Kesabaran seorang Muslimah

Share Yuk!!!

Seorang muslim, demikian juga seorang muslimah jangan pernah bosan untuk membahas permasalahan tentang kesabaran. Karena permasalahan yang satu ini adalah suatu perkara yang begitu kita butuhkan.

Berkata al-Imam an-Nawawi rahimahullahu ta’ala,

عَن عَطَاءُ بْنُ أَبِى رَبَاحٍ قَالَ قَالَ لِى ابْنُ عَبَّاسٍ أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى . قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنِّى أُصْرَعُ ، وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى . قَالَ « إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ » . فَقَالَتْ أَصْبِرُ . فَقَالَتْ إِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ ، فَدَعَا لَهَا

”Dari ‘Atho’ bin Abi Rabah, ia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Maukah kutunjukkan wanita yang termasuk penduduk surga?” ‘Atho’ menjawab, “Iya mau.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Wanita yang berkulit hitam ini, ia pernah mendatangi Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam, lantas ia pun berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku sering terbuka karenanya. Berdoalah pada Allah untukku.” Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Jika mau sabar, bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdoa pada Allah supaya menyembuhkanmu.” Wanita itu pun berkata, “Aku memilih bersabar.” Lalu ia berkata pula, “Auratku biasa tersingkap (kala aku terkena ayan). Berdoalah pada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa pada Allah untuk wanita tersebut.” (HR. Bukhari no. 5652 dan Muslim no. 2576).

Wanita yang disebutkan dalam hadis tersebut adalah Su’airah al-Asadiyyah al-Habasyiah Ummu Zufar radhiallahu ta’ala ‘anha. Mungkin nama ini jarang atau bahkan baru pertama kali kita dengarkan. Namun wanita yang berkulit hitam dari Habasyah (Ethiopia) ialah seorang muslimah yang telah disebutkan dan dijamin oleh Nabi sebagai seorang penghuni surga kelak.

Ada dua pelajaran penting yang dapat diambil dari hadis di atas. Pertama, kata Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ta’ala ‘anhuma,

أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Maukah kutunjukkan wanita yang termasuk penduduk surga?”

Ucapan Abdullah ibnu Abbas ini bukan berasal darinya. Melainkan dari kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kabar dari Nabi ini sebenarnya juga bukan dari beliau, akan tetapi dari Allah rabbul’alamin.

Ahlussunnah wal jama’ah, di antara manhaj dan akidah mereka di dalam memberikan hukum terhadap penduduk surga, itu ada dua pembagian. Kata Syaikh al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala, “Yang demikian itu disebabkan bahwa penduduk surga itu terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama, yaitu penduduk surga yang kita persaksikan bahwa mereka itu adalah penduduk surga dengan sifat-sifat yang mereka miliki. Golongan kedua adalah yang kita persaksikan bahwa mereka itu adalah penduduk surga, dengan nama-nama mereka.”

Kemudian kata syaikh al-Utsaimin, “Adapun orang-orang yang kita persaksikan bahwa mereka itu adalah penduduk surga dengan sifat-sifat yang mereka miliki, maka setiap orang mukmin dan setiap orang yang bertakwa, maka kita persaksikan bahwa yang memiliki sifat-sifat ini adalah penduduk surga.”

Orang mukmin itu adalah sebuah sifat, orang yang beriman kepada Allah tabaraka wa ta’ala, beriman kepada rasulnya, beriman kepada hari kiamat dan seterusnya, maka ini adalah golongan orang-orang yang kita persaksikan bahwa mereka adalah penduduk surga dengan sifat-sifat yang mereka miliki. Bukan orangnya, tidak disebutkan namanya, akan tetapi sifatnya. Dalilnya adalah sebagaimana firman Allah tabaraka wa ta’ala akan penduduk surga,

أعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Qs. Ali ‘Imran [3]: 133).

Maka siapa saja orang yang bertakwa, siapa saja orang yang beriman maka dia adalah penduduk surga. Ini hukum secara sifat dan secara umum.

Demikian pula firman Allah tabaraka wa ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ ٠ جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. al-Bayyinah [98]: 7-8)

Maka kata Syaikh al-Utsaimin, “Setiap mukmin yang bertakwa dan melakukan amalan saleh, maka kita persaksikan bahwa mereka itu adalah penduduk surga. Akan tetapi tidak kita katakan bahwa Fulan dan Fulan itu adalah penduduk surga. Karena kita tidak mengetahui dengan amalan apa dia akan mengakhiri hidupnya.”

Bagaimanapun bentuk amalannya, bagaimanapun banyaknya amalan saleh yang dia lakukan, selama dia masih hidup maka tidak diperbolehkan bagi kita untuk menyatakan bahwa dia itu adalah penduduk surga.

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Dan juga kata syaikh al-Utsaimin, “Kita tidak mengetahui, apakah batin orang tersebut sama dengan penampilan dzahirnya atau tidak. Jangan sampai dia menampakkan amalan kebaikan secara dzahir dan menyembunyikan kekufuran.”

Ada kisah beberapa pemimpin dan tetua kafir Quraisy yang memimpin Perang Uhud dan menyebabkan gigi geraham Nabi patah, kepala Nabi berdarah. Sehingga Nabi keesokan harinya di salat Fajar berdoa,

اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا

“Wahai Allah, berilah laknat kepada Fulan dan Fulan.”

Di antaranya Sofwan yang didoakan oleh Nabi dengan doa tersebut. Kemudian ditegur oleh Allah tabaraka wa ta’ala,

لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ إِلَى قَوْلِهِ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

“Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allâh menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim. (Ali-Imrân/3:128)”. [HR. Al-Bukhâri no: 4069].

Sofwan kemudian masuk Islam. Padahal dulunya dia adalah pemimpin perang pada Perang Uhud tersebut.

Kemudian kata syaikh al-Utsaimin,

“Adapun jika ada seorang lelaki ataukah wanita yang mati dalam keadaan istiqamah dan taat kepada Allah tabaraka wa ta’ala dalam melakukan amalan-amalan ketaatan, maka kita katakan: ‘Kita berharap orang tersebut termasuk dalam barisan penduduk surga.'”

Golongan kedua, adalah orang-orang yang kita persaksikan menjadi penduduk surga dengan takyin, menyebutkan nama orangnya. Yaitu orang-orang yang telah disebutkan namanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mereka itu adalah penduduk surga. Seperti sepuluh orang yang telah diberikan kabar gembira menjadi penduduk surga, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Sa’id ibnu Zaid, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman ibnu ‘Auf, Thalhah ibnu Ubaidillah, Abu Ubadah al-Jarrah’, dan Zubair bin Awwam radhiallahu ta’ala ‘anhum.

Kata Nabi,

أبو بكر في الجنة وعمر في الجنة وعثمان في الجنة وعلي في الجنة وطلحة في الجنة والزبير في الجنة وعبد الرحمن بن عوف في الجنة وسعد في الجنة وسعيد في الجنة وأبو عبيدة بن الجراح في الجنة

“Abu Bakr di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az Zubair di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’d di surga, Sa’id di surga, dan Abu Ubaidah ibnul Jarrah di surga.” [HR at-Tirmidzi (3747), hadits shahih.]

Dalam satu rangkaian hadits, disebutkan sepuluh nama dari orang-orang tersebut yang menjadi penduduk surga. Orang-orang yang telah disebutkan namanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penduduk surga, maka tidak ada keraguan sedikitpun bagi kita untuk menyebutkan bahwa mereka itu adalah penduduk surga.

Pelajaran kedua, seorang muslim dan muslimah hendaklah tidak hanya memperhatikan penampilan fisiknya saja. Penampilan fisik adalah perkara yang dituntut. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ

“Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya” (HR. Tirmidzi, di-shahih-kan oleh syaikh al-Albani)

Silahkan berpakaian yang bagus. Akan tetapi, jangan lupa bahwa ada keindahan lain dari penampilan yang harus diberikan perhatian yang lebih. Yaitu penampilan batin atau yang dikenal dengan keindahan dari dalam. Penampilan yang berupa akhlak, ketakwaan seorang hamba kepada Allah rabbul’alamin.

Lihat wanita berkulit hitam ini, yang mungkin akan disepelekan oleh sebagian orang. Bahkan namanya pun dalam sejarah Islam jarang kita dengar. Akan tetapi dia telah tercatat sebagai penduduk surga disebabkan kesabarannya dan keimanannya yang begitu kokoh kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.

Wanita ini berbeda dengan apa yang terjadi belakangan ini. Kaum wanita, mereka mengumbar auratnya tanpa malu lagi. Bahkan, orang-orang yang telah menutup auratnya masih saja ingin menampakkan dan menimbulkan fitnah bagi lelaki. Pakai hijab, pakai cadar, akan tetapi senangnya selfie. Kemudian mengunggah gambar-gambar mereka ke media sosial, yang ini akan menimbulkan fitnah untuk dirinya dan orang-orang yang tidak berhak untuk melihatnya.

Tatkala engkau telah menyatakan keimanan kepada Allah tabaraka wa ta’ala, jika engkau telah tunduk ingin menutupi hijab kamu, maka tutuplah karena Allah tabaraka wa ta’ala. Jangan membuka celah lagi bagi syaithan. Bertakwalah kalian kepada Allah. Jangan menjadi sumber fitnah bagi lelaki. Kalau memang jujur keimananmu maka tunjukkan perhiasan dan kecantikanmu untuk suamimu, untuk orang yang halal bagi dirimu. Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang bertakwa,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ العَبْدَ التَّقِيَّ الخَفِيَّ

“Sesungguhnya, Allah mencintai hamba yang bertakwa tapi tersembunyi.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Teladanilah Su’airah al-Asadiyyah ini, dia tidak inginkan yang lain, yang dia inginkan adalah surga Allah, yang dia inginkan adalah agar auratnya tertutupi demi menjaga ikehormatannya.

Masih banyak lagi ciri-ciri dari wanita yang salehah. Di antaranya adalah seperti apa yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alahi wasallam,

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani).

Inti dari kisah ini adalah seperti ungkapan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ

“Jika mau sabar, maka bagimu surga.”

Ini memberikan pelajaran kepada kita akan keutamaan orang-orang yang bersabar di sisi Allah tabaraka wa ta’ala atas ujian dan musibah yang menimpanya.

 

(Diringkas dari pembahasan kitab Riyadush Shalihin yang dikarang oleh al-Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala dalam Bab Sabar).


Lihat faidah ilmiah lainnya:

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Share Yuk!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares