepada engkau yang mereka cinta kepada kematian sebagaimana kalian cinta terhadap dunia kalian.”
Hiraqla ketakutan membaca surat tersebut. Ketakutan karena teguhnya orang-orang Islam ketika itu di atas agama mereka. Allah akan menolong kaum muslimin benar-benar menghidupkan Islam.
إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Jikakamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”(QS. Muhammad [47]: 7)
Ini janji Allah dan telah Allah buktikan kepada para sahabat Rasulullahshallallahu alaihi wasallam,
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا
“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu.” (QS. Ali Imran [3]: 151)
Tidak hanya manusia, bahkan Syaithan pun takut kepada para sahabat Rasul. Kata Rasulullah, “Ya Umar! Kalau seandainya engkau melewati sebuah jalan, maka syaithan tidak akan pernah melewati jalan yang sama dengan engkau.”
Apa yang mereka punya?
Yang mereka punya adalah iman, kecintaan kepada Allah dan Rasul yang lebih daripada segalanya. Ini sumber kekuatan mereka. Kekuatan apa pun yang dimiliki oleh kaum kafir, mereka tetap takut kepada muslim. Kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul lebih dari segalanya. Di malam hari mereka bagaikan bayi yang merengek kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Di siang harinya mereka bagaikan singa.
Ketika penguasa pada waktu itu mengirim surat kepada Muawiyah, “Wahai Muawiyah! Kami mendengar perselisihan yang terjadi antara engkau dengan Ali. Ya Muawiyah! Kalau seandainya engkau menginginkan, aku akan mengirimkan pasukan untuk menyembelih kepala Ali dan kuserahkan kepada engkau.”
Muawiyah radhiallahu ta’ala ‘anhu menjawab, “Diam engkau! Apa urusanmu dengan saudaraku Ali? Kalau seandainya engkau tidak diam, aku akan mengirimkan pasukan yang awalnya di belakangmu dan ujungnya lagi di depanmu, aku suruh mereka menyembelih kepalamu dan dibawa kepada saudaraku Ali bin Abi Thalib radhiallahu ta’ala ‘anhu.”
Datang para sahabat kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah! Sesungguhnya sahabat-sahabat kami yang mereka memiliki harta yang banyak, mereka telah mendapatkan pahala dengan sedekahnya. Ya Rasulullah, berikanlah sebuah amalan kepada kami yang kami dengan amalan tersebut akan bisa menandingi sahabat kami.”
Mereka menangis bukan karena kemiskinan mereka, tapi mereka menangis karena mereka tidak mampu untuk bersedekah, tidak bisa beribadah kepada Allah.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada mereka untuk ber-dzikir,
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Itu menyaingi dari sedekah yang diberikan oleh mereka. Berlomba-lomba dalam ketaatan kepada Allah.
Kemudian tiba-tiba sahabat yang kaya mendengar orang-orang yang fakir pada waktu itu diajarkan zikir oleh Rasulullah, kemudian mereka amalkan juga seluruhnya.
Kemudian orang-orang miskin datang lagi mengatakan, “Ya Rasulullah! Mereka juga telah beramal dengan dzikir tersebut ya Rasulullah.”
Kemudian kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
ذلك فضل من الله
“Itu merupakan kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada siapa yang Allah kehendaki.”
Yang menjadi pijakan mereka adalah kecintaan kepada Allah dan Rasul. Itu sumber kekuatan yang paling besar yang dimiliki oleh seorang mukmin ketika mereka berpegang teguh dengan agamanya.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah dari kota Makkah menuju Madinah, para sahabat sudah berdiri untuk memanggil agar Nabi bisa tinggal di rumah mereka. “Ya Rasulullah, tinggallah bersama kami ya Rasulullah. Kami akan menjamu engkau ya Rasulullah.”
Kemudian berdirilah waktu itu kendaraan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tepat di rumahnya Abu Ayyub al-Anshari dan Allah memuliakannya dengan tinggalnya Nabi di rumah beliau. Dan waktu itu Rasulullah minta tidur di bawah. Awalnya Abu Ayyub menolak, “Ya Rasulullah tidak mungkin engkau tidur di bawah, biarkan engkau tidur di atas, dan kami tidur di bawah.” Tapi Rasulullah tidak ingin, “Biar saya tidur di bawah.”
Kemudian di malam hari Abu Ayyub berkata kepada istrinya, “Celaka engkau wahai Abu Ayyub, bagaimana mungkin kita tidur di atas sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di bawah kita. Bagaimana mungkin? Bagaimana akhlak kita kepada Nabi kita?” Sampai-sampai semalaman mereka tidak tidur, mereka berdiri di pojok kamar karena mereka takut kalau seandainya mereka berjalan di tengah-tengah kamar mereka, ada satu debu yang akan jatuh dan akan mengganggu Nabi. Ini kecintaan mereka kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah dengan Abu Bakar As-Siddiq, Abu Bakar As-Siddiq terkadang berjalan di depan, terkadang berjalan di samping kiri, terkadang di samping kanan dan terkadang di belakang. Rasulullah bertanya, “Ya Abu Bakar, apa-apaan ini? Mengapa engkau sekali berjalan ke sini, kemudian ke sini lagi dan seterusnya. Kenapa tidak berjalan saja di sampingku?”
Apa kata Abu Bakar As-Siddiq?
“Ya Rasulullah, aku takut ada orang yang ingin memanah engkau dari jauh, biarkan aku yang kena.”
Kondisi Kaum Muslimin Hari Hari Ini
Kaum muslimin sekarang ini dalam kondisi yang sangat menyedihkan, kondisi yang sangat menyakitkan, kondisi yang berada di titik yang paling rendah. Orang-orang yang mereka menyembah misalnya kerbau, sapi, kayu, pohon, yang itu tidak memiliki kekuatan sama sekali Tetapi bisa membantai, membunuh, memperkosa dan mengusir kaum muslimin dari negeri-negeri mereka.
Ini bukan karena Allah telah lupa kepada kaum muslimin, sebab Allah tidak pernah lupa kepada kita, tapi kerena kita yang lupa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengingatkan dalam haditsnya,
احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ
“Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu.”
Hari ini bagaimana Allah akan menolong dan memberikan kekuatan kepada kaum muslimin, ketika dikumandangkan azan, kaum muslimin kebanyakan tidak beranjak dari tempat duduknya dan tetap dengan aktivitasnya. Belum lagi anak mudanya, bepacaran, sex bebas, narkoba, tidak mengenal Allah.
Orang-orang yang mereka adalah shalihindari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam ketika mereka tidak mematuhi Rasul dalam suatu perintah, Allah memberikan kekalahan kepada mereka. Contohnya adalah pada perang Uhud.
Berbeda dengan kaum Muslimin sekarang ini, tinggal di rumah Allah atau di sekitar rumah Allah, tapi berat untuk salat dan beribadah kepada Allah, padahal shalat merupakan sesuatu yang paling lezat di muka bumi ini. Tidak ada sesuatu yang lebih lezat di muka bumi ini lebih daripada shalat. Tentunya bagi siapa yang mereka memiliki hati yang bersih.
Nabi kita dalam banyak hadisnya beliau mengatakan,
يا بلال أرحنا بالصلاة
“Wahai Bilal, istirahatkan aku dengan shalat karena shalat itu merupakan penyejuk hatiku, penyejuk jiwaku.” (HR. Ahmad & Abu Daud, shahih)
Betapa banyak keadaan Rasulullah, apabila dalam keadaan sempit, beliau selesaikan dengan salat. Begitu cintanya Rasulullah terhadapibadah tersebut, begitu rindunya beliau untuk bermunajat kepada Allah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membaca ayat lebih dari lima juz dalam satu rakaat sebagaimana diceritakan oleh Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu, beliau membaca surat al-Baqarah, Ali Imran, al-Maidah sampai an-Nisa.
Namun perlu dipahami, bahwa Allah tidak butuh shalat dan ibadah dari hambanya,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”(QS. Fatir [35]: 15)
Allah tidak butuh dengan ibadah kita, shalat kita, tapi diri kita lah yang rugi karena akan dicampakkan oleh Allah ke dalam neraka,
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَقَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.’”(QS. al-Muddatsir [74]: 42-43)
Tidaklah kelemahan kaum Muslimin hari ini kecuali karena kesalahan-kesalahan kaum Muslimin sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam sebuah hadits yang datang dari Thauban radhiallahu ta’ala ‘anhu,
يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها
“Akan datang suatu masa yang di mana kalian akan dimangsa oleh musuh-musuh kalian, seperti orang-orang yang memangsa makanan di dalam hidangan.”
Kemudian para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kami sedikit pada waktu itu ya Rasulullah? Sehingga mereka musuh-musuh Allah bisa mereka merebut-rebut kami.”
Kemudian Rasulullah mengatakan,
بل أنتم يومئذ كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل
“Kalian itu banyak, tapi kalian seperti buih di lautan (tidak punya kekuatan sama sekali).”
ولينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم
“Allah akan mencabut rasa segan dan rasa takut di dada-dada musuh kalian kepada kalian dan Allah akan menambahkan penyakit wahhan di dalam hati kalian.”
Kemudian Rasulullah menambahkan,
الوهن قال حب الدنيا وكراهية الموت
“Wahn adalah cinta kepada dunia dan takut kepada kematian.”
Maksiat dan segalanya dilakukan di dunia tak peduli apakah halal atau haram. Yang tinggalkan shalatpun karena dunia, meninggalkan perintah-perintah dan agama Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah sebab kehancuran kaum Muslimin.
Syaikh Muqbil rahimahullah sering berkata, “Kita tidak takut dengan tank-tanknya Amerika, kita tidak takut dengan nuklirnya Amerika, kita tidak takut dengan sekutu-sekutu yang dimiliki oleh Amerika, tetapi yang kita takutkan adalah dosa-dosa kita yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan memberikan pertolongan kepada kita.
Pernah terjadi gempa di zamannya Umar bin Khaththab radhiallahu ta’ala ‘anhudi kota Madinah. Gempa tersebut bukan hanya gempa biasa, bukan gempat seperti yang sering terjadi di negara kita. Tidak ada sesuatu yang hancur. Akan tetapi, kata Umar bin Khaththab radhiallahu ta’ala ‘anhu, “Kalau seandainya terjadi lagi gempa di muka bumi ini, di kota ini, aku tidak mau tinggal lagi di sini, aku akan pergi dari sini. Kalau misalkan ada gempa susulan, aku tidak mau tinggal bersama kalian karena dosa-dosa kalian.” Demikianlah ketakutan para sahabat akan dosa.
Banyaknya jumlah orang Islam bukanlah sumber kekuatan, demikian juga dengan banyaknya harta. Sumber kekuatan adalah dengan kembali dan bertaubat kepada Allah. Kembali ke rumah Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau seandainya semua kaum Muslimin, melaksanakan shalat Shubuh, Dhuhur, ‘Ashar,Maghrib dan ‘isya, kemudian mereka belajar ilmu agama mereka, belajar al-Qur’an dan Sunnah, Allah pasti akan memberikan kemuliaan kepada umat Islam.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Kalau seandainya penduduk sebuah negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, pasti Allah akan memberikan keberkahan kepada mereka dari langit dan bumi.”(QS. al-A’raf [7]: 96)
Dan juga Allah menyebutkan dalam Alquran,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”(QS. an-Nur [24]: 55).
Diringkas dari kajian Ustadz Harits Abu Naufal oleh tim Syiar Tauhid Aceh
Lihat faidah ilmiah lainnya:
- Dorongan Persatuan dan Dibencinya Perpecahan
- Jangan Banyak Bertanya
- Mengikuti Rasulullah
- Pembatal Keislaman
- Taqlid dan Pengaruh Buruknya
- Kriteria Orang yang Berakhlak Mulia
- Menjadi Golongan Kanan
Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh
Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322
