Thu. Nov 14th, 2019

Bagaimana Menjadi Golongan Kanan?

6 min read

Pada saat dunia ini berakhir dengan ditiupkannya sangkakala,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. az-Zumar [39]: 68).

Kemudian semua manusia akan digiring oleh Allah, dikumpulkan di Padang Mahsyar, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّكُمْ مُلاَقُو اللهِ حُفَاةً عُرَاةً مُشَاةً غُرْلاً

“Sesungguhnya kalian akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, berjalan kaki, dan belum dikhitan.” (Hadis shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6043).

Saat berada di padang Mahsyar, semuanya menunggu peradilan Allah ‘azza wa jalla. Mereka yang dapat melewati dengan amalan-amalan shalih, maka mereka akan menjadi ashabul maimanah (golongan kanan). Namun mereka yang terganjal dengan kemaksiatan, baik itu kesyirikan, ke-bid’ah-an, dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil serta semua jenis maksiat, maka mereka akan menjadi ashabul masy’amah (golongan kiri).

Golongan kanan merupakan golongan yang menerima catatan amalan dengan tangan kanannya, sehingga mereka berbahagia ketika membacanya. Adapun golongan kiri, mereka yang menerima catatan amalannya dengan tangan kirinya atau di balik punggungnya, kemudian mereka membacanya dengan penuh penyesalan dan penuh kebencian terhadap apa yang telah dilalui.

Seorang yang hidup di alam dunia ini berusaha untuk menjadi ashabul maimanah, maka dia akan mendapatkan balasan menjadi ashabul maimanah di yaumul qiyamah. Sebaliknya, seorang yang di dalam kehidupan dunia ini melakukan amalan ashabul masy’amah, mereka di yaumul qiyamah dijadikan oleh Allah menjadi ashabul masy’amah. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Permasalahannya adalah, bagaimana seorang itu menjadi golongan kanan? Bagaimana seorang itu terhindar dari golongan kiri? Telah dijawab oleh Allah ‘azza wa jalla,

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ٠وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ٠فَكُّ رَقَبَةٍ٠أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ٠يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ٠أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ٠ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ٠أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ٠وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ٠عَلَيْهِمْ نَارٌ مُؤْصَدَةٌ

“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.” (QS. al-Balad [90]: 11-20).

Beberapa ayat Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bagaimana agar menjadi golongan yang kanan. Allah mengatakan,

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ

“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.”

Manusia itu diciptakan oleh Allah dengan tabiat inginnya serba instan. Mereka tidak mau melalui kesulitan demi mendapatkan kenikmatan yang hakiki,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ

“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”

Pertama, Allah mengajarkan kepada kita dengan فَكُّ رَقَبَةٍ, maknanya adalah membebaskan budak. Pada zaman sekarang tidak ada lagi budak. Di zaman dulu banyak sekali budak, dan seseorang yang memerdekakan budak, Allah subhanahu wa ta’ala akan membebaskan dari setiap anggota tubuh yang dia bebaskan, anggota tubuhnya dari neraka Allah subhanahu wa ta’ala.

Meskipun demikian, tidak adanya budak di zaman sekarang bukan berarti tidak bisa mendapatkan keutamaan faqqu raqabah. Sekarang banyak sekali manusia yang terjerat di dalam keberbudakan, bukan jasmaninya yang terjerat dengan keberbudakan, akan tetapi hatinya.

Hatinya menjadi budak dari kesyirikan, kemaksiatan dan menjadi budak di dalam hal yang menjadi kemurkaan Alah subhanahu wa ta’ala. Seorang yang membebaskan manusia dari keberbudakan kesyirikan, dia dianggap telah membebaskan orang yang diperbudak oleh kesyirikan dan akan mendapatkan keutamaan tersebut. Seorang yang dia mengajak kaum muslimin agar mereka meninggalkan jerat-jerat keberbudakan maksiat, juga mendapatkan keutamaan itu.

Walaupun bukan budak sesungguhnya yang dibebaskan, tetapi dengan dia menyelamatkan seorang dari kesyirikan, maka Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan dia ke dalam surga-Nya. Ketika seseorang menyelamatkan saudaranya dari kemaksiatan, mengajak untuk memenuhi panggilan Allah salat lima waktu misalnya, dengan begitu sebenarnya dia telah mengajak orang tersebut ke dalam keridaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Oleh sebab itu, janganlah menganggap ringan keutamaan mengajak saudara kita ke dalam kebaikan. Ajaklah meskipun dengan lisan kita, ataupun dengan sebuah tulisan, ajaklah walau hanya dengan satu pesan kebaikan. Nabi memberikan kabar gembira kepada kita dengan surga,

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).

Di samping itu, Allah ‘azza wa jalla juga menyebutkan cara untuk menjadi golongan kanan adalah,

إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ

“memberi makan pada hari kelaparan”

Seorang itu gemar memberikan makanan, terkhususnya di hari yang manusia berada di dalam masa paceklik dan kekurangan, kelaparan, ketika manusia membutuhkan sandang, pangan dan papan, dia bergerak memberikan itu semua kepada orang-orang yang membutuhkan. Maka orang-orang yang seperti ini akan menjadi bagian dari ashabul maimanah.

Sedekah yang paling utama, manakala sedekah itu dibutuhkan oleh orang yang menerima, manakala sedekah itu diharapkan oleh orang yang ingin mendapatkannya.
Pada suatu hari Rasulullah benar-benar membutuhkan persenjataan untuk perang. Waktu itu adalah perang yang penuh dengan kekurangan dan kondisi daerah serta kondisi cuaca yang sangat-sangat ekstrim. Beliau mengatakan kepada para sahabat,

من جهز جيش العسرة غفر الله له فله الجنة

“Barang siapa yang membantu perbekalan pasukan yang kesulitan, Allah mengampuninya dan baginya surga”

Lalu berdirilah Utsman ibnu Affan radhiallahu ‘anhu. Ia menyumbangkan 100 ekor unta, 100 ekor kuda lengkap dengan persenjataannya. Karena itu, Allah akan berikan untuknya surga.

Pada waktu Rasulullah sedang susah, dikarenakan sumur Rumah, sumber air yang biasa digunakan oleh sahabat diisolir oleh orang-orang Yahudi. Nabi mengatakan kepada para sahabat,

“Siapa yang membeli sumur Rumah, dia akan mendapatkan surga.” (HR. al-Bukhari).

Dalam kondisi kesusahan, kembali Utsman ibnu Affan membeli sumur itu untuk Rasulullah dan untuk kaum muslimin, dan Allah akan ganjar itu semua dengan surga.

Berdasarkan hal itu, marilah kita menyumbangkan sedekah kepada orang-orang yang mereka itu sungguh membutuhkannya. Sesuatu yang kadang menurut kita itu sisa, bisa berarti hal yang istimewa bagi orang lain. Jangan anggap remeh kebaikan walaupun sedikit.

Selanjutnya untuk menjadi golongan kanan, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ

“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat”

Jangan lupa pedulikan anak-anak yatim. Seorang yang menjaga anak yatim, kata Nabi “Aku dengan mereka di surga itu seperti ini”. Sembari beliau mengisyaratkan jari tengahnya dan jari telunjuk,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَ

“Aku dengan mereka di surga itu seperti ini.” (HR al-Bukhari no. 4998 dan 5659).

Betapa banyak anak yatim berada di sekitar kita. Ambil mereka itu semuanya, sisihkan harta kita untuk menaungi mereka, untuk membantu pendidikan mereka, untuk sandang, pangan, papan, agama mereka, pakaian mereka.

Diprioritaskan adalah anak-anak yatim yang mereka itu menjadi karib-kerabat kita, anak yatim yang masih ada hubungan saudara dengan kita. Setelah mereka semua tertangani dan tidak ada lagi yang tersisa, baru kita memperhatikan anak-anak yatim yang bukan menjadi saudara-saudara kita, kita jadikan mereka sebagai anak-anak asuh kita.

Lalu, Allah mengatakan,

أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ

“atau kepada orang miskin yang sangat fakir.”

Tidak lupa juga perhatikan orang-orang miskin, yang Allah katakan disini ذَا مَتْرَبَةٍ. Dia selalu tertempel dengan debu. Pakaiannya berlumuran debu, rambutnya berlumuran dengan debu, kakinya penuh dengan debu, sebagai kinayah kalau dia ini orang yang tidak memiliki apa-apa. Orang dalam hidupnya harus mengharapkan belas kasihan orang lain. Perhatikan orang-orang miskin. Karena dengan kita memperhatikan orang miskin, Allah akan ganti rezeki kita. Rasulullah pernah mengatakan kepada para sahabat,

أَبْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah kalian.” (Disahihkan al-Imam al-Albani dalam ash-Shahihah no. 779)

Maka ini adalah anjuran dari Allah untuk kita memerhatikan orang-orang miskin.

Setelah itu, Allah mengatakan,

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

“Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”

Orang-orang yang mereka menjadi ashabul maimanah adalah setelah mereka beriman kepada Allah, mereka saling mengingatkan di dalam kesabaran. Para jama’ah, kita memerhatikan anak yatim, kita memberikan makan kepada orang yang butuh, kita memberikan makan kepada orang miskin. Kalau tidak didorong dengan kesabaran, kita akan bosan, kita akan mengalikan setiap hari, “Wah kalau seperti ini berapa banyak yang harus saya keluarkan, bagaimana saya akan membangun rumah, bagaimana saya akan menabung untuk masa depan?” Ini kalau seorang tidak berlapiskan dengan kesabaran. Namun kalau seorang saling memberikan kesabaran, Allah ganti. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Seorang yang dia bersedekah, niscaya Allah ganti dengan yang lebih banyak, Allah akan berkahi hartanya, dengan adanya تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ maka dia akan istiqamah di dalam mencari cara-cara menjadi ashabul maimanah.

Kemudian yang terakhir,

وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

“dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”

Makna dari marhamah di sini adalah persaudaraan. Mereka menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah. Mereka tidak menjadikan permasalahan dunia, ketersinggungan dunia, menjadi sebab dia harus memutuskan dengan saudaranya persaudaraan yang telah Allah jadikan di antara mereka.

اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.” (HR. Muslim).

Bahkan Nabi melarang kita meninggalkan saudara kita tanpa salam dan tanpa bicara lebih daripada tiga hari. Oleh karena itu, seseorang yang ingin menjadi ashabul maimanah, ahlul jannah, dia adalah orang yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan umat Islam.

Dan di akhir ayat Allah menjelaskan siapa itu ashabul masy’amah,

الْمَيْمَنَةِ٠وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ٠عَلَيْهِمْ نَارٌ مُؤْصَدَةٌ

“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.”

Semoga Allah menjadikan kita semua ashabul maimanah dan menghindari kita semua dari ashabul masy’amah.

(Dirangkum dari Khotbah Jumat Ustadz Imam Abu Abdillah oleh Tim Syiar Tauhid Aceh)


Lihat faidah kajian lain:

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *