Sun. Apr 19th, 2026

Jangan Tertipu Dengan Usia

3 min read
Berkata Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, يجب على من لَ يدري متى يبغته الموت أن يكون مستعدًا ولَ يغتر بالشباب والصحة ؛ فإن أقل من يموت الَشياخ ، وأكثر من يموت الشبان ، ولهذا يندر من يكبر “Wajib atas orang yang tidak mengetahui kapan ajalnya tiba untuk bersiap-siap dan janganlah ia terperdaya dengan fisiknya yang sehat karena banyak yang mati sebelum ia mencapai usia tua”. (Shaidul Khatir, hlm. 240)

Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullahu ta’ala dalam kitab beliau Min Washaya Salaf lis Syabab (wasiat ke-6) berkata,

“Dan dari untaian wasiat ulama salaf rahimahumullahu ta’ala kepada para pemuda adalah apa yang disebutkan oleh Uqbah ibnu Abi Hakim, beliau mengatakan, ‘Dahulu kami pernah duduk di majelisnya ‘Aun ibnu Abdillah ibnu Ji’far ibnu Abi Thalib (wafat: 61H/680M), beliau berkata kepada kami,

مَعْشَرَ الشَّبَابِ قَدْ رَأَيْنَا الشَّبَابَ يَمُوتُونَ ، فَمَا يُنْتَظَرُ بِالْحَصَادِ إِذَا بَلَغَ الْمِنْجَلُ . وَيَمَسُّ لِحْيَتَه

‘Wahai para pemuda, sungguh kami melihat banyak yang wafat di usia muda. Maka mengapa menunda panen jika al-minjal (alat untuk panen) sudah ditangan’. Lalu beliau memegang jenggotnya’” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam al-‘Umuru wasy-Syaibu No. 42)

‘Aun ibnu Abdillah merupakan salah satu anak dari Zainab, cucunya Ali bin Abi Thalib radhiallahu ta’ala ‘anhu. Beliau ikut serta dalam peperangan di Karbala bersama pamannya al-Hussain radhiallahu ta’ala ‘anhu dan wafat terbunuh di tangan Abdullah ibnu Khutna Atha’i.

Beliau menyampaikan pesan yang mulia ini kepada para pemuda yang berada dalam majelisnya saat itu untuk mengingatkan mereka agar jangan terpedaya tatkala melihat orang yang telah dipanjangkan umurnya oleh Allah rabbul ‘alamin. Karena banyak orang yang tertipu ketika melihat orang-orang yang dipanjangkan umurnya, dengan mengira bahwa ia pun pasti akan berumur panjang. Dia lupa bahwasanya yang namanya kematian tidak mengenal usia.

Datang ucapan dari al-Hasan al-Bashri rahimahullahu ta’ala yang semakna dengan ucapan ‘Aun ibnu Abdillah, di mana beliau mengatakan kepada orang-orang yang hadir di majelisnya,

يا معشر الشيوخ : ما ينتظر بالزرع إذا بلغ ؟ قالوا : الحصاد ، قال : يا معشر الشباب إن الزرع قد تدركه العاهة قبل أن يبلغ

“Wahai para syekh (orang tua), apa yang ditunggu ketika tanaman sudah berbuah? Mereka menjawab, ‘Dipanen’. Lalu beliau berkata, ‘Wahai para pemuda, sesungguhnya tanaman terkadang diserang hama sebelum masa panennya’.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Kitabuz Zuhd, No. 500)

Terkadang anak muda yang panjang angannya ingin hidup sekian lama, ternyata ajalnya datang secara tiba-tiba. Ia tertipu dengan kesehatan dan kekuatannya. Padahal, ajal tidak menunggu persiapan seseorang. Oleh karena itu, seharusnya seseorang itu bersiap-siap menghadapi kematiannya. Jangan pernah tertipu dengan kesehatan, kekuatan, atau masa muda yang dimiliki. Masa muda harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana sebuah syair Arab,

Jika engkau tidak menanam,
Dan jika engkau melihat orang memanen
Maka engkau akan menyesal
Kenapa dahulu tidak ikut menanam

Syaikh Abdurrazzaq hafidzhahullahu ta’ala juga berkata, “Maka sepantasnya seorang muslim dan muslimah kondisinya sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah atsar,

إِذَا أَمْسَ يتَ فَلََ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَ تَنْتَظِرِ المَسَاءَ

‘Jika engkau berada di waktu sore, maka jangan menunggu waktu pagi. Sebaliknya, jika engkau berada di waktu pagi, maka jangan menunggu waktu sore’.” (HR. al-Bukhari No. 6416)

Semua ucapan yang seperti ini memberikan dorongan kepada kita untuk memanfaatkan kesempatan waktu dan usia yang telah Allah ta’ala berikan. Jangan suka menunda-nunda, apa yang bisa dilakukan saat ini, maka lakukanlah. Baik itu mempelajari ilmu agama, melakukan amalan-amalan kebaikan maupun melakukan perkara-perkara yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan juga akhirat.

Berkata Imam Ibnul Jauzi rahimahullah,

يجب على من لَ يدري متى يبغته الموت أن يكون مستعدًا ولَ يغتر بالشباب والصحة ؛ فإن أقل من يموت الَشياخ ، وأكثر من يموت الشبان ، ولهذا يندر من يكبر

“Wajib atas orang yang tidak mengetahui kapan ajalnya tiba untuk bersiap-siap dan janganlah ia terperdaya dengan fisiknya yang sehat karena banyak yang mati sebelum ia mencapai usia tua”. (Shaidul Khatir, hlm. 240)

Sering kita melihat anak-anak muda yang melakukan pembegalan kemudian mati dikeroyok massa, atau kalau di daerah ini adalah balapan liar, yang paling banyak dari korbannya adalah pemuda. Selain itu, banyak juga berita-berita tentang kematian yang dialami oleh seorang pemuda. Laailaaha illallah, qadarullah wa ma-sya-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya). Kalau salah satu di antara pemuda-pemuda tersebut adalah kita, sudah siapkah kita?

Kalau belum, maka persiapkanlah sebanyak-banyaknya bekal kita untuk bertemu dengan Allah rabbul ‘alamin. Jangan lupa berdoa kepada Allah tabaraka wa ta’ala agar senantiasa kita mati di atas ke-istiqama-an, di atas sunnah, yang merupakan sebuah kenikmatan yang besar.

Pernah ada seorang lelaki datang menjumpai Imam Ahmad rahimahullahu ta’ala, beliau mengatakan, “Wahai al-Imam Abu Abdillah, si fulan telah mati di atas kebaikan.” Imam Ahmad menjawab, “Diam kamu! Bahkan dia mati di atas seluruh kebaikan.”

Jadi, bukan hanya mati di atas kebaikan, tapi di atas seluruh kebaikan. Merekalah orang–orang yang mati di atas sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tetap sabar berpegang teguh dengan sunnah Nabi, konsisten dalam berpegang teguh dengan agama Allah subhanahu wa taala.

 

(Faidah dari kajian ustadz Sahl Abu Abdillah.)


Lihat faidah ilmiah lainnya:

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *