Adab Berdoa
4 min read
Di antara hal-hal yang menjauhkan istijabah doa dari seseorang adalah terburu-buru untuk dikabulkan doanya. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan kisah tentang Nabi Zakaria di dalam surat Maryam. Ketika Nabi Zakaria berkata kepada Allah,
“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”. (QS. Maryam [19]: 4-6)
Nabi Zakaria berdoa meminta seorang anak yang saleh bukan hanya pada saat itu saja. Beliau menyebutkan,
إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
“Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku” (QS. Maryam [19] : 4)
Ini menunjukkan doa Nabi Zakaria alaihissalam kepada Allah untuk diberikan keturunan merupakan doa yang sangat lama. Allah mengabulkan doa tersebut puluhan tahun kemudian. Tetapi beliau mengatakan bahwa ia tidak pernah kecewa berdoa kepada Allah.
Dari kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa dibutuhkan kesabaran dalam berdoa. Mungkin, seandainya Allah mengabulkan doa kita langsung, itu akan menjadi mudharat bagi kita. Oleh karena itu, Allah ingatkan dalam Alquran,
عَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Seorang hamba, hanya berdoa dan meminta kepada Allah. Ketika kita berdoa dan memohon kepada Allah dengan sebuah doa, ini sudah menunjukkan sebuah ibadah, penyerahan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Serahkan semuanya kepada Allah. Allah yang lebih tahu kapan doa itu dikabulkan dan kapan doa itu tidak dikabulkan.
Kemudian yang kedua, mungkin dalam berdoa kita tidak memuji Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa di shalat malam beliau memuji Allah dengan pujian yang sangat panjang, sedangkan yang beliau minta hanya satu, yaitu “ampunilah dosaku.”
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim, Rasulullah memulai doanya dengan pujian,
للَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيَّامُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ
“Ya Allah, untuk-Mu segala puji; Engkau cahaya langit dan bumi; untuk-Mu segala puji, Engkau pendiri langit dan bumi; dan untuk-Mu segala puji, Engkau Tuhan langit dan bumi dan segala isinya. Engkau Maha Benar! Janji-Mu benar, firman-Mu benar, hari perjumpaan dengan-Mu benar, surga benar, neraka benar dan hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu au bertawakkal, dan kepada-Mu aku kembali; karena membela agama-Mu aku ber-Musuhan, dan kepada-Mu aku bertahkim (memohon keadilan).”
Baru kemudian Rasulullah berkata,
فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَأَخَّرْتُ وَأَسْرَرْتُ وَأَعْلَنْتُ أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
“Karena itu, ampunilah segala dosa-dosaku, yang lama dan yang baru, yang rahasia dan yang nyata, Engkaulah ilahku, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau.”
Ini adalah adab seseorang dalam berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memuji Allah dengan nama dan sifat-Nya.
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ
“Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (QS. al-A’raf [7]: 180)
Begitu pula surah al-Fatihah, mengajarkan kepada kita adab dalam berdoa,
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ٠ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ٠ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ٠ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ٠إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. al-Fatihah [1]: 1-5)
Baru setelahnya,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ٠ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. al-Fatihah [1]: 6-7)
Berkata al-Imam Muslim rahimahullah,
حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ وَابْنُ نُمَيْرٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ كِلَاهُمَا عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَحْوَلِ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا حَدِيثُ ابْنِ جُرَيْجٍ فَاتَّفَقَ لَفْظُهُ مَعَ حَدِيثِ مَالِكٍ لَمْ يَخْتَلِفَا إِلَّا فِي حَرْفَيْنِ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ مَكَانَ قَيَّامُ قَيِّمُ وَقَالَ وَمَا أَسْرَرْتُ وَأَمَّا حَدِيثُ ابْنِ عُيَيْنَةَ فَفِيهِ بَعْضُ زِيَادَةٍ وَيُخَالِفُ مَالِكًا وَابْنَ جُرَيْجٍ فِي أَحْرُفٍ و حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا مَهْدِيٌّ وَهُوَ ابْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا عِمْرَانُ الْقَصِيرُ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَاللَّفْظُ قَرِيبٌ مِنْ أَلْفَاظِهِمْ
“Telah menceritakan kepada kami (Amru An Naqid) dan (Ibnu Numair) dan (Ibnu Abu Umar) mereka berkata, telah menceritakan kepada kami (Sufyan) -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami (Muhammad bin Rafi’) ia berkata, telah menceritakan kepada kami (Abdurrazaq) telah mengabarkan kepada kami (Ibnu Juraij) keduanya dari (Sulaiman al Ahwali) dari (Thawus) dari (Ibnu Abbas) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun hadits Ibnu Juraij, maka lafazh-nya sama dengan hadits Malik kecuali pada dua huruf. Kalau Ibnu Juraij kata Qayyam menjadi Qayyim. Dan ia juga menyebutkan, “Wa Maa Asrartu” (dan juga dosa yang aku sembunyikan). Adapun hadits Ibnu ‘Uyainah, maka di dalamnya terdapat tambahan dan menyelisihi Malik dan Ibnu Juraid pada banyak kata. Dan Telah menceritakan kepada kami (Syaiban bin Farrukh) telah menceritakan kepada kami (Mahdi) ia adalah Ibnu Maimun, telah menceritakan kepada kami (Imran al Qashir dari (Qais bin Sa’d) dari (Thawus) dari (Ibnu Abbas) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hadits ini, sedangkan lafazh-nya hampir sama dengan lafazh mereka.”
Ada beberapa kalimat yang berbeda namun maknanya semua sama antara lafaz yang datang dari al-Imam Malik dengan lafaz yang datang dari Ibnu Juraij. Ini menunjukkan bagaimana kecerdasan dan kekuatan hafalan al-Imam Muslim rahimahullah, beliau bisa membedakan riwayat yang datang dari Ibnu Juraij dengan riwayat yang datang dari Imam Malik dengan lafadz yang berbeda walaupun maknanya sama.
(Diringkas dari Kajian Ustadz Harits Abu Naufal)
Lihat faidah ilmiah lainnya:
- Mulia Karena Memuliakan Islam
- Kesabaran Seorang Muslimah
- Jangan Tertipu dengan Usia
- Menutup Pintu-Pintu Fitnah
- Berpegang Teguh pada Al-Qur’an
- Mengikuti Rasulullah
- Pembatal Keislaman
- Taqlid dan Pengaruh Buruknya
- Kriteria Orang yang Berakhlak Mulia
Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh
Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322
