Fri. Jul 10th, 2026

Menutup Pintu-Pintu Fitnah

11 min read
Menutup pintu-pintu fitnah

Ada sebuah pelajaran yang sangat berharga yang dapat dipetik dari sejarah Thalhah bin Ubaidillah radhiallahu ta’ala ‘anhu pada zaman kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ta’ala ‘anhu.

Ali mengirim surat kepada penduduk Kufah, meminta mereka untuk membela kebenaran. Di antara isi suratnya adalah sebagai berikut,

“Aku telah memilih kalian di antara wilayah-wilayah lainnya dan aku berpaling kepada kalian atas apa yang terjadi. Jadilah penolong dan pembela bagi agama Allah. Dukunglah kami dan bangkitlah bersama kami. Perbaikanlah yang kami inginkan agar umat kembali menjadi satu saudara. Siapa yang mencintai dan mengutamakan hal ini, maka berarti dia mencintai kebenaran dan mengutamakannya. Namun siapa yang tidak menyukainya maka berarti ia pun tidak menyukai kebenaran dan membencinya.”

Ketika Ali dan pasukannya mendekati Kufah, ia menerima berita tentang apa yang telah menimpa pasukannya di Bashrah. Dan ketika ia tiba di Dzu Qar, Utsman bin Hunaif mendatanginya dalam keadaan lemah tanpa sedikit pun rambut di wajahnya. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, engkau telah mengutusku ke Bashrah dengan memiliki jenggot. Dan sekarang aku datang kepadamu dalam keadaan tanpa jenggot!” Ali berkata, “Engkau telah mendapatkan pahala dan kebaikan.”

 

Pelajaran Saat Terjadi Fitnah

Di Kufah, sahabat mulia Abu Musa al-Asy’ari bangkit dan menasihati orang-orang agar tidak ikut campur dalam fitnah yang terjadi. Ketika terjadi fitnah, orang sekaliber Abu Musa Al-Asy’ariradhiallahu ta’ala ‘anhu yang digelar oleh Rasulullah memiliki suara seperti suara Nabi Daud ‘alaihissalam, juga termasuk dari kalangan sahabat, menasehati kaum Muslimin untuk menjauhi fitnah.

Ia menceritakan kepada mereka apa yang pernah didengarnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika beliau berkata, “Sungguh akan terjadi suatu fitnah di mana orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berkendaraan.”

Dalam keadaan mereka sudah memiliki keilmuan yang mapan, yakni mampu melihat fitnah, mereka justru bersikap demikian. Tentunya menjadi pelajaran bahwa jangan setiap kali terjadi fitnah, seseorang menjadi yang terdepan, juru bicara dan corongpertikaian. Terkadang bisa saja ia berada di mauqif yang benar. Namun, dia dimasukkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke dalam neraka, di tengah-tengah fitnah itu

Maksudnya adalah ketika terjadi fitnah, terkadang seseorang berpihak kepada kebenaran. Namun karena dirinya tidak menjaga lisan, terlalu banyak yang dibicarakan, sehingga terjatuh ke dalam dosa. Agar tidak terjatuh dalam perkara tersebut, yang harus dijaga adalah hati dan lisan, sambil berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Lalu utusan Amirul MukmininAli, di antaranya Hasan Ibnu Abbas dan ‘Amr bin Yasir mengajak orang-orang untuk membela khalifah yang telah di-bai’atoleh kaum Muhajirin dan Anshar, agar posisinya lebih kuat sehingga bisa menegakkan hukum dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.

Beberapa hadirin kemudian berbicara, di antaranya ialah Qa’qa’ bin Amru yang mendukung pendapat Abu Musa namun ia juga sekaligus mengoreksinya dengan berkata, “Sesungguhnya yang dikatakan oleh gubernur adalah benar, namun orang juga membutuhkan seorang pemimpin yang melawan kezhaliman, dan menolong yang dizhalimi serta merekatkan kembali ikatan manusia. Amirul Mukminin Ali melaksanakan apa yang menjadi tugasnya, dan ia telah berbuat adil dalam himbauannya, hanya perbaikanlah tujuannya, maka bergabunglah dengannya.”

Orang-orang menyambut seruan untuk bergabung dengannya dan bergerak dengan Hasan dalam sebuah pasukan yang berjumlah hampir sembilan ribu prajurit, di antara tokoh yang ikut bergabung antara lain: Qa’qa’ bin Amru, Sa’ad bin Malik, Zaid bin Shuhan, Adi bin Hatim dan Hujr bin Adi.

Di sana sang imam yang baik dan saleh berdiri dan menjelaskan kepada pasukannya jalan lurus yang akan ditempuh, bahwasanya kebenaran yang mereka tuju memiliki banyak jalan dan jalan terakhir adalah dengan mengangkat senjata dan jika mereka terpaksa harus bertempur melawan saudara-saudara mereka, maka haruslah dengan cara yang benar. Ia menyampaikan khotbahnya di hadapan mereka dan berkata,

“Wahai penduduk Kufah, kalian telah berhasil merebut kekuasaan orang-orang non Arab dan kalian hancurkan kesatuan mereka hingga kalian mendapatkan warisan peninggalan mereka, kalian menjadi berkecukupan dan bisa menolong saudara-saudara kalian menghadapi musuh mereka. Aku telah mengajak kalian untuk menghadapi saudara-saudara kita dari penduduk Bashrah. Jika mereka mau kembali maka itulah yang akan kita inginkan. Jika mereka memaksa maka kita akan menghadapi saudara-saudara kita dari penduduk Bashrah. Jika mereka mau kembali maka itulah yang kita inginkan. Jika mereka memaksa maka kita akan menghadapi mereka dengan kelembutan dan kita biarkan mereka hingga mereka memulai menyerang kita secara zhalim. Kita tidak akan melepaskan satu hal pun yang mengandung kebaikan, melainkan pasti kita dahulukan daripada hal lain yang mengandung kerusakan Insya Allah, dan tiada kekuatan kecuali hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala.”

Inilah kelebihan yang dimiliki oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamyang tidak dimiliki oleh kebanyakan manusia di muka bumi ini. Bagaimana mereka bisa bersikap adil, bijak dan inshaf walaupun kepada orang-orang yang dianggap sebagai musuh oleh mereka. Ini juga sebagaimana disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’anul Karim,

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ

“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan.” (QS. al-Maidah [5] : 8)

Beginilah kehidupan para sahabat Rasul, mereka akan selalu bersikap di atas ilmu walaupun dalam keadaan mereka bermusuhan, walaupun musuh yang mengkafirkan mereka. Tidak ada satu pun dari sahabat yang mereka mengkafirkan orang-orang khawarij bersamaan dengan orang-orang khawarij mengkafirkan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena perkara takfir, tabdi’ dan tafsiq adalah hukum syar’i.

Orang yang tidak mengukur sesuatu dengan ukuran keadilan, itu bukan jalannya Islam. Itu merupakan jalannya orang-orang Yahudi yang dilaknat oleh Allah subhanahu wa ta’ala.  

Sebagaimana dikisahkan tentang bagaimana orang-orang Yahudi begitu memuliakan Abdullah bin Salam, seorang pendeta kota Madinah pada waktu itu, sebelum beliau masuk Islam. Namun ketika Abdullah bin Salam masuk Islam dan mengumumkan keIslamannya dan tidak lagi berjalan dengan jalannya orang Yahudi, orang Yahudi yang tadinya mereka berkata, “Engkau adalah ulama kami dan anaknya ulama kami.” Kemudian berubah menjadi, “Engkau adalah orang yang paling jahil dari kalangan kami dan anak yang paling jahil dari kalangan kami.”

Kembali kepada persoalan fitnah, kemudian Ali berusaha memastikan berita tentang dua saudara nya Thalhah dan Zubair, untuk mengetahui apa yang menyebabkan keberangkatan mereka dan apa yang mereka inginkan. Juga untuk mengingatkan mereka kepada Allah Ta’aladan mengutamakan kesatuan kaum muslimin. Ia pun mengutus seorang komandan yang cerdas Qa’qa’ bin Amru, dan berpesan kepadanya, “Temuilah dua orang ini dan ajaklah mereka untuk kembali kepada persatuan dan jama’ah, dan ingatkan akan besarnya bahaya perpecahan.”

Dapat diambil pelajaran dari ucapan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ta’ala ‘anhu, bahwa mentaati pemimpin atau mentaati suatu kekuasaan di bawah pemimpin Muslimin bukanlah perkara dunia, akan tetapi termasuk perkara agama.

Sebagian orang-orang liberal mengatakan, “Jangan dicampur antara perkara dunia dengan perkara akhirat. Adapun masalah pemimpin, mau dia kafir ataupun tidak maka ini perkara dunia, bukan urusan agama. Jadi tidak ada masalah orang kafir memimpin orang Islam atau orang Islam memimpin orang kafir. Ini adalah perkara dunia bukan perkara akhirat. Jadi jangan membawa ayat Qur’an untuk mengurusi masalah ini.”

Jelas ini sebuah kesalahan. Karena ketika terjadi bercerai-berainya muslimin, yang akan menjadi rusak adalah lima perkara darurat dalam agama, yaitu: harta, kehormatan, keturunan, akal, dan agama itu sendiri.

Ketika terjadi peperangan, pemberontakan, kekacauan dalam negara, maka lima perkara ini akan hancur. Seseorang tidak bisa beribadah dengan benar, tidak bisa menjalankan salatJum’at, Idul Fitri dan tidak ada ketenangan mereka beribadah dalam agama mereka.

Menyikapi keikutsertaan Thalhah, dapat dilihat bagaimana sikap bijak Ali bin Abi Thalib radhiallahu ta’ala ‘anhu. Ali tidak mengatakan, “Kenapa bodoh sekali si Thalhah itu. Padahal dia lebih duluan masuk Islam tapi tetap bodoh.”

Akan tetapi, Ali bin Abi Thalib menyuruh menanyakan apa yang terjadi dengan Thalhah bin Ubaidillah. Karena beliau tahu bahwa Thalhah bin Ubaidillah adalah orang yang baik, yang memiliki ilmu yang luas. Sehingga ketika dia berbuat sesuatu, pasti ada alasan yang ada pada Thalhah dan ini yang ingin beliau cari tahu dan beliau ingin mengingatkan tentang pentingnya persatuan dan untuk menjaga darah muslimin dan seterusnya.

Qa’qa’ berangkat hingga tiba di Bashrah. Ia mulai dengan menemui A’isyah radhiyallahua anha, ia mengucapkan salam dan berkata, “Wahai ibu (kami), Apa yang telah mengganggumu dan membuat datang ke negeri ini?”. Begitu beradab utusannya Ali bin Abi Thalib terhadap istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

A’isyah kemudian berkata, “Wahai Anakku, untuk perbaikan dan kedamaian di antara manusia.” Jawaban yang begitu indah, padahal dia tahu ini utusannya Ali bin Abi Thalib.

Jadi semua tujuannya baik. Tidak ada sahabat Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallamyang menginginkan kekuasaan di situ, tidak ada di antara mereka yang menginginkan dunia, yang mereka inginkan adalah kebaikan. Ali menginginkan kebaikan bagaimana muslimin memiliki satu kalimat hingga tenang mereka beribadah. Begitu juga Ummul Mukminin A’isyah radhiallahu ta’ala ‘anha menginginkan perbaikan.

Qa’qa’ berkata, “Maka panggillah Thalhah dan Zubair agar engkau bisa mendengarkan perkataanku dan perkataan mereka.” A’isyah pun memanggil mereka, dan mereka segera datang.

Qa’qa’ berkata, “Aku telah bertanya kepada ummul mukminin, apa yang telah mengganggunya dan membuatnya datang ke negeri ini? Dan ia berkata, untuk perbaikan di antara manusia.” Maka apa yang akan kalian katakan? Apakah kalian setuju atau menentang? Mereka berdua berkata, “Setuju”.

Ini faqih-nya Qa’qa’ bin Amru radhiallahu ta’ala ‘anhu. Ketika terjadi perselisihan, apalagi perselisihan sesama Ahlussunnah, hendaklah dikumpulkan terlebih dahulu kesamaannya apa, tujuannya apa, jangan dimulai dengan perselisihannya. Apabila tujuannya sama-sama menginginkan kebaikan dan membuat kebaikan di tengah umat. Namun ada hal yang diperselisihkan, maka ditimbang mana yang lebih maslahat kepada umat, ini yang diambil dan hal selainnya ditinggalkan.

Qa’qa’ juga berkata, “Sekarang katakan kepadaku, bagaimanakah perbaikan yang kalian inginkan? Demi Allah jika kami menyetujuinya niscaya kami akan memperbaikinya dan jika kami tidak setuju maka kami tidak akan memperbaikinya.”  Ini menunjukkan Qa’qa adalah orang yang pintar dan cerdas.

Mereka berkata, “Para pembunuh Utsman radhiyallahu ta’ala ‘anhu, sesungguhnya jika ini dibiarkan maka berarti meninggalkan hukum al-Qur’an (karena harus meng-qishas orang yang berbuat kezhaliman dan kerusakan di muka bumi ini), dan jika dilaksanakan berarti kita telah menghidupkan al-Qur’an.” Ini yang dituntut oleh A’isyah, Thalhah dan Zubair bin Awwam.

Qa’qa’ berkata lagi,

“Kalian telah menghabisi para pembunuh Utsman radhiyallahu ta’ala ‘anhu dari kalangan penduduk Bashrah. Sebelum menghabisi mereka kalian berdua lebih dekat kepada keistikamahan dari pada hari ini. Kalian telah menghabisi enam ratus orang dari mereka. Lalu membangkitkan kemarahan enam ribu orang yang menuntut balas terhadap kalian dan memisahkan diri dari kalian. Mereka keluar dari pihak kalian. Lalu kalian menuntut Hurqush bin Zuhair, akan tetapi enam ribu orang melindunginya dan saat ini berada dalam keadaan siaga. Jika kalian membiarkan mereka maka berarti kalian telah meninggalkan apa yang pernah kalian katakan sendiri (untuk menuntut darah Utsman). Namun jika kalian memerangi mereka dan orang-orang yang telah memisahkan diri dari kalian maka kalian akan ditimpa kerusakan yang lebih besar dari apa yang kalian takutkan. Kalian telah menyulut orang-orang dari Bani Mudhar dan Rabiah yang ada di negeri ini sehingga mereka bersatu untuk memerangi kalian demi membela mereka, sebagaimana mereka bergabung dengan orang-orang yang telah menyulut peristiwa besar dan dosa yang besar ini!!”

Al-Qa’qa’ melanjutkan,

“Menurutku solusi masalah ini adalah meredekan ketegangan! Jika keadaan sudah tenang maka mereka akan kembali terpisah-pisah. Jika kalian sepakat maka itu adalah pertanda kebaikan, rahmat dan sikap yang baik untuk menjaga kesempatan untuk menuntut balas atas Utsman, serta keselamatan bagi umat ini. Jika kalian tidak sepakat dan tetap bersikeras maka itu adalah pertanda keburukan dan lenyapnya kesempatan untuk menuntut balas ini, serta Allah akan menurunkan banyak musibah atas umat ini. Utamakanlah keselamatan niscaya kalian akan memperolehnya. Jadilah kunci kebaikan sebagaimana halnya kalian dahulu. Janganlah bawa kami kepada bencana sehingga kalian harus menghadapinya dan Allah membinasakan kita semua. Demi Allah, aku mengutarakan maksud ini dan mengajak kalian kepadanya. Aku khawatir masalah ini tidak akan selesai hingga Allah menimpakan kemarahan-Nya terhadap umat ini yang minim perbekalannya lalu terjadilah apa yang terjadi. Sesungguhnya masalah yang terjadi ini sangatlah besar. Bukan seperti masalah-masalah lainnya, bukan sekedar seorang lelaki membunuh seorang laki-laki lainnya atau sekelompok orang membunuh seorang laki-laki atau satu kabilah membunuh seorang laki-laki!”

Mereka menjawab, “Baiklah jika demikian, engkau benar dan telah mengungkapkannya dengan sangat baik, kembalilah, jika Ali datang dengan membawa pemikiran seperti yang engkau utarakan niscaya urusan ini akan selesai.”

Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika mereka sadar telah terjatuh dalam kesalahan, segera mereka kembali dan menyambut apa yang diinginkan oleh Ali bin Abi Thalib.

Maka al-Qa’qa pun kembali kepada Ali dan mengabarkan apa yang terjadi. Ali pun takjub mendengarnya. Perdamaian telah hampir tercapai, namun ternyata ada yang tidak menyukai keadaan tersebut. Mereka adalah para munafiqin, yang tidak akan pernah senang ketika muslimin bersatu. Mereka akan mencari cara-cara lain bagaimana menghancurkan muslimin.

Amirul Mukminin Ali adalah orang yang paling gembira dengan keberhasilan tugas Qa’qa’ dan kesepakatan damai yang dicapainya untuk menyatukan kata dan merapatkan barisan guna menghadapi para pembunuh Utsman dan menghancurkan mereka.

Tidak sedikitpun Ali bin Abi Thalib punya niat, “Saya punya kekuasaan, kekuatan dan prajurit. Nah, saat mereka berbuat kesalahan maka ini adalah kesempatan saya untuk menghancurkan mereka supaya tidak ada lagi orang yang merasa tersaingi dengan kedudukan saya.”

 

Berbeda dengan kita, yang merasa senang jika orang lain terjatuh dalam kesalahan, kita men-tahdzir-nya, mencela, menjatuhkan dan seterusnya. Inilah sifat-sifat yang perlu diperbaiki, sifat-sifat yang harus dijauhi oleh seorang muslim apalagi seorang penuntut ilmu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamtelah menyebutkan dalam hadisnya,

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)

Ali radhiallahu ta’ala ‘anhumengumpulkan pasukannya dan menceritakan tentang keadaan jahiliah dengan berbagai pertikaian dan peperangannya yang membawa kerugian. Beliau mengingatkan,

  1. Jangan sampai di zaman Islam kita terjadi lagi seperti ini, ini sudah cukup kita berperang, bertikai karena kejahilan kita, karena tidak ada yang membimbing kita, sekarang kita sudah sebagai seorang muslim, kita telah diturunkan Al-Qur’andan Sunnah, diutus Rasul, kenapa kita harus selalu bertikai? Lalu datanglah Islam, dengan kebahagiaan dan nikmat Allah atas umat ini dengan menyatukannya di bawah seorang khalifah setelah wafatnya Rasulullah shallallahualaihi wa sallamdan kemudian diikuti oleh khalifah yang setelahnya.

 

  1. Terjadi peristiwa yang menyeret umat ini telah dilakukan oleh orang-orang yang bertujuan untuk mengejar dunia. Mereka merasa dengki atas keutamaan yang dianugerahkan Allah atas umat ini, dan menginginkan untuk mengembalikan keadaan seperti semula (mereka ingin umat Islam seperti dulu, bertikai, perang, ribut, dan seterusnya). Tetapi Allah telah melaksanakan ketetapannya dan Maha Benar terhadap apa yang dikehendakinya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya besok aku akan berangkat, maka berangkatlah bersamaku, dan jangan ikut bersamaku seorangpun yang terlibat dalam pembunuhan Utsman, sekecil apapun itu, hendaklah orang-orang bodoh tersebut membebaskanku dari diri mereka.”

Apa yang beliau sampaikan juga menunjukkan ke-faqih-annya Ali bin Abi Thalib supaya tidak terjadi masalah baru lagi.

Orang dari pasukan A’isyah dan seterusnya sudah sadar dan sudah bersepakat, tujuannya sama-sama baik, tujuannya sama, para pembunuh Utsman adalah orang yang berbuat kezaliman, jangan sampai nanti ada dalam pasukan Ali ketika bertemu dengan A’isyah sehingga akan memicu masalah baru. Jadi fikihnya adalah, apapun yang terjadi ketika terjadi sesuatu yang dianggap fitnah, maka hendaknya seseorang menutup pintu-pintu yang akan bisa membuat luka fitnah semakin membesar.

Orang yang mukmin adalah orang yang di manapun ia berada bisa memberikan keberkahan dan ketenangan di tengah-tengah kaum Muslimin.

 

(Diringkas dari Kajian Ustad Harits Abu Naufal oleh Tim Syiar Tauhid Aceh)


 

Lihat faidah ilmiah lainnya:

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *