Mon. May 25th, 2026

Firasat Buruk Termasuk Bisikan Setan Atau Petunjuk?

2 min read

Pertanyaan:

Apakah firasat buruk akan sesuatu yang tebersit termasuk bisikan-bisikan setan, atau bisa jadi petunjuk dari Allah untuk menghindari hal tersebut?

Jawaban:

Terkait firasat, maka itu memang ada pada diri setiap mukmin. Adapun benar tidaknya, berbanding lurus dengan ketakwaan mukmin tersebut. Para ulama berdalil dengan beberapa hal. Di antaranya firman Allah Jalla wa ‘Ala:

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِينَ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.” (QS. Al-Hijr [15] : 75)

Telah datang pula beberapa hadis dari nabi, walaupun secara sanadnya tidak ada yang selamat dari kedaifan, namun sebagian ulama ada yang menghasankannya dan membenarkan maknanya, yaitu hadis:

اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ

“Takutlah pada firasat seorang mukmin. Sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat yang lain nabi mengatakan:

إذا اقترب الزمان لم تَكَدْ رؤيا المؤمن تكذب، ورؤيا المؤمن جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة

“Apabila telah dekat waktunya (kiamat), hampir tidak ada mimpi seorang mukmin yang dusta. Mimpi seorang mukmin itu satu dari empat puluh enam bagian kenabian.” (Muttafaq ‘alaih)

Bahkan di dalam sebuah riwayat juga disebutkan bahwa tidaklah seorang melakukan maksiat kecuali seorang mukmin yang memiliki firasat bisa melihat bekas maksiat yang ia lakukan pada wajahnya. Maka firasat itu memang benar ada. Namun, perlu diingat bahwa firasat itu bukanlah dasar hukum. Tidak boleh seseorang mengambil keputusan hanya dibangun di atas firasatnya. Karena firasat itu sendiri bisa benar, bisa pula tidak. Kemudian alasan kedua karena hukum itu sudah ada landasannya, yaitu Al-Qur’an dan Sunah di atas pemahaman para salaf. Adapun posisi firasat adalah sebagai pendukung saja.

Seandainya seseorang memiliki firasat bahwa barangnya yang hilang sepertinya berada di suatu tempat, tanpa menuduh, tapi hanya sebagai penguat untuk mencari barangnya yang hilang maka tidak mengapa. Namun tetap perlu diingat bahwa firasat yang dikatakan nabi sering benar itu adalah firasatnya seorang mukmin, dan sifat mereka telah Allah terangkan di dalam Al-Qur’anul Karim seperti di awal-awal surah Al-Mu’minun dan Al-Anfal serta di akhir-akhir surah Al-Furqan, maka kita dapat melihat apakah sifat-sifat tersebut ada di diri kita ataukah tidak.

Kemudian yang kedua, harus dibedakan antara firasat dengan suudzhan. Suudzhan itu berburuk sangka kepada orang lain tanpa indikasi qarinah kuat yang membolehkannya berburuk sangka kepada orang yang ia curigai.

Lalu yang ketiga, boleh seseorang bersikap waspada atas sangkaan di dalam hatinya dengan tidak menuduh orang lain tanpa disertai bukti. Ada sebuah hadis berpredikat lemah yang menyebutkan hal ini.

احْتَرِسُوا مِنَ النَّاسِ بِسُوءِ الظَّنِّ

“Bersikap waspadalah engkau dari kejelekan manusia dengan berburuk sangka.” (HR. Thabrani)

Para ulama menerangkan maksud berburuk sangka di sini adalah sikap waspada, khawatir akan dirampok, ditipu dan lain semisalnya. Maka ini tidak mengapa karena tujuannya adalah untuk bersikap waspada dan menyelamatkan diri dari kejelekan manusia.

Wallahu ta’ala a’lam bishawwab.

Pemateri : Ustadz Farhan Abu Furaihan حَفِظَهُ اللهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *