Tentang Keimanan
3 min read
Dalam bab akidah, dikenal istilah al-iman. Al-iman secara bahasa bermakna percaya dan meyakini sesuatu, dan secara syar’i adalah keyakinan yang datang dari hati, diucapkan dengan lisan, kemudian dia diamalkan dengan anggota badan, bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Tiga hal ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits,
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْعَظْمِ عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
“Iman itu ada tujuh puluh cabang, yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaaha illaallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah bagian dari keimanan.” (HR. Abu Daud)
Pertama sekali disebutkan adalah ucapan “laa ilaaha illallah”, beliau mengisyaratkan bahwa lisan itu merupakan bagian dari iman. Kemudian yang kedua beliau menyebutkan sebuah sifat, amalan hati yaitu malu, yang mana malu yang dimaksud di sini adalah malu yang menyebabkan dia tidak ingin bermaksiat kepada Allah, bukan malu sebagaimana yang dimaklumi secara umum.
Setelahnya yang ketiga, isyarat Nabi yang menunjukkan bahwasanya amalan termasuk bagian dari iman adalah dengan seseorang menyingkirkan gangguan dari jalanan. Seorang hamba melihat ada batu besar di jalan raya, lalu menyingkirkannya, itu adalah iman.
Para ulama memberikan tambahan terhadap perkara ini, iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dalam Alquran, Allah menyebutkan beberapa dalil yang menunjukkan bahwa ketaatan bisa menambah keimanan seorang hamba,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. al-Anfal [8]: 2)
Begitu pula, seorang hamba tatkala dia bermaksiat kepada Allah, maka akan berkuranglah tingkat keimanannya. Rasulullah bersabda,
لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِينَ يَزْنِى وَهْوَ مُؤْمِنٌ
“Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina.” (HR. Bukhari, No. 2475 dan Muslim No. 57)
Faedah yang paling besar dengan mengetahui persoalan ini ialah dapat membuat seorang hamba untuk selalu memperbarui keimanannya. Seorang mukmin seharusnya sering bermuhasabah. Disebutkan dalam atsar Umar bin Khaththab radhiallahu ta’ala ‘anhu,
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Dengan mengetahui betapa banyak kemaksiatan yang telah dilakukan, seseorang akan menyadari bahwa bisa jadi nanti ketika bertemu dengan Allah, keimanan yang selama ini telah diusahakan ternyata tidak bernilai sedikit pun di sisi Allah,
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan kami datangkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. al-Furqan [25]: 23)
Memperbaharui iman adalah perkara yang sangat penting bagi seorang hamba. Umumnya diketahui, dalam memperbaharui iman ialah dengan melaksanakan ketaatan. Namun secara khusus, amalan yang paling baik untuk memperbaharui keimanan seorang hamba yang paling pertama adalah dia sering membaca al-Qur’an.
Allah menyebutkan,
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24)
Kemudian yang kedua, di antara hal terbaik untuk memperbaharui iman itu adalah dengan menuntut ilmu agama, duduk di majelis taklim, inilah hal yang paling ditekankan oleh para ulama.
Rasulullah mengatakan,
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah sebuah kaum berkumpul di dalam rumah di antara rumah-rumah Allah ta’ala, membaca kitab Allah, dan saling mempelajarinya diantara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, serta dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di antara malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Abu Daud)
(Sedikit faedah dari taklim bersama Ustad Asqar Quraisy)
Lihat faedah ilmiah lainnya:
- Utuhnya Syariat Islam
- Melawan Lupa
- Memahami Nama-Nama Allah
- Adab Seorang Alim dan Penuntut Ilmu
- Kewajiban Kepada Rasulullah
- Sikap Berlebihan Terhadap Orang Shalih
- Adab Berdoa
Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh
Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322
