Ancaman Bagi Mereka Yang Menceritakan Dosa
1 min read
Di antara bentuk hisab adalah Allah mengingatkan seorang hamba tentang dosa-dosa yang pernah ia perbuat selama di dunia.
أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟
“Apakah engkau ingat dosamu yang ini? Apakah engkau ingat dosamu yang ini?”
Kemudian tatkala hamba tersebut telah diingatkan semua dosa-dosanya di dunia dan ia telah mengaku dan merasa akan celaka karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengatakan:
سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ
“Aku telah merahasiakannya bagimu di dunia, dan Aku mengampuninya untukmu hari ini”. (HR. Bukhari No. 2261)
Banyak dosa kita yang tidak diketahui orang lain dan itu merupakan nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kita. Maka kita tidak boleh menceritakan dosa-dosa tersebut kepada siapa pun. Bahkan terdapat ancaman dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di dalam haditsnya:
كل أُمتي مُعَافًى إلا المُجاهرين، وإنَّ من المُجَاهرة أن يعملَ الرجلُ بالليل عملًا، ثم يُصْبِح وقد سَتره الله عليه، فيقول: يا فلان، عَمِلت البَارحة كذا وكذا، وقد بَات يَسْتُره ربه، ويُصبح يَكشف سِتْرَ الله عنه
“Semua umatku dimaafkan kecuali para mujāhir (orang-orang yang terang-terangan bermaksiat). Dan termasuk terang-terangan ialah seseorang melakukan suatu perbuatan di malam hari lalu pagi tiba dan Allah telah menutupi perbuatan tersebut. Lantas orang itu berkata, “Wahai fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.” Padahal Allah telah menutupi perbuatan itu pada malam hari dan ketika pagi tiba, ia menyingkap tabir Allah atas dirinya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Oleh karenanya apabila dulu sebelum berhijrah kita pernah terjatuh ke dalam berbagai kesalahan dan dosa. Maka kewajiban kita adalah mengunci dan menutup rapat-rapat dosa tersebut dari orang lain. Karena di dalam Islam, kita tidak dibolehkan menceritakan dosa-dosa yang telah ditutupi oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Pemateri : Ustadz Ahmad Abu Abdillah حَفِظَهُ اللهُ
Editor : Team Syiar Tauhid Aceh
