Hasungan untuk Beribadah
5 min read
Ada banyak contoh dari para Salafus Shalih (pendahulu yang saleh) yang dapat memberikan memotivasi kita dalam beribadah. Beberapa atsar terkhusus tentang bab hasungan untuk beribadah dan khusyu’ serta ucapan para ulama salaf (pendahulu) untuk hasungan beribadah dan khusyu’ kepada Allah tabaraka wata’ala.
Disebutkan oleh Umar bin Khaththab radhiallahu ta’ala ‘anhu sebagaimana dalam kitab al-Hilyah, jilid pertama halaman 71,
الشتاء غنيمه العابدين
“Musim dingin adalah ghanimah (sesuatu yang paling berharga) untuk orang-orang yang beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”
Perkataan ini kemudian diperjelas oleh Abdullah ibnu Umar radhiallahu ta’ala ‘anhu sebagaimana disebutkan dalam kitab Mausu’ah Ibnu Abi Dunya di jilid yang pertama, halaman 323,
عبد الله بن عمر رضي الله تعالى عنه انه قال كان اذا دخل الشتاء قال يا اهل القران طال الليل صلاتكم و قصر نهار للصيام كم فاغتنمها
“Ketika masuk musim dingin, beliau berkata: ‘Wahai Ahlul Qur’an! Telah datang musim dingin, maka inilah kesempatan bagi kalian untuk memperpanjang shalat malam kalian. Karena Allah telah memberi anugerah kalian dengan panjangnya malam dan juga pendeknya siang untuk puasa kalian. Maka ambillah ini sebagai suatu ghanimah buat kalian.”
Musim dingin di tanah Arab itu malamnya panjang. Adapun siangnya pendek. Oleh karena itu, ketika datang musim dingin, kesempatan bagi mereka untuk memperpanjang shalat malam.
Di antara satu sifat dan akhlak, dari sekian banyak akhlak yang kita sangat jauh berbeda dengan para salaf adalah mereka sangat bersemangat untuk menuntut ilmu dan ibadah mereka jauh lebih semangat dari ilmu yang mereka tuntut dengannya. Sedangkan kita adalah orang-orang yang malas dalam menuntut ilmu dan dalam babul ‘ibadah lebih malas dari menuntut ilmu tadi. Mungkin menuntut ilmu di majelis ilmu masih ada semangatnya, masih mau duduk. Tapi kalau dalam ibadah, lebih malas lagi, ini kondisi kita.
Tidak terluput dari pikiran kita bagaimana ibadah Rasulullah dalam panjangnya shalat beliau, semangatnya beliau untuk menuntut ilmu dan lebih semangat lagi beliau dalam beribadah. Bahkan subhanallah, para pejabat di zaman salaf, bukan ahlul ibadahnya, bukan pula yang tafarruq dengan ilmu dan ibadah, tetapi pejabatnya, seperti Said Ibnu Amir Al-Jumahi.
Pada saat orang-orang Kuffah ketika itu mengadu kepada Umar tentang gubernur mereka Said ibnu Amir Al-Jumahi, di antara yang diadukan ialah Said ibnu Amir al-Jumahi di malam hari menutup pintu dari rakyatnya, tidak mau menerima siapa pun di malam hari.
Oleh karena aduan tersebut, Umar bin Khaththab bertanya kepada Gubernur Kuffah itu, “Wahai Said, mengapa engkau tidak mau menerima mereka di malam hari?” Said berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, sungguh berat untuk aku kabarkan. Namun ketika kau sudah menuntut aku, maka terpaksa untuk aku sampaikan kepada engkau. Di pagi hari, aku telah sibuk mengurusi urusan-urusan mereka. Maka di malam hari aku ingin menghabiskan waktuku untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”
Adapun kita, jangankan perkara yang sunnah, yang wajib saja masih terasa berat untuk dilaksanakan. Salat berjamaah lima waktu terkadang masih berat dikerjakan, bahkan dalam keadaan tinggal di lingkungan pesantren. Belum lagi bicara tentang amalan-amalan sunnah, seperti salat malam atau puasa senin-kamis.
Coba bayangkan, jika seandainya kita jauh dari ma’had (pesantren), jauh dari Al-Qur’an, jauh dari majelis ilmu, mungkin akan meninggalkan shalat. Apa faedah hidup seseorang ketika meninggalkan shalat? Apa fungsi hidupnya seorang manusia ketika badannya tidak mampu dia gerakkan untuk ruku’ dan sujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala?
Berbeda dengan mereka (Salaf), yang begitu bersemangat dalam menunaikan kewajiban-kewajiban yang telah Allah wajibkan, terkhusus shalat lima waktu. Para ulama salaf, ketika mereka mau ber-wudhuk dan mendengar adzan, berubahlah wajah mereka menjadi kuning karena takut akan menghadap Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah buah dari ilmu, buah dari keberkahan, melahirkan al-Khasyiah wal Khusyu’.
Ilmu adalah wasilah (sarana untuk mendapatkan tujuan). Ghayah (tujuan) dari pada ilmu adalah amal. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam mengabarkan dalam hadisnya,
لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربعة
“Tidak akan mampu bergerak kaki seorang hamba di yaumul qiyamah, sampai ditanya tentang empat perkara.”
Dalam permasalahan ilmu, Allah tidak mempertanyakan tentang al-wasilah. Tetapi Allah bertanya tentang al-ghayah. Dalam masalah rezeki, Allah tanyakan keduanya, bagaimana cara kamu mendapatkan rezeki dan untuk apa engkau keluarkan rezeki tersebut. Namun dalam masalah ilmu, Allah subhanahu wa ta’ala tidak bertanya tentang al-wasilah, tetapi tentang ghayah. Dipertanyakan ilmu yang dimiliki, untuk apa diamalkan? Ini menunjukkan bahwa hal yang terpenting dari ilmu yang kita tuntut adalah ghayah-nya.
Ada sesuatu yang salah pada diri kita semuanya, yaitu kurangnya keikhlasan. Bisa saja kita menuntut ilmu dengan motivasi, “Kalau di rumah saya tidak punya teman, kalau di ma’had temannya banyak, orangnya ramai, suasananya ramai terus, tidak pernah sepi dan sunyi”. Selain itu, mungkin tujuan menuntut ilmu karena sudah capek di rumah, lelah sekolah, sehingga lebih enak di pesantren. Atau dikarenakan tujuan-tujuan yang lainnya, tidak untuk ibadah kepada Allah, bukan demi mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala
Ini menjadi sebab di antara sebab yang paling utama mengapa hati kita tidak bisa tunduk dengan kewajiban yang Allah wajibkan kepada kita yang merupakan sesuatu amalan yang sangat mudah untuk dilakukan dalam keadaan berada di pesantren. Ini semua penyebabnya ialah karena kurangnya keikhlasan.
Oleh karena itu, yang pertama harus diperbaiki adalah niat dan keikhlasan dalam menuntut ilmu. Ketika hubungan baik dengan Allah, niat hanya untuk Allah, maka Allah akan memberikan keringanan dan kemudahan. Namun ketika tidak menjaga hubungan baik dengan Allah, sedang yang menjadi asal dari ibadah adalah ikhlas, maka akan menjadi salah dan rusak. Maka tidak akan memberikan manfaat. Maka penyakit yang pertama adalah kurangnya keikhlasan.
Dengan demikian, luruskan keikhlasan kita serta perbaiki niat kita untuk mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika niat sudah tulus kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kapanpun dan bagaimanapun kondisinya, baik ada yang melihat maupun tidak ada yang melihat, ketika itu merupakan sebuah ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, katakanlah, “Allah melihat saya.”
وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ ۖ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ
“Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan” (Al-An’am: 3).
Ketika tidak ada yang melihat dan mengawasi, kita katakan, “Shalat ini adalah kewajiban yang Allah wajibkan kepada saya. Guru saya, pengawas saya, bukanlah pemilik surga. Bahkan mereka sendiri butuh dengan surga Allah, butuh takut dengan nerakanya Allah. Sehingga bagaimana mungkin saya shalat untuk dia, sedangkan dia tidak punya apapun, tidak mampu menyelamatkan saya, tidak punya apapun dari kekuatan dan kekuasaan dari masalah ini”.
Apabila ada keikhlasan, walaupun di tengah hutan, tidak ada siapapun yang melihat, maka akan tetap menjalankan kewajiban, karena Allah subhanahu wa ta’ala yang menjadi tujuan.
Ini penyebab yang paling utama dan pertama, dan ini merupakan sesuatu yang paling harus kita perbaiki dan luruskan. Sehingga kalau seandainya ada orang masih malas-malasan shalat, malas belajar, malas membaca Al-Qur’an, ini berarti dia masih kurang keikhlasannya.
Terakhir, apa yang disebutkan oleh Atha’ Al-Khurosani rahimahullah sebagaimana,
ما من عبد يسجد لله سجده في بقعه من بقاع الارض الا الشهيد له يوم القيامه و ابكت عليه يموت
“Tidaklah seseorang sujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan satu sujud dari tempat-tempat di muka bumi ini kecuali tempat tersebut akan mempersaksikannya di yaumul qiyamah (Ya Allah, si Fulan telah sujud di tempat ini). Dan bumi tempat dia shalat akan menangis karena kematiannya.” (Al-Hilyah jilid II: 185).
Ini adalah hasungan dari para ulama Salaf untuk kita bersemangat untuk beribadah kepada Allah tabaraka wa ta’ala, terkhusus dalam perihal shalat. Mudah-mudahan dapat menjadi nasihat untuk kita semuanya.
(Diringkas dari kajian Ustadz Harits Abu Naufal oleh Tim Syiar Tauhid Aceh)
