Agar Sya’ban Berkah

Yuk Share
“AGAR SYA’BAN BERKAH” Disusun oleh: Al-Ustadz Farhan Abu Furaihan -hafizhahullah- (pembina Radio Syiar Tauhid Aceh 96,1 FM.)

Oleh: Ustadz Farhan Abu Furaihan

Saudaraku yang dimuliakan Allah, sungguh benar apa yang telah disabdakan oleh Nabi kita shallallahu `alaihi wasallam:

“Kiamat tidak akan datang hingga waktu saling mendekat, setahun seakan sebulan, sebulan seakan sepekan, sepekan seakan sehari, sehari seakan satu jam, dan sejam seakan selembar daun kurma”. [HR. Imam Ahmad No.10521 dan Imam Tirmizi No. 2254, hadits shahih].

Tanpa terasa kita sekarang telah menapaki bulan Sya’ban yang merupakan pintu bagi bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Tentunya ini merupakan nikmat dari Allah yang betapa patut kita syukuri.

Begitu banyaknya musibah dan azab Allah di dunia ini, namun Allah masih memberikan kesempatan untuk kita bertaubat dan memperbaiki diri.

Saudaraku yang dimuliakan Allah, bulan Sya’ban adalah bulan yang mana amalan para hamba diangkat kepada Allah. Dan merupakan sunnah Nabi, adalah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Dari shahabat Usamah Bin Zaid -radhiyallahu ‘anhu- berkata:

“Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa di sebuah bulan seperti puasa engkau di bulan Sya’ban? Maka beliau menjawab: “Sya’ban adalah sebuah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang banyak manusia melalaikannya. Dan ia adalah sebuah bulan yang amalan para hamba diangkat kepada Allah pengatur alam semesta di dalamnya, maka aku senang amalanku diangkat dan aku sedang berpuasa”

Dari ‘Aisyah-radhiyallahu ‘anha- menyatakan:

“Dan aku dak pernah melihat Nabi berpuasa satu bulan penuh kecuali bulan ramadhan. Sebagaimana aku dak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada bulan Sya’ban”. [Bukhari dan Muslim]

Dalam lafaz Imam Muslim disebutkan “bahwa Nabi berpuasa di bulan Sya’ban kecuali sedikit”. Maksudnya, beliau berpuasa di sebagian besar hari-hari dalam bulan Sya’ban.

Dari sahabat Abu Musa al ‘Asy’ari menyatakan bahwa Nabi bersabda:

“Sesungguhnya Allah akan muncul di malam nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan”. [HR. Amad dan Ibnu Maajah No. 1380, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani]

Al-Imam Ibnu Rajab menyebutkan:

“Berpuasa di bulan Sya’ban merupakan lahan untuk puasa bulan Ramadhan. Agar tidak terasa berat dengan puasa di bulan Ramadhan tatkala ia telah membiasakan dirinya dengan puasa di bulan Sya’ban. Manakala ia telah terbiasa dengan puasa Sya’ban dan telah merasakan manis dan lezatnya puasa, maka ia menghadapi Ramadhan dengan penuh semangat dan kekuatan.

Karena bulan Sya’ban merupakan pintu pembuka bulan Ramadhan, maka dianjurkan memperbanyak ibadah di dalamnya dari ibadah-ibadah yang dianjurkan pada bulan Ramadhan. Seperti memperbanyak puasa dan membaca Al-Qur’an. Sehingga jiwa ini telah siap untuk bertemu dengan bulan Ramadhan dan telah terbiasa dengan ketaatan kepada Allah Ar-Rahman.” [lihat: kitab Lathoiful Ma’arif, karya Ibnu Rajab].

Merupakan petunjuk ulama salaf adalah bersungguh-sungguh dengan ibadah di bulan Sya’ban. Bahkan sebagian mereka ketika sudah masuk bulan Sya’ban menyatakan telah datang bulan pembaca Al-Qur’an. Dan sebagian mereka mulai menghentikan pekerjaannya di bulan Sya’ban, Sebagai persiapan untuk bulan ramadhan.

Peringatan Penting Seputar Sya`ban

Kendati bulan Sya’ban adalah bulan yang kita dianjurkan memperbanyak ibadah didalamnya, namun setiap ibadah yang kita lakukan hendaklah tetap dalam koridor syariat. Hal ini penting kami sampaikan, mengingat sebagian kaum muslimin melaksanakan ibadah khusus dalam bulan sya’ban tanpa didasari dalil yang maqbul (diterima) di sisi syariat.

Seperti halnya mengkhususkan malam nisfu Sya’ban dengan shalat berjamaah di masjid dan siangnya dengan puasa khusus yang dinamakan puasa nisfu Sya`ban, maka para ulama ahli hadits telah menerangkan bahwa tidak ada satu pun hadits yang shahih sanadnya kepada Nabi dan Shahabatnya dalam hal ini.

Di antaranya apa yang diterangkan oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitabnya ‘ilalul mutanaahia, dan imam Al Iroqi serta imam Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathoiful Ma’arif. Begitu pula yang dijelaskan dalam ahli hadis abad ini, Syaikh Al Albani dalam Ad Dha’ifah dan Dha’if At-Targhib. Serta banyak para ulama lainnya yang menerangkan perkara semisal.

Oleh karenanya, mari kita hidupkan bulan sya`ban dengan hal-hal yang maqbul (diterima) di sisi syariat, mulai dari memperbanyak puasa dan ibadah lainnya, tanpa mengkhususkan pada waktu tertentu dan dengan kaifiyat tertentu tanpa keterangan yang shahih dari syariat.

Dan hendaknya kita berdoa kepada Allah agar memberkahi waktu dan kesehatan kita di bulan Sya’ban ini, dan semoga kita dipertemukan dengan bulan Ramadhan tahun ini, guna menuai pahala yang banyak dari sisi Allah sebagai perbekalan yang besar bagi negeri akhirat kelak.

Baarokallahufiikum….

Sumber: Buletin Aceh Tafaqquh Fiddin Edisi 54

Download Buletin Aceh Tafaqquh Fiddin Edisi 54 “Agar Sya’ban Berkah” disini:

Buletin Edisi 54: Agar Sya’ban Berkah

Lihat tulisan lain disini:

Yuk Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yuk Share
Yuk Share