Di Antara Keistimewan Bertauhid
5 min read
Di antara keistimewaan bertauhid jika seorang muslim mampu merealisasikannya dengan sebaik-baiknya digambarkan Allah melalui firman-Nya:
اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah imam (sosok panutan) yang patuh kepada Allah, hanif (lurus), dan bukan termasuk orang-orang musyrik.”(QS. An-Naḥl [16] : 120)
Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati Nabi Ibrahim dengan 4 sifat yang sangat mulia:
1. Nabi Ibrahim adalah imam (panutan) di dalam kebaikan terutama perkara tauhid
Hal ini dikarenakan kesempurnaan sifat sabar dan keyakinan yang beliau miliki. Di antara ujian yang pernah beliau alami adalah ketika beliau hendak dimasukkan ke dalam kobaran api. Namun kesempurnaan tauhid yang beliau miliki mendorong beliau tidak bergeming sedikit pun dalam menerima ujian ketika menempuh jalan Allah tersebut, hingga Allah takdirkan api itu menjadi dingin.
قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ
“Kami (Allah) berfirman, “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!”(QS. Al-Anbiyā’ [21] : 69)
Dua sifat ini, yaitu kesabaran dan keyakinan adalah sebab yang menjadikan seseorang mampu meraih keimaman di dalam agama.
2. Nabi Ibrahim adalah seorang yang khusyu’ dan patuh serta terus menerus berada dalam ketaatan
Hal terpenting bagi seseorang setelah memulai keimanan adalah istiqamah di dalam mempertahankan keimanan tersebut. Nabi Ibrahim adalah panutan kita di dalam hal ini.
3. Nabi Ibrahim adalah seorang yang hanif (lurus)
Nabi Ibrahim adalah orang yang tulus, bersih dan lurus serta senantiasa berpaling dari kesyirikan dan hanya fokus hatinya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
4. Nabi Ibrahim sangat jauh dari kesyirikan dan senantiasa menyelisihi orang-orang musyrik
Sifat keempat ini membutuhkan kesabaran dan kekuatan iman. Nabi Ibrahim adalah orang yang pantas dijadikan panutan dalam berpegang kepada tauhid dan menyelisihi orang-orang musyrik pada sesembahan-sesembahan mereka.
Keempat sifat ini jika terdapat dalam diri seseorang, nyatalah wujud dari tauhid. Ayat ini bertujuan agar kita termotivasi mengikuti empat sifat Nabi Ibrahim tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala secara khusus pernah memerintahkan kepada kita untuk mengikuti Nabi Ibrahim, yakni dalam firman-Nya:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ
“Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari (kekufuran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtaḥanah [60] : 4)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua termasuk dari orang-orang yang termotivasi untuk meniru Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman ketika menyebutkan tentang sifat-sifat orang beriman:
وَالَّذِيْنَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُوْنَۙ
“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhannya.”(QS. Al-Mu’minūn [23] : 59)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang-orang beriman yang bersegera kepada surga Allah dengan beberapa sifat, dan di antara sifat yang paling istimewa pada orang-orang tersebut adalah tidak pernah sekalipun berbuat syirik kepada Allah, baik itu syirik yang tersembunyi maupun yang tampak. Hal ini menjadi motivasi tersendiri bagi kita sebagai seorang muslim yang masih diberikan kemampuan berpikir dan masih dibuka hati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk senantiasa belajar mengenai tauhid untuk diamalkan dan tidak lupa pula mempelajari lawan dari tauhid yaitu syirik untuk dijauhi.
Nabi Ibrahim yang sudah jelas seorang Nabi, hati beliau diisi dengan ilmu yang datang dari wahyu, beliau masih berdoa kepada Allah dengan doa yang terabadikan di dalam Al-Qur’an:
رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ
“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala.”(QS. Ibrāhīm [14] : 35)
Jika seorang Nabi masih memiliki kekhawatiran jatuh dalam lembah kesyirikan, bagaimana lagi dengan kita yang sangat jauh derajatnya dari kenabian. Tentu orang-orang seperti kita yang bukan nabi dan hidup jauh dari masa keemasan Islam, harus lebih khawatir terhadap nilai ketauhidan yang kita miliki. Apakah tauhid kita masih utuh atau telah tercoreng, apakah kita benar-benar bersih dari kesyirikan atau kita sudah pernah tersentuh noda-noda kesyirikan,semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari noda-noda kesyirikan tersebut. Karena orang yang selamat dari kesyirikan baik yang tersembunyi maupun yang nyata, ia telah sampai pada puncak realisasi tauhid, dan ia berhak untuk masuk ke surga tanpa hisab maupun azab.
عَنْ حُصَيْن بْنِ عَبْدِ الرَّ حْـمَنٍ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُـمَّ قُلتُ أَمَا إِنِّـي لَـمْ أَكُنْ فِـي صَلاَةٍ وَلَكِنِّـي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْـتَرْقَيْـتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِـيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمُ الشَّعْبِـيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ اْلأسْلَمِيِّ أَنَّهُ قالَ لا رُقْيَةَ إِلا مِنْ عَيْـنٍ أَوْ حُـمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَـنَ مَنِ انْتَهَى إِلَـى مَا سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِـيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِـيَّ وَ مَعَهُ الرَّهَيْطُ وَ النَّبِـيَّ وَ مَعَهُ الرَّجُلُ وَ الرَّجُلاَنِ وَ النَّبِـيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِـي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِـي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلامَ وَ قَوْمُهُ وَ لَكِنِ انْظُرْ إِلَى اْلأفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى اْلأفُقِ اْلآخَرِ فإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَ مَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِـي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْـجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلا عَذَابٍ فَقالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللهِصَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي اْلإسْلامِ وَ لَمْ يُشْرِكُوا بِالله وَ ذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَـخَرَخَ عَلَيْهِمْ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقالَهُمُ الَّذِينَ لا يَرْقُونَ وَلا يَسْتَرْقُونَ وَ لا يَتَطَيَّرُونَ وَ عَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقالَ ادْعُ الله أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آجَرُ فَقالَ ادْعُ الله أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ
Dari Hushain bin Abdurrahman berkata: “Ketika saya berada di dekat Sa’id bin Jubair, dia berkata: “Siapakah diantara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?” Saya menjawab: “Saya.” Kemudian saya berkata: “Adapun saya ketika itu tidak dalam keadaan sholat, tetapi terkena sengatan kalajengking.” Lalu ia bertanya: “Lalu apa yang anda kerjakan?” Saya menjawab: “Saya minta diruqyah” Ia bertanya lagi: “Apa yang mendorong anda melakukan hal tersebut?”Jawabku: “Sebuah hadits yang dituturkan Asy-Sya’bi kepada kami.” Ia bertanya lagi: “Apakah hadits yang dituturkan oleh Asy-Sya’bi kepada anda?” Saya katakan: “Dia menuturkan hadits dari Buraidah bin Hushaib: ‘Tidak ada ruqyah kecuali karena ‘ain atau terkena sengatan.’”
“Sa’id pun berkata: “Alangkah baiknya orang yang beramal sesuai dengan nash yang telah didengarnya, akan tetapi Ibnu Abbas radhiyallâhu’anhu menuturkan kepada kami hadits dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda: ‘Saya telah diperlihatkan beberapa umat oleh Allâh, lalu saya melihat seorang Nabi bersama beberapa orang, seorang Nabi bersama seorang dan dua orang dan seorang Nabi sendiri, tidak seorangpun menyertainya. Tiba-tiba ditampakkan kepada saya sekelompok orang yang sangat banyak. Lalu saya mengira mereka itu umatku, tetapi disampaikan kepada saya: “Itu adalah Musa dan kaumnya”. Lalu tiba-tiba saya melihat lagi sejumlah besar orang, dan disampaikan kepada saya: “Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang, mereka akan masuk surga tanpa hisab dan adzab.”.’Kemudian Beliau bangkit dan masuk rumah. Orang-orang pun saling berbicara satu dengan yang lainnya, ‘Siapakah gerangan mereka itu?’ Ada diantara mereka yang mengatakan: ‘Mungkin saja mereka itu sahabat Rasulullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam.’ Ada lagi yang mengatakan: ‘Mungkin saja mereka orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam dan tidak pernah berbuat syirik terhadap Allâh.’ dan menyebutkan yang lainnya. Ketika Rasulullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam keluar, mereka memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Beliau bersabda: ‘Mereka itu adalah orang yang tidak pernah minta diruqyah, tidak meminta dikay (menempel luka dengan besi yang dipanaskan) dan tidak pernah melakukan tathayyur (beranggapan sial dengan kejadian tertentu yang ada di sekitar) serta mereka bertawakkal kepada Rabb mereka.’Lalu Ukasyah bin Mihshon berdiri dan berkata: “Mohonkanlah kepada Allâh, mudah-mudahan saya termasuk golongan mereka!’ Beliau menjawab: ‘Engkau termasuk mereka’, Kemudian berdirilah seorang yang lain dan berkata: ‘Mohonlah kepada Allâh, mudah-mudahan saya termasuk golongan mereka!’ Beliau menjawab: ‘Kamu sudah didahului Ukasyah.’.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Dapat kita saksikan di awal kisah, Hushain bin Abdurrahman sampai menjelaskan ia tidak tertidur di malam itu bukan karena sedang melakukan shalat, agar manusia tidak menduga ia sedang melaksanakan shalat ketika melihat bintang yang ditanyakan. Inilah di antara keistimewaan kaum salaf ketika kita membahas keikhlasan mereka dalam beribadah. Hushain sampai membuat pengabaran khusus agar orang yang berada di majelis tersebut tidak menganggapnya sedang melakukan shalat malam.
Kemudian pembicaraan pun berlangsung hingga pembahasan apa yang Hushain lakukan ketika terkena sengatan, yakni ia meminta diruqyah.Sa’id bin Jubairpun memberikan faedah mengenai sabda Rasulullah tentang sebagian orang dari umat ini yang kelak akanmemasuki surga tanpa hisab maupun azab, yaitu orang-orang yang tidak meminta diruqyah, kay, maupun bertathayyur, serta hanya bertawakkal kepada Allah. Hal tersebut dalam rangka mempertahankan keutuhan tauhid, yakni dengan tidak meminta apa pun kepada selain Allah baik itu meminta diruqyah atau selainnya.
Di dalam hadits ini juga terlihat bentuk nyata dari penerapan tauhid dalam kehidupan seseorang, yakni tawakkal hanya kepada Allah serta ganjaran yang sangat besar bagi orang yang benar-benar bertauhid. IntinyaadalahbahwakesempurnaandankeutuhantauhidyangdimilikiseseorangakanmenjamindirinyamemasukisurgaAllahkelaktanpahisab maupun azab.
Semoga kita termasuk di antara hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang beruntung tersebut.
Pemateri : Ustadz Iqbal Abu Hisyam حَفِظَهُ اللهُ
Editor : Team Syiar Tauhid Aceh
