Utuhnya Syariat Islam
5 min read
Dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang itu semua terkandung di dalam Al-quran dan Sunah adalah agama yang syamil. Syamil artinya mencakup segala jenis urusan manusia, membahas, dan menjelaskan semua kebaikan yang akan membawa keberkahan dalam kehidupan seseorang dan mengingatkan dari segala kejelekan yang akan menyeret seseorang dalam lembah kenistaan.
Syariat Nabi bukan hanya masalah akidah yang menyangkut ideologi atau hanya membahas permasalahan fikih, lalu mengabaikan yang lain. Al-Qur’an menjelaskan permasalahan akidah, bagaimana seseorang menyembah Allah dengan benar, tidak menyekutukan dengan-Nya dengan apapun itu. Begitu juga, terdapat persoalan salat, zakat, puasa, doa dan lain sebagainya.
Siapa yang beranggapan bahwa Islam identik dengan akidah saja, kemudian dia mengabaikan yang lainnya. Atau hanya memperhatikan shalat dan dia mengabaikan perkara tauhid, maka ia telah terjatuh ke dalam kekeliruan.
Kebanyakan orang-orang yang berusaha untuk meniti jalan yang lurus terjerembab ke dalam jebakan-jebakan ini. Mereka memperhatikan bagaimana berakidah dengan benar, menjadi seorang yang muwahid, namun dia mengabaikan tazkiyatun nufus. Cara dia bicara kepada orang lain selalu menyakiti saudaranya
Makna masuk ke dalam Islam secara kaffah (sempurna) adalah memberikan porsi dengan standar dan dengan adil di dalam syariat Islam ini.
Ketika Rasul mengirim Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau tidak mengatakan kepada Mu’adz untuk melihat saja apa yang menjadi kegemaran dan kesibukan orang-orang Yaman dan mencukupkan diri dengan membahas hal-hal tersebut, akan tetapi Rasulullah memberikan urutan yang menjadi konsep dakwah seorang muslim yang mengikuti syariat Rasul.
إِنَّكَ سَتَأْتِيْ قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَىْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ٠ وَفِيْ رِوَايَةٍ : إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ ٠ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَـمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah -dalam riwayat lain disebutkan, ‘Sampai mereka mentauhidkan Allah’- Jika mereka telah mentaatimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allâh Azza wa Jalla mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mentaati hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, No. 1395, 1496, 4347, 7372, Muslim No. 19 [29], at-Tirmidzi No. 625, Abu Dawud No. 1584, an-Nasa-i, V/55, Ibnu Majah No. 1783, ad-Darimi, I/405, Ahmad, I/233, dan lainnya)
Akan terjadi ketimpangan dalam penerapan syariat Islam ketika seseorang memperhatikan satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain. Ketika semangat di dalam mempelajari akidah, dia mengabaikan bagaimana hubungan dia dengan orang tuanya, dengan istri, dengan suaminya, dengan tetangganya dan yang lainnya. Atau di sisi lain, ada orang yang hanya menyibukkan diri dengan perkara bid’ah, membela sunnah, akhirnya perkara-perkara yang lain terabaikan.. Rasulullah telah mengingatkan hal ini,
وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman,” ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, siapa dia?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya’.” (HR. Bukhari)
Rasul dalam hal ini menjadi seorang yang sangat ideal. Tidak dipungkiri di kalangan para sahabat Nabi, ada yang mereka itu ketika melihat sebuah kesalahan, mereka ingin langsung menyikapinya.
Ketika ada seorang badui bernama Dzul Khuwaishirah, buang air kecil di dalam masjid, para sahabat semuanya berdiri ingin memukul orang ini. Ini satu hal yang bagus, semangat di dalam membela kebenaran, hal yang diingkari adalah kemungkaran. Rasul mengatakan,
دَعُوهُ
“Biarkanlah dia.”
Hal ini tidak berarti bahwa Nabi seorang tidak peduli dengan kesalahan. Tetapi beliau melihat sesuatu yang jauh ke depan. Apabila para sahabat langsung menyikapi orang ini, bisa jadi kalau tidak lari air kencingnya akan kemana-mana atau dia akan berhentikan kencingnya dan menjadi mudarat kepada dirinya.
Setelah ia selesai buang air kecil, dirinya dinasehati oleh Nabi untuk mengambil satu ember air untuk disiram ke bekas kencingnya. Satu tempat saja, tidak kemana-mana. Setelah itu diingatkan oleh Rasul bahwa ini adalah masjid. Inilah yang membuat Nabi benar-benar dikagumi oleh orang itu.
Hingga dia mengatakan sebuah ucapan yang unik, “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati yang lain bersama kami.” Kemudian kata Rasulullah “Egkau telah menyempitkan yang luas.” (Muttafaq ‘Alaih)
Rasul berusaha untuk para sahabat menjadi pribadi yang ideal. Saat muncul indikasi sebagian sahabat meninggalkan salat jamaah, beliau mengatakan ini,
لقد هممت أن آمر بالصلاة فتقام ثم آمر رجلاً فيؤم الناس، ثم أنطلق برجال معهم حزم من حطب إلى قوم لا يشهدون الصلاة فأحرق عليهم بيوتهم
“Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Itulah keadaan manusia, ada yang berlebihan, ada juga yang suka mengurang-ngurangi. Itu disebut juga dengan ifrad dan tafrid, ghuluw dan jafa’. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam berusaha di tengah-tengah.
Pada saat Mua’dz bin Jabal radhiallahu’anhu–di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim–ketika ia salat Isya bersama Nabi, lalu beliau salat kembali di kampungnya, beliau membaca salat dengan bacaan yang lama. Bacaan shalat yang lama adalah hal yang bagus. Tetapi Mu’adz bin Jabal tidak memperhatikan bahwa ada di belakang orang-orang yang memiliki keperluan, akhirnya ada seorang yang keluar dari jamaah dan salat sendirian, kemudian dia keluar. Dituduh oleh sahabat yang lain kalau orang ini adalah orang munafik. Dilaporkanlah dia kepada Nabi. Setelahnya, Mu’adz bin Jabal mendapat teguran dari Nabi,
يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ
“Wahai Mu’adz, apakah Engkau tukang membuat fitnah?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Memang benar adalah bahwa seseorang lebih bagus memperlama bacaan,
وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. al-Baqarah [2]: 238)
Tetapi, Rasulullah melihat sesuatu yang lain, lalu beliau mengatakan kepada Mu’adz bin Jabal dan sahabat yang lain,
فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيْهِمُ [الْمَرِيْضُ]، وَالضَّعِيْفُ، وَالْكَبِيْرُ، وَذَا الْحَاجَة
“Wahai manusia, sesungguhnya di antara kalian ada orang yang membuat orang lain lari, maka siapa saja diantara kalian yang mengimami manusia, hendaknya ia meringankan, karena sesungguhnya di tengah mereka (ada orang sakit), orang lemah, orang tua, dan orang yang memiliki keperluan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitulah bentuk keutuhan syariat Islam yang dibawa oleh Nabi. Menyempurnakan itu semuanya. Mempelajari semuanya dan berusaha menerapkan Islam dengan segalanya.
Dalam metode pendidikan Islam, pada saat pertama sekali belajar, dianjurkan oleh para ulama untuk memahami setiap kondisi-kondisi atau perkara dasarnya. Belajar akidah, fikih, nahwu, sharaf, ushul fikih, hadits, dan lain sebagainya, kita diperintahkan untuk memulai dari dasar-dasarnya. Fungsinya adalah ketika suatu saat nanti kita akan terfokus kepada sebuah materi, kita sudah memiliki dasar semuanya, usecara menyeluruh.
Sehingga tidak akan mengalami ketimpangan. Oleh sebab itu, di antara syarat seseorang dianggap mujtahid, bukan dengan harus memahami semua materi ilmu, tetapi memahami dasar-dasar dari ilmu agama.
(Bentuk ringkas dari taklim bersama Ustadz Imam Abu Abdillah)
Lihat faedah ilmiah lainnya:
- Mulia Karena Memuliakan Islam
- Nikmat Kemerdekaan
- Berhati-hati dalam Pengkafiran
- Kesabaran Seorang Muslimah
- Jangan Tertipu dengan Usia
- Menutup Pintu-Pintu Fitnah
- Berpegang Teguh pada Al-Qur’an
- Mengikuti Rasulullah
- Pembatal Keislaman
Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh
Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322
