Sat. Oct 19th, 2019

Manfaat Mempelajari Sirah

5 min read
Di antara perkara yang penting sekali untuk dipelajari dan dipahami dalam agama kita adalah pelajaran tentang sirah (perjalanan kehidupan) Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Di antara perkara yang penting sekali untuk dipelajari dan dipahami dalam agama kita adalah pelajaran tentang sirah (perjalanan kehidupan) Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Di antara perkara yang penting sekali untuk dipelajari dan dipahami dalam agama kita adalah pelajaran tentang sirah (perjalanan kehidupan) Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Banyak faedah yang didapatkan dari hal ini, sebagaimana disebutkan oleh Syekh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad hafidzahullahu ta’ala, “Bahwasanya mempelajari sirah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini tergolong ke dalam salah satu bentuk makanan untuk qalbu kita.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam al-Qur’anul Karim,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. al-Ahzab [33]: 21)

Dijelaskan oleh para ulama al-mufassirin, suri tauladan yang baik yang ada
pada Nabi ini mencakup di dalam urusan akidah, ibadah dan amal saleh,
muamalah, dan juga tentang adab-adab dan akhlak Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam. Ini di antara faedah yang pertama dari seseorang
mempelajari sirah Nabi.

Kemudian yang kedua, “Bahwasanya sirah Rasulullah shalallahu alaihi
wasallam dan petunjuk beliau digolongkan dalam sebuah bentuk mizan
(timbangan yang ditimbang padanya amalan, akidah, dan muamalah
seseorang).”

Yang dimaksud dengan ucapan ini, kata Syekh Abdurrazzaq, “Apa saja yang sesuai dengan sirah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, sesuai dengan metode dan apa yang dilakukan oleh Nabi, maka itu semua akan diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Dan apa saja yang setelah ditimbang dengan sirah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, kemudian didapati bahwa perkara tersebut tidak sesuai dengan petunjuk dan langkah-langkah yang dilakukan oleh rasul maka seluruh perkara tersebut akan tertolak dan tidak akan diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla.”

Sufyan ibnu ‘Uyainah rahimahullahu ta’ala mengatakan, “Bahwasanya Nabi
Muhammad shalallahu alaihi wasallam merupakan al-mizanul akbar (timbangan yang paling besar). Maka apa saja yang sesuai dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, itulah hakikat sebuah kebenaran. Dan barangsiapa yang tidak sesuai dengan sirah perjalanan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, itulah perkara yang bathil.”

Adapun faedah yang ketiga, dijelaskan oleh Syekh Abdurrazzaq, “Di dalam
seseorang mempelajari sirah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, maka ini akan menjadi sebuah pembantu bagi seseorang tersebut di dalam mempelajari dan memahami kitabullah. Hal tersebut karena kehidupan Nabi shalallahu alaihi wasallam seluruhnya merupakan praktek terhadap ayat-ayat Allah yang turun.”

Allah azza wa jalla berfirman di dalam Alquran,


لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah.” (QS. Ali Imran [3]: 164)

Pada ayat di atas, disebutkan beberapa sifat Rasulullah. Di antaranya, adalah tugas Nabi membacakan ayat-ayat Allah. Sehingga para ulama mengatakan bahwa tidak ada satu pun ayat yang disembunyikan oleh Rasulullah. Semuanya telah dibaca kepada para sahabat. Kata Aisyah radhiallahu ‘anha, “Barangsiapa yang menuduh bahwa Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam menyembunyikan ayat dari al-Qur’anul Karim yang diturunkan kepadanya, sungguh orang ini telah membesarkan sebuah
kedustaan atas nama rasul.”

Di dalam riwayat yang lain, dikeluarkan juga oleh Imam Muslim rahimahullahu ta’ala dari Aisyah, “Kalau seandainya Muhammad benar menyembunyikan salah satu ayat yang ada di dalam al-Qur’an, maka ayat yang paling pertama kali beliau sembunyikan pastilah sebuah ayat di dalam surah al-Ahzab.”

Ada sebuah kisah berkaitan dengan sebuah ayat dari surah al-Ahzab ini. Muhammad Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memiliki seorang anak angkat yang bernama Zaid bin Haritsah yang memiliki seorang istri yang bernama Zainab binti Jahsy. Suatu hari, Zaid datang kepada Nabi mengeluhkan tentang keadaan istrinya.

Zaid berkata, “Wahai Nabi, istriku Zainab binti Jahsy begini dan begini. Bagaimana pendapatmu? Apakah aku ceraikan saja dia?”. Pada waktu itu
Nabi shalallahu alaihi wasallam mengatakan, “Bertaqwalah kepada Allah,
tahanlah terus isterimu”.

Namun, apa yang diucapkan oleh lisannya Nabi begitu bertentangan dengan apa yang ada di dalam jiwa beliau. Hati beliau berkeinginan agar Zaid bin Haritsah menceraikan istrinya untuk kemudian beliau menikahi Zainab binti Jahsy. Rasulullah menyembunyikan sesuatu yang ada di dalam kalbu beliau. Tetapi Allah membongkarnya, Allah sebutkan di dalam surah al-Ahzab,

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ


“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya. (QS. al-Ahzab [33]: 37)

Aisyah mengabarkan bahwa ketika turun ayat ini, Nabi shalallahu alaihi wasallam merasa malu sekali. Kata Aisyah, “Kalau seandainya Nabi benar menyembunyikan salah satu ayat dari al-Qur’an, niscaya yang paling pertama disembunyikan adalah ayat ini.” Namun demikian, ayat resebut tetap dibaca dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Mempelajari sirah itu merupakan penolong yang sangat besar bagi kita untuk dapat mengenal dan memahami Alquran. Contohnya, Allah subhanahu wataala berfirman,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Dan dirikanlah shalat.” (QS. al-Baqarah [2]: 3)

Allah memerintahkan untuk menegakkan shalat. Kita mengetahui bahwa
salat dimulai dari takbiratul ihram hingga diakhiri dengan salam adalah dari sirah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Demikian pula turun ayat tentang perintah ibadah haji. Tata cara menunaikan ibadah haji dapat diketahui dengan mempelajari perjalanan hidup Beliau.

Demikian pula di dalam hukum pidana. Allah taala berfirman,

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Maidah [5]: 38)

Dijelaskan oleh Rasulullah bahwa yang dipotong dari tangan pencuri adalah pergelangan tangan, bukan seluruh tangannya. Nabi juga menjelaskan di dalam hadis Aisyah, ”Tidak dipotong tangan (pencuri) terkecuali pada seperempat dinar atau lebih”

Jadi bukan berarti jika ada seseorang mencuri uang saudaranya seribu rupiah, kemudian dipotong tangannya. Sehingga jelas sekali bahwa sangat penting untuk mempelajari sirah Rasulullah.

Faedah yang terakhir dari mempelajari sirah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah, kata Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah, seseorang bisa memperdalam kecintaannya kepada Rasulullah.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak beriman (dengan sempuna) salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya dan semua manusia.” (HR. Bukhari, No.15 dan Muslim, No. 44 (70), dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Kemudian datang dalam riwayat yang lainnya bahwa Umar bin Khaththab radhiallahu anhu pernah mengatakan kepada Rasulullah,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي

“Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku.”

Kemudian kata Nabi,

لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ

“Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu.”

Setelah itu, Umar langsung mengatakan,

“Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau
cintai melebihi dirimu.”

Setelah itu, Umar langsung mengatakan,

فَإِنَّهُ اْلآنَ، وَاللهِ، لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي

“Sungguh sekaranglah saatnya, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku.”

Kata Nabi selanjutnya,

اْلآنَ يَا عُمَرُ

“Sekarang (engkau benar), wahai Umar.” (HR. al-Bukhari, No. 6632, dari sahabat Abdullah bin Hisyam radhiallahu anhu)

Apabila ingin memperdalam kecintaan kepada Nabi, maka pelajari sirah, akidah, amalan dan ibadah Beliau. Sehingga kita benar-benar bisa mewujudkan dan bisa merealisasikan kecintaan kita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

(Diringkas oleh Tim Syiar Tauhid Aceh dari Faedah Kajian Ustadz Thantawi Abu Muhammad)


Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Lihat Faedah Ilmiah Sebelumnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *