Melawan Lupa
3 min read
Lupa di dalam bahasa Arab dinamakan dengan an-nisyan. Para ulama telah menyebutkan bahwa an-nisyan memiliki dua makna atau keadaan. Keadaan pertama adalah lupa yang sudah menjadi tabiat manusia dan keadaan yang kedua adalah lupa tetapi di atas unsur kesengajaan.
Adapun lupa yang berkaitan dengan tabiat manusia, ini sudah menjadi ketentuan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Para ulama menyebutkan bahwa manusia di dalam bahasa Arab dinamakan dengan al-insan karena dia selalu, terus-menerus, dan sangat sering lupa. Oleh karena itu, yang namanya manusia terkodratkan oleh Allah selalu diliputi dengan lupa, ketidaksengajaan dan lain sebagainya.
Lupa jenis pertama ini adalah lupa yang diampuni oleh Allah. Seorang yang berpuasa lalu makan dan minum dalam keadaan lupa, dimaafkan oleh Allah. Kata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,
مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ, فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ, فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ, فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اَللَّهُ وَسَقَاهُ
“Barangsiapa yang lupa sedang ia dalam keadaan puasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya karena kala itu Allah yang memberi ia makan dan minum.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari No. 1933 dan Muslim No. 1155)
Berbeda dengan lupa jenis kedua, lupa yang dibangun di atas keberpalingan, kesengajaan, kufur, tidak mau menerima dan menentang syariat Allah. Ini adalah lupa yang tercela dan lupa yang akan Allah berikan hukuman terhadap orang yang melakukannya.
Oleh karena itu Allah azza wa jalla, mengingatkan orang-orang yang sengaja berpaling dari al-Qur’anul Karim sebagai pedoman umat Islam,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ ٠ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا ٠ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Thaha [20]: 124-126)
Orang-orang yang Allah kumpulkan dan dijadikan buta pada hari kiamat adalah orang yang di dunia tidak buta. Mereka bisa melihat kebenaran, mereka mengetahui ayat-ayat Allah, tetapiterjatuh dalam keadaan lupa yang dibangun di atas kesengajaan.
Di dalam ayat yang lain Allah mengatakan,
وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا
“Dan dikatakan (kepada mereka), ‘Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini.” (QS. al-Jatsiyah [45]: 34)
Mislanya seseorang sudah tahu bahwa 2,5% dari uang yang dia miliki setelah melewati nisab dan telah genap satu tahun, ada zakat bagi fakir miskin. Seseorang tahu bahwa emas dan perak yang ia simpan ada zakatnya manakala sudah mencapai nisab dan telah genap satu tahun.
Lupa yang demikian adalah lupa yang harus dilawan, tidak boleh kita terbuai di dalam kelupaan dengan jenis yang seperti itu. Kalau kita sengaja melupakan perkara tersebut setelah kita mengetahuinya, maka ingatlah bahwa Allah tidak akan mengabaikan itu semuanya. Semuanya akan dituntut dan dihukum oleh Allah sesuai dengan keadilan dan peradilan Allah.
Para ulama menyebutkan bahwa kata kunci di dalam semua jenis godaan-godaan Syaithan adalah lupa dengan jenis yang kedua ini, lupa yang dibangun dalam konteks berpaling dari syariat Allah. Dalam bentuk semua jenis maksiat, apakah syirik, menyekutukan Allah, menduakan Allah dalam ibadah.
Termasuk juga di dalamnya, menjadikan pelanggaran-pelanggaran di dalam konteks ibadah, melenceng dari syariat Nabi. Padahal Rasulullah adalah sang tauladan di dalam ibadah, sehingga kita disuruh mengikuti beliau di dalam berakidah, bermuamalah, fiqih, dan aspek-aspek lainnya
Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah, konsekuensinya adalah menjadikan Nabi Muhammad sebagai satu-satunya manusia yang kita contoh dalam beribadah kepada Allah.
Oleh karena itu, lupa yang seperti ini harus dilupakan. Kita dituntut untuk menjadi muslim yang peka, teliti, yang benar-benar memahami kedudukan sebagai hamba Allah.
Sebagai hamba, harus menghamba kepada Allah dengan ibadah kepada-Nya. Berakidah kepada Allah dengan akidah yang benar. Meninggalkan kebergantungan kepada selain Allah. Apakah itu pada orang yang telah mati, bebatuan, pepohonan dan apa-apa yag semisal dengan itu. Allah berkata,
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Al-Ma’idah [5] : 23)
(Rangkuman dari Khotbah Jumat Ustadz Imam Abu Abdillah)
Lihat faedah ilmiah lainnya:
- Mulia Karena Memuliakan Islam
- Nikmat Kemerdekaan
- Berhati-hati dalam Pengkafiran
- Kesabaran Seorang Muslimah
- Jangan Tertipu dengan Usia
- Menutup Pintu-Pintu Fitnah
- Berpegang Teguh pada Al-Qur’an
- Mengikuti Rasulullah
- Pembatal Keislaman
Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh
Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322
