Thu. Nov 14th, 2019

Adab Seorang Alim dan Penuntut Ilmu (Bagian Tiga)

4 min read
Adab Seorang Alim dan Penuntut Ilmu

Adab yang kelima yang sepantasnya dipelihara dan dijaga pada diri seorang yang mengajarkan ilmu dan juga yang mempelajari ilmu agama adalah hendaknya dia berusaha semampunya untuk menjauhi profesi pekerjaan yang dinilai rendah di mata manusia, profesi yang dianggap hina secara tabiat manusia, dan dari profesi yang dibenci baik dibenci menurut tradisi/adat atau pun dibenci menurut syariat.

Beberapa contoh profesi yang pada kala itu dinilai rendah seperti menjadi tukang bekam, penyamak kulit, jasa tukar-menukar uang, dan pandai besi serta tukang emas. Tetapi perlu digarisbawahi, bukan berarti tidak boleh, akan tetapi itulah adab yang ideal bagi seorang alim dan orang yang belajar ilmu.

Kesimpulannya bukan pada inti profesinya. Karena kata Syaikh Shalih bin Abdillah al-Ushaimi (salah satu masyaikh yang membaca kitab ini dan men-syarah-nya) menyebutkan bahwasanya perkara kewibawaan itu bisa berbeda terkait dengan waktu dan tempat.

Bisa jadi di satu waktu dia dianggap tidak cocok dengan kewibawaan, bisa jadi di waktu lain berbeda. Bisa jadi di satu tempat dia dianggap sesuatu yang tidak sesuai dengan kewibawaan, bisa jadi di tempat lain berbeda.

Tradisi yang lurus

Dari dapat diambil sebuah faedah bahwasanya sepantasnya bagi seorang manusia, terkhusus orang yang alim dan muta’allim agar sebisa mungkin untuk tidak menyelisihi tabiat yang lurus. Maksudnya, kalau satu daerah menganggap suatu hal sebagai hal yang baik, maka dia lakukan. Kalau satu daerah menganggap sesuatu hal tidak cocok dengan adatnya dan selama tidak bertentangan dengan syariat, maka hendaknya dia menyesuaikan dirinya dengan adat tersebut.

Karena hal inilah, dahulu Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau meludah, Nabi membuang ludahnya di tanah kemudian beliau kubur atau di secarik kain agar tidak kelihatan.

Maksudnya tidak meludah sembarangan supaya beliau tidak menyelisihi kebiasaan yang ada di kala itu. Sampai sekarang ludah itu tidak termasuk perkara yang najis, akan tetapi dibenci dan dianggap kotor jika seseorang meludah sembarangan.

Kata Syekh Shalih bin Abdillah al-Ushaimi, “Menjaga hal-hal yang terkait dengan tabiat yang lurus (tidak menyelisihi kebiasaan manusia) menunjukkan lurusnya akal seseorang.”

Termasuk juga dalam bab ini adalah seorang alim ataupun muta’allim berusaha menjauhi tempat-tempat yang mengundang kerancuan dan tuduhan jelek manusia, walaupun dia adalah orang yang jauh dari tuduhan tersebut. Contohnya tempat penjualan khamar, walaupun dia dikenal sebagai penuntut ilmu, atau sebagai pengajar ilmu agama, sepantasnya dia menjauhi tempat-tempat yang seperti itu.

Andaikata ia melakukan hal tersebut kemudian dia melihat ada orang lain yang menyaksikannya, dalam keadaan dia adalah orang yang dijadikan panutan dan memiliki kedudukan, maka sepantasnya orang yang alim tadi untuk menjelaskan hukumnya atau menjelaskan udzur-nya atau menjelaskan maksud dari perbuatannya itu.

Tujuannya agar yang melihat ataupun yang mendengar ini tidak berdosa karena terjatuh dalam prasangka karena sebab perbuatannya, atau bisa jadi perbuatannya yang mengundang kerancuan dan tuduhan jelek tersebut apabila tidak dijelaskan akan membuat orang yang tadinya mengambil manfaat darinya, menjadi lari dan menjauh karena menganggapnya tidak beramal dengan ilmunya.

Selain itu, klarifikasi yang dilakukan adalah supaya orang yang bodoh, yang tidak memahami hukumnya bisa mengambil faedah dari penjelasannya tersebut.

Pada satu kesempatan Rasulullah sedang ber-i’tikaf di masjid, kemudian Shafiyah (istri beliau) datang mengunjungi, dan ketika Shafiyah ingin pulang, beliau mengantarkannya sampai pintu masjid. Ketika ingin berpisah, masih ada perbincangan antara Shafiyah dengan Nabi Muhammad di pintu masjid.

Kebetulan ada dua sahabat yang lewat dan melihat kejadian tersebut. Lantas Rasulullah ketika melihat dua orang sahabat tersebut yang langsung bergegas seperti tidak ingin melihat perbincangan tersebut dan entah apa alasannya mereka seperti malu ketika melihatnya (karena berpikir siapakah perempuan tersebut dan kenapa Nabi berbicara dengannya).

Kata Rasulullah kepada kedua sahabat tersebut, “Tetap dengan jalan kalian yang tadi (tenang), sesungguhnya dia ini adalah Shafiyah.” Juga Kemudian Rasulullah berkata lagi,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا سُوءًا

“Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. Aku khawatir sekiranya setan itu menyusupkan kejelekan dalam hati kalian berdua.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175).

Telah datang juga riwayat yang memberikan tambahan, “Yang membuat kalian akan binasa.” Karena jika mereka menduga tanpa kebenaran itu akan membinasakan mereka karena mereka membuat praduga kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan dugaan yang tidak benar.

Al-Muru’ah (kewibawaan)

Al-muru’ah yang secara teks berarti kewibawaan, para ulama banyak memberikan definisi tentang apa itu al-muru’ah. Syekh Shalih bin Abdillah al-Ushaimi memberikan sebuah faedah bahwasanya definisi terbaik untuk kata muru’ah ini adalah apa yang dibawakan oleh al-Imam al-Majd Ibnu Taimiyah (Abdussalam Ibnu Abdillah Abul Barakat)–kakek Ibnu Taimiyah yang hidup sekitar tahun 590 H hingga 652 H¬–dalam kitab al-Muharrar (definisi ini juga digunakan oleh Ibnu Taimiyah) bahwasanya al-muru’ah adalah melakukan segala apa yang memperindah dan memperbagus kewibawaan dan menjauhi segala yang merusak dan mengotorinya.

Segala apa yang membuat kewibawaan seseorang menjadi bagus, itulah al-muru’ah. Ketika seseorang melakukannya maka itulah muru’ah yang baik. Ketika seseorang meninggalkan hal-hal yang dianggap mengurangi kadar kewibawaannya, itu juga termasuk al-muru’ah. Hal ini bukanlah tentang boleh atau tidak boleh, akan tetapi sepantasnya bagi thalibul ‘ilm untuk menjaganya, karena standar mereka sangat tinggi.

 

(Diringkas dari Kajian Ustadz Iqbal Abu Hisyam)


Lihat faedah ilmiah lainnya:

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *