Adab Seorang Alim dan Penuntut Ilmu (Bagian Satu)
5 min read
Dalam kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim karya Imam Ibnu Jama’ah rahimahullah, sebuah kitab yang berbicara tentang adab dan akhlak yang sepantasnya ada pada diri seorang alim dan penuntut ilmu, beliau menyebutkan adab yang pertama dari dua belas adab yang semestinya ada pada diri seorang yang berilmu. Berkata Umar radhiallahu ta’ala ‘anhu, “Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah karena ilmu itu ketenangan dan kewibawaan.”
Dari atsar ini, terdapat faedah bahwasanya Umar mewasiatkan agar seseorang itu tidak hanya mempelajari ilmu, akan tetapi hendaknya dia juga mempelajari tentang ketenangan dan kewibawaan yang ada pada ilmu tersebut. Atsar ini diriwayatkan oleh al-Imam Waki’ di dalam az-Zuhd dan Imam al-Baihaqi di dalam al-Madkhal.
Kemudian, adab kedua yang mesti dimiliki oleh seorang alim adalah hendaknya seseorang yang berilmu tersebut menjaga ilmu sebagaimana cara ulama salaf menjaganya, dengan menegakkan baginya ‘izzah (kehormatan) dan syaraf (kemuliaan).
Jangan mengotori ilmu dengan kerakusan kepada dunia atau pergi mendatangi orang-orang yang tidak layak didatangi dari kalangan budak-budak dunia dengan tanpa alasan dan kebutuhan yang sangat mendesak. Jangan pula mendatangi murid-murid yang berasal dari kalangan mereka, meskipun begitu hebat statusnya, dan sangat besar kedudukan serta kekuasaannya.
Ilmu itu adalah perkara agama, dan perkara agama itu lebih utama dan lebih mulia dari hal dunia. Bahkan tidak sepantasnya seorang yang berilmu membawakan ilmu yang dia miliki kepada orang yang akan mempelajarinya. Karena ilmu itu didatangi bukan mendatangi. Walau sebesar apa pun urusannya dan setinggi apa pun derajatnya serta siapa pun dia.
Imam Zuhri berkata bagaimana para ulama salaf menjaga kedudukan ilmu, bukan karena kesombongan mereka, tetapi itulah ilmu, haknya untuk dimuliakan. Beliau berujar bahwasanya adalah sebuah kehinaan bagi ilmu ketika orang yang berilmu membawakannya ke rumah orang yang belajar.
Imam Ibnu Jama’ah berkata,
“Dan sungguh telah benar ucapannya al-Qadhi Abul Hasan al-Jurjani yang berkata, ‘Dan aku tidaklah mengorbankan jiwa ragaku di dalam melayani (mempelajari) ilmu, dengan tujuan agar aku menjadi budak bagi orang yang aku jumpai akan tetapi semestinya aku yang dilayani (karena ilmu itu sekarang ada padaku). Mungkinkah aku rela menyiksa diriku ketika aku menanamnya (di masa-masa belajar) dan pada akhirnya aku hanya mendapatkan hasil panen sebuah kehinaan. Kalau memang beginilah perkaranya, berarti mengikuti kebodohan tentunya lebih pantas. Kalaulah orang-orang yang berilmu itu benar-benar menjaga kewibawaan ilmu, maka sungguh ilmu itu pun akan menjaga (kewibawaan) mereka. Kalaulah memang mereka mengagungkan ilmu di diri-diri mereka, sungguh mereka pun akan benar-benar dimuliakan’.”
Namun, apabila memang ada sebuah hajat (kebutuhan yang sangat mendesak) yang membuat seseorang membawakan ilmu yang dia punya kepada orang yang mempelajarinya, atau memang ada hal darurat yang mengharuskan hal tersebut, atau ada sebuah maslahat agama yang sangat kuat yang mengharuskan hal tersebut terjadi (guru mendatangi murid) yang lebih kuat daripada mafsadatnya, dan memang benar lurus niatnya, maka itu tidak mengapa.
Syekh Shalih al-Utsaimin membuat sebuah kesimpulan mengenai kapan seseorang dibolehkan membawakan ilmu kepada orang yang ingin mempelajarinya. Kata beliau, ada dua syarat yang mesti ada pada diri orang yang ingin membawakan ilmu kepada orang yang ingin mempelajarinya yang mesti terpenuhi.
Pertama, ketika ada sebuah kebutuhan yang sangat mendesak yang membuat seorang guru (alim) mendatangi rumah murid (muta’allim), atau ada hal darurat yang mengharuskan hal itu, atau ada maslahat dibalik hal tersebut yang memang mengharuskan seorang alim berbuat demikian. Adapun yang kedua ialah niat yang benar dan maksud yang jujur.
Begitu pula dibolehkan juga orang yang memiliki ilmu mendatangi rumah orang yang ingin mepelajari ilmu apabila orang yang didatangi, yang ingin mendengarkan ilmu tersebut adalah seseorang yang berada di atas kedudukan dan tempat yang tinggi di dalam ilmu. Maksudnya, orang yang ingin diperdengarkan ilmu tersebut adalah orang yang memang memiliki tingkat keilmuan yang tinggi, dan itu adalah kebiasaan salaf, di mana mereka tidak merasa malu untuk mendengarkan ilmu dari yang di bawah mereka.
Jadi terkadang adakalanya sebagian muhaddits mendatangi rumah muhaddits yang lain, dan yang mendatangi ini, dialah yang akan membacakan hadits karena yang dibacakan kepadanya hadits tingkatnya lebih utama, kedudukannya lebih tinggi dan itu dibolehkan. Maka yang seperti ini tidak mengapa seseorang sering kembali kepada orang yang ingin diperdengarkan ilmu untuk memberikan faedah kepada dirinya.
Dahulu, Sufyan Ats-Tsauri juga berjalan kepada Ibrahim bin Adham dan Sufyan yang memberikan faedah kepadanya. Di sini yang datang adalah yang mengajar, akan tetapi Ibrahim bin Adham tingkatannya di atas Sufyan ats-Tsauri. Juga terkadang Abu Ubaid juga mendatangi Ali bin al-Madini, dan Abu Ubaid yang membacakan hadits kepada Ali dari hadits-hadits yang gharib (aneh) dan Ali bin Madini adalah di atas Abu Ubaid dalam hal tingkatan ilmu.
*Ibnu Jama’ah menyebutkan bahwasanya telah diriwayatkan juga dari sebagian Salaf, ada tiga adab yang senantiasa ada pada diri seorang alim dan penuntut ilmu, yaitu,
1. Sepantasnya bahkan wajib atas seorang yang berilmu, hendaknya dia merendah diri karena Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kesendiriannya dan ketika dia berada di dalam keramaian, tidak merasa tinggi dari manusia lainnya, dengan catatan harus benar-benar karena Allah. Ada sebuah atsar dari Abdullah Ibnul Mu’taz yang berkata,
المتواضع في طلاّب العلم أكثرهم علماً ،
كما أنّ المكان المنخفض أكثر البقاع ماءً .
“Orang yang tawadhu’ dari kalangan penuntut ilmu itulah yang paling banyak ilmunya di antara mereka, Sebagaimana tanah yang rendah ia lebih banyak menampung air.” (Kitab al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’ karya Imam al-Khatib al-Baghdadi)
Air ketika dituangkan pasti akan mengalir menuju tempat yang paling rendah, maka demikianlah orang yang paling tawadhu’ dari kalangan penuntut ilmu adalah mereka yang paling berilmu karena dia merasakan beban ilmu karena sejatinya ilmu adalah beban.
2. Hendaknya dia waspada dari dirinya sendiri sebelum dia waspada dari syaithan, dan dari godaan teman-teman yang jelek. Banyak sekali hal-hal yang kita harus menjaga diri darinya, dan yang pertama sekali adalah yang terdekat yaitu diri kita sendiri karena yang namanya jiwa, tanpa godaan syaithan dan lingkungan yang mengajak kepada kejelekan pun dia sudah condong kepada hal-hal yang jelek.
3. Hendaknya seorang alim itu menghentikan langkahnya pada hal-hal yang dia tidak memahaminya. Membiasakan untuk mengatakan “saya tidak tahu” dan tidak memaksakan diri untuk menjawab.
(Diringkas dari Kajian Ustadz Iqbal Abu Hisyam)
Lihat faedah ilmiah lainnya:
- Mulia Karena Memuliakan Islam
- Nikmat Kemerdekaan
- Berhati-hati dalam Pengkafiran
- Kesabaran Seorang Muslimah
- Jangan Tertipu dengan Usia
- Menutup Pintu-Pintu Fitnah
- Berpegang Teguh pada Al-Qur’an
- Mengikuti Rasulullah
- Pembatal Keislaman
Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh
Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322
