Shalat Awwabin

Yuk Share

Salat al-awwabin juga dikenal dengan shalat dhuha. Adapun penamaan salat awwabin yaitu di antara shalat maghrib dan shalat ‘isya, tidak shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Muslim,

أنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى، فَقَالَ: أمَا لَقَدْ عَلِمُوا أنَّ الصَّلاَةَ في غَيْرِ هذِهِ السَّاعَةِ أفْضَلُ، إنَّ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِيْنَ تَرْمَضُ الفِصَالُ».

“Zaid bin Arqam melihat sekelompok orang yang shalat dhuha (tetapi tidak di waktu yang paling afdhal), maka Zaid berkata, ‘Tidakkah mereka ketahui bahwa shalat dhuha selain di waktu ini adalah lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala (al-awwabin) yaitu tatkala anak-anak unta kepanasan’.” (HR. Muslim)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan makna “تَرْمَضُ” adalah “شدة الحر” dan “الصَّغيرُ مِنَ الإبِلِ”, yaitu “tatkala anak-anak unta sudah kepanasan”.Waktu shalat dhuha itu pertama kali dilakukan ketika matahari sudah naik satu tombak atau dikenal sebagai salat syuruq (isyraq). Nabi berkata,

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »

“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam riwayat lain: dia menetap di mesjid – untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna”. (HR. Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir no. 7741 dan Tirmidzi no. 586 dan dinyatakan hasan oleh Tirmidzi dan Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahadits ash-Shahihah no. 3403)

Ini merupakan awal waktu shalat Dhuha. Dikatakan syuruq karena dilakukan pada waktu syuruq. Adapun batas akhir dari shalat dhuha adalah ketika matahari tepat berada di atas kepala atau dikenal dengan waktu zawal.

Sebagian ulama mengatakan shalat dhuha itu batasannya delapan rakaat dan mereka berdalil dengan hadits yang datang dari Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dhuha delapan rakaat.

Namun demikian, yang benar dari pendapatnya para ulama, dari sekian banyak riwayat hadis ada yang mengatakan Rasulullah salat empat atau delapan rakaat. Akan tetapi, yang paling shahih dalam masalah ini, sebagaimana disebutkan dalam hadis, Rasulullah shalat dhuha delapan rakaat, kemudian beliau menambah berapa yang beliau inginkan. Sehingga dengan hadis ini para ulama menyebutkan bahwa tidak ada batasan berapa rakaat seseorang itu untuk shalat dhuha.

Meskipun begitu, jangan sampai sebagian kita beralasan ingin shalat dhuha namun meninggalkan kewajiban-kewajiban yang lain, misalkan dia bekerja di sebuah instansi atau sebuah tempat yang tugasnya bekerja dari pukul sembilan pagi sampai pukul dua siang, kemudian ia shalat dhuha dari pukul sembilan pagi sampai pukul sebelas pagi, maka ini tidak boleh. Karena kita ditugaskan dengan digaji dan menunaikan amanah adalah sebuah kewajiban. Melanggar apa yang diamanahkan hukumnya haram. Sementara shalat dhuha hukumnya adalah sunnah.

Zaid bin Arqam radhiallahu anhu, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui penduduk Quba’* yang sedang meangerjakan shalat dhuha. Lalu beliau bersabda,

صَلاَةُ اْلأَوَّبِيْنَ إِذَا رَمَضَتِ الْفِصَالُ مِنَ الضُّحَى.

“Waktu shalat al-awwaabiin (dhuha) adalah ketika anak unta merasa kepanasan di pagi hari.” [Mukhtashar Shahih Muslim (no. 368) secara ringkas, Shahih Muslim (I/516 no. 748 (144)].

Tidak masalah apabila seseorang salat syuruq dua rakaat, kemudian pulang ke rumah untuk sarapan pagi dan lain seterusnya, kemudian nantinya pada pukul sembilan dia melanjutkan shalat dhuha-nya. Dengan catatan, waktunya di antara waktu syuruq sampai waktu zawal. Sebagaimana waktu salat malam dimulai dari setelah shalat ‘isya sampai azan kedua subuh. Boleh dia salat di awal waktu, di tengah malam dan boleh pula di akhir waktu. Boleh dia salat di awal waktu dua rakaat, kemudian bangun malam salat lagi dua rakaat, kemudian tidur, bangun lagi kemudian salat lagi di akhir malam, tidak ada masalah.  

Nabi mengatakan,

أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ، وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ ، وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Shalat yang paling dicintai oleh Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud. Beliau tidur setengah malam kemudian bangun (qiyam lail) sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Beliau puasa selang-seling, sehari puasa, sehari tidak.” (HR. Bukhari 1131, Muslim 1159, Abu Daud 2448 dan yang lainnya).

Nabi menyebutkan shalat syuruq itu dua rakaat dan para ulama mengatakan bahwa itu adalah awal waktu dari shalat dhuha. Apabila itu merupakan awal waktu dari shalat dhuha, maka minimal dua rakaat. Boleh kemudian salat beberapa rakaat yang lainnya, karena itu adalah bagian dari shalat dhuha.

Apakah boleh seseorang itu salat empat rakaat sekali salam?

Diriwayatkan hadis dari Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha dan juga dari riwayat yang lain bahwa Rasulullah pernah salat empat rakaat sekali salam, lima rakaat sekali salam, tujuh rakaat sekali salam. Para ulama menyebutkan, apa saja yang berlaku dan boleh pada salat malam juga berlaku dan boleh pada salat siang harinya. Oleh karena itu, para ulama ketika membahas tentang berapa rakaat shalat yang afdhal dilakukan di malam hari mereka mengatakan dua dua rakaat, berdalilkan dengan hadis,

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى (متفق على صحته من حديث ابن عمر رضي الله عنهما)

“Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat”. (Disepakati ke-shahih-annya, Bukhari dan Muslim, dari hadis Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma)

Dan juga dengan hadis ini mereka mengatakan bahwa begitu juga dengan salat di siang hari, yang lebih utama yaitu dua dua rakaat. Apa yang berlaku di malam hari, juga berlaku di pagi atau di siang hari.   

Berkata Imam Muslim, “Salat malam itu dua dua rakaat. Adapun salat witir itu satu rakaat dari akhir salat malam.” Imam Muslim juga berkata, “Bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah tentang salat malam beliau. Maka Nabi bersabda,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu ‘Umar)

Ketika sesuatu itu perkara ibadah, maka pasti akan datang kepada kita dari Rasulullah  tuntunannya, caranya, waktunya, rakaatnya, semuanya ada. Bahkan sesuatu yang jarang dilakukan oleh Nabi seperti shalat al-khusyuf pun disebutkan dalam riwayat. Rasulullah salat khusyuf sekali atau dua kali seumur hidup beliau.

Tetapi datang hadis kurang lebih 30 hadis tentang salat al-khusyuf, baik mengenai apa saja yang dibaca, berapa rakaatnya, apa yang dilakukan oleh Nabi dan bagaimana ketentuannya. Semuanya dijelaskan dan hampir di dalam semua buku-buku para ulama, kitab hadis, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah dan hadis-hadis yang lain pasti ada pembahasan tentang shalat khusyuf.


* Keutamaan kota Quba’

Quba adalah kota yang paling subur yang ada di kota Madinah. Kebun-kebun anggur, sayur-sayuran dan buah-buahan hidup sangat subur di Quba dan masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah setelah beliau hijrah dinamakan dengan Masjid Quba’. Jadi sebelum beliau membangun Masjid Nabawi, beliau lebih dahulu membangun Masjid Quba’.  

Ketika beliau hijrah dari Makkah menuju Madinah, penduduk Madinah pada waktu itu sudah menunggu Rasulullah. Ternyata pada waktu itu Nabi menginap dan tidur di Quba’ selama beberapa hari dan selama beberapa hari Nabi di Quba’, di situlah beliau membangun masjid dan masjid itu masih ada sampai hari ini.

Dalam shahihain disebutkan,

أن رسول الله كان يأتي مسجد قباء كل سبت ماشيًا وراكبًا فيصلي فيه ركعتين

“Bahwa Rasulullah mendatangi masjid Quba’ setiap hari sabtu dengan berjalan kaki dan (terkadang) menaiki kendaraan kemudian beliau shalat dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 1191 dan Muslim no. 1399)

Dalam hadis yang lain Nabi mengatakan,

من تطهّر في بيته ثم أتى مسجد قباء فصلى فيه صلاة كان له أجر عمرة

“Barangsiapa yang bersuci di rumahnya kemudian mendatangi masjid Quba’ serta shalat di dalamnya maka baginya pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah no. 1412)

Jadi ini adalah sunnah-nya beliau. Orang-orang yang berangkat umrah, selain mereka mengkhususkan mendatangi masjid Rasulullah dari negerinya, kemudian dia ikuti dengan menziarahi Masjid Quba’ sebagaimana sunnah yang ma’ruf dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

(Diringkas oleh tim Syiar Tauhid Aceh dari Kajian Ustadz Harits Abu Naufal)

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Lihat postingan sebelumnya:

Yuk Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yuk Share
Yuk Share