Thu. Nov 14th, 2019

3 Hal yang Wajib Diketahui dan Dilakukan oleh Manusia

3 min read
Ada tiga hal yang wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap manusia. Pertama adalah bahwa Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan manusia untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Ada tiga hal yang wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap manusia. Pertama adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Ibadah kepada Allah ta’ala harus dilakukan sesuai dengan bimbingan dan tuntunan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Nabi bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى

“Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga, kecuali yang enggan.”

Para sahabat bertanya,

يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟

“Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?”

Beliau menjawab,

مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk jannah, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk jannah).” (HR. Bukhari)

Kedua, Allah subhanahu wa ta’ala tidak rida apabila seseorang mempersekutukan-Nya dalam beribadah kepada-Nya. Walaupun yang diberikan ibadah tersebut adalah malaikat atau seorang nabi. Ibadah harus murni untuk Allah. Allah berfirman,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. al-Jin [72]: 18)

 

Al-Masaajid

Kata “al-masaajid” ditafsirkan oleh para ulama dalam dua penafsiran. Penafsiran yang pertama, bahwa “al-masaajid” adalah kata jamak dari masjid (tempat salat). Penafsiran yang kedua, “al-masaajid” adalah kata jamak dari “misjad” yang berarti anggota sujud.

Nabi mengatakan bahwa anggota sujud ada tujuh. Dahi dengan hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki. Sehingga di dalam penafsiran kedua maknanya adalah bahwa anggota sujud tersebut adalah milik Allah, untuk Allah, dan janganlah kalian berdoa bersama Allah kepada seorang pun.

Ketiga, Barangsiapa yang taat kepada Rasul dan mentauhidkan Allah ta’ala, memurnikan ibadah hanya kepada Allah, tidak boleh bagi orang tersebut memberikan loyalitas atau kecintaan kepada orang-orang yang membenci Allah dan rasul-Nya dari kalangan orang-orang kafir, dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nashrani.

Dalilnya adalah firman Allah,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. (QS. al-Mujadalah [58]: 22)

Hukum mencintai orang kafir menurut para ulama terbagi menjadi dua. Pertama, mencintai orang kafir dengan artian ia mencintai akidah dan peribadatannya kepada selain Allah, atau mencintai orang kafir dengan membela dan membantu mereka di dalam meruntuhkan agama Islam, ini hukumannya adalah kufur kepada Allah, keluar dari Islam.

Kemudian yang kedua, mencintai orang kafir dalam rangka untuk mendapatkan dunia. Ini hukumnya adalah dosa besar, tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.

Hal ini pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, pernah menimpa seorang sahabat yang mulia bernama Hatib bin Abi Balta’ah radhiallahu’anhu.

Ketika Rasulullah ingin melakukan Fathu Makkah, Hatib bin Abi Balta’ah, menulis sepucuk surat yang berisi pemberitahuan rencana Nabi kepada keluarga beliau yang ada di Mekkah. Beliau memberikan surat itu kepada seseorang, kemudian dibawa ke Makkah.

Namun Allah memberitahu kepada nabi-Nya tentang kejadian ini. Nabi memanggil Hatib bin Abi Balta’ah dan mempertanyakan alasannya melakukan hal tersebut–Umar bin Khaththab tanpa basa-basi berkata, “Wahai Rasul, biarkan aku memenggal leher orang ini!”.

Sahabat Hatib melakukan itu karena cinta kepada keluarganya yang ada di Mekkah. Ia khawatir mereka akan terbunuh. Akan tetapi, tidak ada keinginan untuk menghancurkan kaum muslimin.

Nabi tidak mengatakan Hatib bin Abi Balta’ah ini keluar dari Islam. Sehingga dari peristiwa ini para ulama mengambil kesimpulan bahwa memberikan loyalitas kepada orang kafir dari sisi dunia hukumnya adalah dosa besar. Namun, mencintai mereka dalam artian mencintai akidah mereka, ibadah mereka, dan membantu mereka untuk meruntuhkan Islam dan muslimin maka hukumnya adalah keluar dari agama Islam.

(Disadur dari Kajian Ustad Tanthawi Abu Muhammad)


Lihat faedah ilmiah lainnya:

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *