Mon. May 25th, 2026

Jangan Banyak Bertanya

6 min read
Jangan Banyak Bertanya: Di dalam Shahih Imam Bukhari dalam kitab al-I'tisham bil Kitabi wa Sunnah, pada bab Makruh Hukumnya banyak Bertanya dan Orang yang Mendalami Sesuatu yang Tidak Ada Faedahnya. Terdapat hadis Mughirah ibnu Syu'bah radhiallahu 'anhu,

Di dalam Shahih Imam Bukhari dalam kitab al-I’tisham bil Kitabi wa Sunnah, pada bab Makruh Hukumnya banyak Bertanya dan Orang yang Mendalami Sesuatu yang Tidak Ada Faedahnya. Terdapat hadis Mughirah ibnu Syu’bah radhiallahu ‘anhu, sebuah tulisan surat yang berisi ilmu agama kepada sahabatnya, yaitu Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma, yang isinya di antaranya adalah penyebutan larangan-larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Di antaranya adalah,

إِنَّهُ كَانَ يَنْهَى عَنْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةِ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

“Beliau melarang mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta.” (HR. Bukhari)

Intinya adalah banyak bertanya. Namun perlu diketahui bahwa banyak bertanya ini akan memiliki nilai positif manakala muncul dari semangat seseorang untuk mengenal kebenaran. Tetapi kalau karena ingin membuat rumit agama, ingin membuat manusia susah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِيْنَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ، فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

“Sesungguhnya kaum muslimin yang paling besar dosanya ialah orang yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, kemudian sesuatu tersebut diharamkan dengan sebab pertanyaannya itu.” [HR al-Bukhâri, (no. 7289), Muslim (no. 2358), Ahmad (I/176, 179), Abu Dâwud (no. 4610) dan Ibnu Hibbân (no. 110)]

Suatu ketika pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan para sahabat tentang kiamat. Beliau menyebutkan bahwa sebelum terjadi hari kiamat akan terjadi tragedi-tragedi yang besar dan ini adalah sesuatu yang mengerikan.

Kata Anas bin Malik, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَسْأَلَ عَنْ شَيْءٍ فَلْيَسْأَلْ عَنْهُ فَوَاللَّهِ لَا تَسْأَلُونِي عَنْ شَيْءٍ إِلَّا أَخْبَرْتُكُمْ بِهِ مَا دُمْتُ فِي مَقَامِي هَذَا

“Siapa yang ingin bertanya sesuatu, silahkan! Demi Allah, tidaklah kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu, selain kuberitakan kepada kalian selama aku masih berada di tempatku ini.”

Apa yang Nabi ceritakan itu menurut penilaian para sahabat adalah sesuatu yang mengerikan dan menakutkan. Oleh karena itu Anas bin Malik juga mengatakan,

فَأَكْثَرَ النَّاسُ الْبُكَاءَ وَأَكْثَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقُولَ سَلُونِي

“Lantas Orang-orang menangis terisak-isak dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak bertanya: “Bertanyalah kalian kepadaku!”

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semuanya tidak ada yang berani bertanya, menunjukkan bahwa kondisi itu adalah kondisi yang serius, sehingga mereka para sahabat menangis. Namun kemudian, kata Anas bin Malik,

فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ أَيْنَ مَدْخَلِي يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Lantas ada seseorang berdiri menuju beliau dan bertanya, ‘Dimanakah tempat tinggalku ya Rasulullah?’”

Jawaban Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,

النَّارُ

“Kamu di neraka.”

Karena bertanya sesuatu yang tidak ada faedahnya, yang kalau dia tidak bertanya maka dia tidak akan tahu kalau dia berada di dalam neraka. Sehingga, sangat mungkin bisa jadi takdir Allah kepadanya adalah lain, Allah akan berikan taufiq kepada dia, sehingga dia akan masuk ke dalam surga disertai dengan taubat dan amalan saleh.

Tetapi Allah tentukan lain kepada pemuda ini. Ia dikabarkan masuk neraka. Dan ini adalah pemberitahuan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang haq. Karena, di antara prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah, tidak boleh seseorang memastikan surga dan neraka kepada seseorang kecuali ada dalil dari al-Qur’an dan Sunnah.

Maksud sebenarnya bukanlah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam ingin para sahabat bertanya. Tetapi kalau ada yang bertanya, maka Nabi akan menjawab. Begitu yang disebutkan oleh para ulama. Oleh karena itu Anas bin Malik mengatakan,

ثُمَّ أَكْثَرَ أَنْ يَقُولَ سَلُونِي سَلُونِي فَبَرَكَ عُمَرُ عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا قَالَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالَ عُمَرُ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ آنِفًا فِي عُرْضِ هَذَا الْحَائِطِ وَأَنَا أُصَلِّي فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ

“Nabi memperbanyak bertanya, ‘Bertanyalah kalian kepadaku, bertanyalah kalian kepadaku.’ Lantas Umar meletakkan kedua lututnya dan berkata, ‘Kami ridla Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Rasul.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas terdiam ketika Umar mengucapkan yang demikian. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, tadi telah diperlihatkan kepadaku surga dan neraka di balik tembok ini ketika aku shalat, dan belum pernah kulihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini’.” (HR. Bukhari)

Dalam hadis ini menggambarkan bahwa pertanyaan seseorang tentang suatu masalah tidak boleh dilakukan dengan asal-asalan. Namun harus melihat faktor pendukung, situasi dan tujuan bertanya ialah untuk kebaikan.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl [16]: 43)

Tidaklah ayat turun dengan bunyi, “وَ يَسْأَلُونَكَ” kata ulama tafsir, melainkan telah ada pertanyaan kepada Rasul dari sahabatnya tetapi Rasul tidak bisa menjawab, sampai turunnya ayat dari Allah baru beliau menjawab, tidak ditentang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pertanyaan tersebut.

Dengan demikian, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama adalah motif dalam bertanya, faktornya harus dari seorang yang mustarsyid (bertanya untuk kebaikan dan kebenaran), bukan bertanya untuk menguji atau bertanya untuk memperkeruh suasana. Kedua, situasi dan kondisi. Ada bentuk pertanyaan yang tidak boleh dilakukan dalam kondisi tertentu dan ada pertanyaan yang kadang justru bagus dalam kondisi tertentu, seperti pertanyaan seorang guru kepada muridnya yang bertujuan untuk memberikan faedah kepada sang muridatau pertanyaan seorang murid kepada gurunya, tujuannya agar jawabannya itu bisa berefek positif kepada murid-murid yang lain.

Ada sebuah hadis,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ أَخْبَرَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ أَخْبَرَنِي مُوسَى بْنُ أَنَسٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَنْ أَبِي قَالَ أَبُوكَ فُلَانٌ

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdurrahim] Telah mengabarkan kepada kami [Rauh bin Ubadah] telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] telah mengabarkan kepadaku [Musa bin Anas] berkata, “Aku mendengar [Anas bin Malik] berkata, “Seseorang bertanya ‘Wahai nabiyullah, siapa ayahku?” Rasul menjawab: “Ayahmu si Fulan.” (HR. Bukhari)

Pertanyaan ini adalah bentuk pertanyaan yang kurang tepat, karena yang bertanyalah yang lebih mengetahui siapa ayahnya. Sehubungan dengan kejadian ini, turun ayat Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”(QS. al-Maidah [5]: 101)

Contoh lain, seperti pertanyaan seseorang kepada Nabi, “Ya Rasulullah, apakah haji setiap tahun?” Kata Nabi, “Kalau saya menjawab ‘iya’, maka akan wajib setiap tahun, dan kalau diwajibkan kalian tidak akan sanggup.”

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ صَبَّاحٍ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنَا وَرْقَاءُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَبْرَحَ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُوا هَذَا اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ

“Telah menceritakan kepada kami (Al Hasan bin Shabbah) telah menceritakan kepada kami (Syababah) telah menceritakan kepada kami (Warqa’) dari (Abdullah bin Abdurrahman) aku mendengar (Anas bin Malik) berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Manusia tidak henti-hentinya bertanya hingga saling bertanya ‘Allah adalah pencipta segala sesuatu, lantas siapa yang menciptakan Allah?’.” (HR. Bukhari)

 

Ini merupakan sambungan dari hadis yang panjang. Iblis ketika dia mengganggu manusia, dia membuat keraguan kepada manusia dengan bertanya, “Siapa yang menciptakan manusia, siapa yang menciptakan matahari, bulan, bintang?” Akhirnya manusia digiring oleh Iblis untuk berpikir dan berhayal sampai mereka mengatakan bahwa “Allah yang menciptakan segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah?” Ini adalah efek negatif dari orang yang tidak menjadikan pikirannya untuk berpikir dengan sesuatu yang berfaedah. Maka Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat-Nya telah menutup perkara ini di mana Allah mengatakan,

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. al-Anbiya [21]: 23)

Ayat di atas adalah sebuah peringatan keras bagi orang yang menjadikan akalnya untuk selalu berselancar dalam hal-hal yang tidak ada faedahnya. Dalam kaedah asma wa sifat, ada sebuah pantangan yang telah disebutkan oleh para ulama, yaitu at-takyif (membagaimanakan sifat Allah ta’ala).

Larangan ini atas dasar kekhawatiran akan terbukanya pintu yang luas pada seseorang yaitu masuk ke dalam pikirannya sesuatu yang dirinya tidak akan mampu memahaminya, akhirnya dia akan mengambil jalan pintas dengan menolaknya. Sehingga terjatuh dalam dalam ta’thil. Ada yang ta’thil-nya juz’i (sebagian), seperti kelompok-kelompoknya asy-Sya’irah, ada yang lebih parah seperti kelompok Mu’tazilah yang menolak sifat-sifat Allah.

Tidak perlu dipikirkan bagaimana kaifiyat dari nama-nama dan sifat Allah, cukup beriman dengan nash yang ada. Misalkan Allah mengatakan,

وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syura [42]: 11)

Cukup dengan meyakini Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, tentang bagaimananya serahkan kepada Allah. Tidak boleh masuk ke ranah membagaimanakan sifat Allah. Karena Allah telah mengatakan,

أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ

“Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah?”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرْثٍ بِالْمَدِينَةِ وَهُوَ يَتَوَكَّأُ عَلَى عَسِيبٍ فَمَرَّ بِنَفَرٍ مِنْ الْيَهُودِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ سَلُوهُ عَنْ الرُّوحِ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا تَسْأَلُوهُ لَا يُسْمِعُكُمْ مَا تَكْرَهُونَ فَقَامُوا إِلَيْهِ فَقَالُوا يَا أَبَا الْقَاسِمِ حَدِّثْنَا عَنْ الرُّوحِ فَقَامَ سَاعَةً يَنْظُرُ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْهِ فَتَأَخَّرْتُ عَنْهُ حَتَّى صَعِدَ الْوَحْيُ ثُمَّ قَالَ : وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Telah menceritakan kepada kami (Muhammad bin Ubaid bin Maimun) telah menceritakan kepada kami (‘Isa bin Yunus) dari (Al A’masy) dari (Ibrahim) dari (‘Alqamah) dari (Ibn Mas’ud) rahiyallahu’anhu berkata, ‘Pernah aku bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di sebuah kebun Madinah sedang beliau menyandarkan punggung, lantas beberapa orang Yahudi lewat, dan sebagian mereka mengatakan ‘Coba tanyailah dia tentang roh!’ Sebagian berkata ‘Jangan kalian tanyai dia tentang itu, sebab yang kalian benci tidak bisa memperdengarkan kepada kalian.’ Namun sebagian mereka berdiri dan bertanya ‘Wahai Abul Qasim, beritahukanlah kami tentang roh! ‘ Lantas beliau berdiri beberapa saat mengamat-amati, maka aku tahu bahwa beliau sedang menerima wahyu, maka aku berusaha menyingkir dari beliau, hingga wahyu terangkat, kemudian beliau bersabda mengutip ayat, ‘Mereka bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah bahwa roh itu urusan Rabbku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (QS. al-Isra [17]: 85)

Disebabkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas sehingga menyusahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah memberikan teguran dengan “Ruh itu urusan Rabb-mu”, yang berarti bukan urusan mereka sehingga seharusnya tidak perlu bertanya mengenai hal tersebut.

 

Diringkas dari kajian Ustadz Imam Abu Abdillah oleh tim Syiar Tauhid Aceh


Lihat faidah ilmiah lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *