Fri. Feb 23rd, 2024

Nasihat Bagi Orang Tua yang Terpaksa Memberikan HP Pada Anaknya

3 min read

Pertanyaan:

Bagaimana cara memberikan pengertian kepada anak yang masih SMP akan tanggung jawabnya terhadap HP yang ia pegang, bahwa Allah melihat semua apa yang ia lihat? Karena ibunya harus bekerja (single parent) dan tidak bisa mengontrol apa saja yang dilihat, sedangkan HP memang diperlukan anak untuk belajar online.

Jawaban:

Kita memang sudah berada pada masa di mana teknologi yang di antaranya adalah HP di sebagian kondisi sudah menjadi kobutuhan primer, bukan lagi sekadar kebutuhan sekunder seperti dulu. Tapi di sisi lain, penggunaan HP tersebut sering kali menjadi dilema bagi kita sebagai orang tua/wali. Karenanya, para ulama memberi nasihat kepada kita, seperti:

1. Hendaknya ditanamkan rasa takut kepada Allah di dalam hati anak tersebut sejak dini

Oleh karena itu, penanaman rasa takut kepada Allah bukan justru baru diberikan ketika anak tersebut sudah harus diberikan HP untuk kebutuhannya. Contoh ini sebagaimana intisari pendidikan kepada anak yang termaktub di dalam surah Luqman:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqmān  [31] : 13)

Selanjutnya di antara nasihat tersebut adalah ketika Luqman berkata:

يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ

“Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya (untuk diberi balasan). Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Teliti.” (QS. Luqmān  [31] : 16)

Sebagian ulama tafsir menyebutkan bahwa anak Luqman pada waktu itu masih berumur 7 tahun, ada pula yang berkata 10 tahun, bahkan ada yang menyebutkan masih di bawah 7 tahun. Karena apabila rasa takut kepada Allah sudah tertancap kuat di dalam hati seorang anak, maka insyaallah dia akan mudah melawan hawa nafsunya untuk bermaksiat kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ. فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ

“Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79] : 40-41)

Dalam ayat ini Allah menyebutkan orang yang melawan hawa nafsunya itu disebabkan rasa takutnya kepada Allah. Karena sungguh, orang yang tidak memiliki rasa takut di dalam hatinya adalah orang-orang yang mudah bermaksiat dan sulit melakukan ibadah kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Oleh karenanya kita melihat sebagian orang melakukan pelanggaran agama; membunuh, merampok, berzina, berjudi, bukan karena mereka hebat atau kuat, tetapi karena Allah mencabut rasa takut kepada-Nya di dalam hati mereka sehingga mereka mudah jatuh ke dalam berbagai pelanggaran agama.

2. Hendaknya kita tidak bermudah-mudahan membuka fasilitas dunia untuknya

Hal ini disebutkan para ulama karena keumuman jiwa manusia condong kepada kejelekan, kecuali jiwa-jiwa yang dirahmati oleh Allah. Sebagaimana dikabarkan dalam Al-Qur’an:

اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ  بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ

“(Yusuf berkata), sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yūsuf [12] : 53)

وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا

“Dan manusia diciptakan (dalam keadaan) lemah.” (QS. An-Nisā’  [4] : 28)

Maka hendaknya pintu-pintu maksiat ditutup rapat dari anak-anak kita. Seperti HP, hendaknya kita tidak bermudah-mudahan dalam memberikannya kepada mereka.

3. Hendaknya mereka dibantu menggunakannya di jalan yang bermanfaat

Hal ini dilakukan dengan cara-cara yang membuat mereka mau mendengar karena merasa dimuliakan oleh orang tuanya. Misalkan sering duduk di sampingnya dengan sikap yang tidak membuat mereka merasa seperti dicurigai. Karena sikap yang mengesankan kecurigaan  akan menghilangkan kepercayaan di hati seorang anak kepada orang tuanya.

4. Secara asal, tidak boleh tajassus (mencari-cari kesalahan) seorang anak

Hal ini termasuk dalam keumuman larangan Allah:

وَّلَا تَجَسَّسُوْا

“Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Ḥujurāt [49] : 12)

Akan tetapi, sebagian ulama menjelaskan apabila seorang anak mulai terlihat keanehan demi keanehan pada sifatnya yang menimbulkan kecurigaan, maka tidak mengapa orang tua melihat isi HP anaknya, setelah itu ia memberikan nasihat yang tidak membuat anaknya menjauh atau lari karena begitu kasar dalam menegur. Akan tetapi hendaknya anak tersebut ditakut-takuti dengan kebesaran Allah, dan ditanamkan rasa malu kepada Allah, setelah itu ditanamkan pula sikap optimis bahwa sekalipun ia telah bermaksiat, Allah pasti akan mengampunkannya jika ia mau bertaubat. Sehingga anak yang tadinya ingin lari karena merasa malu, dengan nasihat tersebut dia menjadi berani lagi berada di sisi orang tuanya untuk senantiasa mendengarkan nasihat mereka.

Wallahua’lam bishawwab

Pemateri : Ustadz Farhan Abu Furaihan حَفِظَهُ اللهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *