Adab Seorang Alim dan Penuntut Ilmu (Bagian Dua)
4 min read
Adab ketiga yang sepantasnya dijaga oleh seorang alim dan orang yang sedang meniti jalan ilmu adalah hendaknya mereka menghiasi dirinya dengan sifat zuhud terhadap dunia dan berusaha untuk mempersedikit harta (ada jalan untuk mendapatkan harta lebih banyak, akan tetapi ia tinggalkan) semampunya dengan kadar yang tidak menyebabkan mudarat terhadap dirinya dan keluarganya.
Orang yang berilmu pastilah merupakan orang yang paling memahami akan kehinaan dunia, besarnya fitnah dunia, begitu cepatnya dia musnah, dan begitu banyak kelelahan serta keletihan untuk memperoleh dunia ini. Jadi kalau ada seorang alim yang terfitnah dengan dunia, dapat dikatakan sulit untuk dikembalikan.
Karena ia adalah orang yang paling paham akan obatnya, tapi tidak ia gunakan. Berbeda dengan orang yang jahil, ketika ia terserang penyakit cinta dunia karena belum paham akan hakikat dunia, maka ia bisa diobati oleh seorang yang alim karena ia paham ramuannya.
Zuhud
Di sini ada sebuah faedah tentang definisi kata zuhud. Para ulama banyak memberikan definisi tentang apa itu zuhud. Definisi yang paling bagus adalah yang dibawakan oleh al-Imam Ibnul Qayyim di dalam kitabnya Madarijus Salikin, beliau menukilkan langsung dari gurunya Ibnu Taimiyah.
Beliau mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat. Ini adalah tingkatan yang sangat tinggi, bukan meninggalkan hal yang berbahaya (dosa), tetapi di atasnya lagi, standar yang sangat tinggi. Jadi amalan kesehariannya adalah antara wajib dan sunnah, semuanya menghasilkan pahala, begitulah zuhud.
Syekh al-Ushaimin memberikan penjelasan bahwasanya hal-hal yang tidak bermanfaat di akhirat itu kembalinya merujuk kepada satu dari tiga perkara.
Perkara yang pertama adalah hal-hal yang jelas keharamannya, maka itu ditinggalkan oleh seorang yang zuhud. Karena yang haram itu sudah pasti tidak bermanfaat dan bahkan berbahaya di akhirat. Kedua, hal-hal makruh yang ketika dikerjakan tidaklah berdosa, namun kalau ditinggalkan dengan niat ta’abbud dia akan menjadi pahala. Kemudian yang ketiga, berlebihan di dalam hal-hal yang dibolehkan. Melakukan hal yang dibolehkan itu tidaklah masalah, walaupun berlebihan, tidak menjadi dosa, tapi ia tidak bermanfaat. Maka orang yang zuhud, dia tidak memperbanyak dari hal-hal yang seperti ini.
Ada perkara keempat yang beliau tambahkan, yaitu orang zuhud itu juga meninggalkan hal-hal yang orang-orang tidak memahami kejelasan hukumnya.
Kata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir.” (Hadis shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhâri, no. 6416; at-Tirmidzi, no. 2333; Ibnu Mâjah no. 4114; Ahmad, II/24 dan 41; al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, XIV/230, no. 4029; Ibnu Hibbân, at-Ta’lîqâtul Hisân no. 696 dan lain-lain)
Adab yang keempat adalah hendaknya dia mensucikan ilmunya dari dia menjadikan ilmunya itu sebagai perantara yang menyampaikan dia kepada tujuan-tujuan duniawi. Jangan sampai seorang alim dan seorang penuntut ilmu itu mempelajari sebuah ilmu dengan tujuan mendapatkan keuntungan-keuntungan duniawi berupa tahta, harta, sanjungan, ketenaran, atau untuk mendapatkan pelayanan, atau untuk terlihat menjadi orang yang menonjol dibanding teman-temannya.
Berkata al-Imam asy-Syafi’i, “Aku berangan-angan bahwasanya semua makhluk mempelajari ilmu (dariku), tapi mereka tidak perlu menisbatkan satu huruf pun kepadaku”. Imam Syafi’i berharap pahala mengajar ilmu itu tetap ia dapatkan, tapi dia jauh dari fitnah. Hanya saja yang seperti itu tidaklah bisa, karena ilmu agama ini perlu rantai sanad, khususnya ilmu hadis. Begitulah para ulama salaf memperhatikan perkara hati.
Begitupula sepantasnya bagi seorang yang mengajarkan ilmu mensucikan hati dan ilmunya dari rasa tamak untuk mendapatkan imbalan kebaikan dari muridnya, baik dalam bentuk harta, pelayanan, atau yang selain keduanya dengan sebab karena tersibukkannya dia dengan mengajar mereka dan berbolak-baliknya mereka kepadanya untuk mempelajari ilmu.
Berkata Sufyan Ibnu Uyainah, “Dahulu, aku sudah merasakan bahwasanya aku diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala pemahaman akan Alquran. Namun, ketika aku sudah mulai menerima santunan dari Abu Ja’far (salah satu pemimpin di jaman pemerintahan al-Abbasy), aku merasa ilmu itu sudah mulai diangkat dariku.”
Dari ucapan ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwasaya hati kita itu kalau sudah dipenuhi dengan kecintaan terhadap dunia, tidak akan datang padanya pemahaman terhadap Alquran, karena ia adalah sesuatu yang bertolak belakang. Karena yang namanya kalamullah, dia hanya bisa menempati tempat-tempat yang suci, sedangkan dunia ini diibaratkan sebagai sesuatu yang najis (kotor). Apabila hati sudah mulai terkotori, maka akan lemah pemahamannya terhadap Alquran.
Ucapan yang telah diucapkan oleh Sufyan Ibnu Uyainah di atas tadi, itu adalah bentuk perendahan beliau terhadap dirinya, beliau bukan benar-benar menginginkan kandungan dari ucapan tersebut, maksudnya adalah hal tersebut bukanlah yang sebenarnya terjadi.
Perihal beliau menerima pemberian dari para penguasa, maka seluruh perkara ini bukanlah perkara yang haram. Karena hal itu ternyata adalah hal yang dilakukan oleh para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, menerima apa yang diberikan oleh penguasa sebagai bentuk santunan kepada orang alim yang mengajarkan ilmu dan menyibukkan hari demi hari demi ilmu, dan itu bukanlah hal yang terlarang.
Namun demikianlah curhatan dari al-Imam Sufyan Ibnu Uyainah. Orang sekaliber beliau merasakan ada yang kurang ketika ia mulai menerima santunan tersebut sebagai bentuk perendahan beliau terhadap dirinya. Pastinya orang-orang seperti Sufyan dan sahabat-sahabat Nabi lainnya yang menerima santunan seperti itu, tentunya tanpa jiwa yang tamak terhadapnya.
اَللَّهُمَّ أَهْدِنِيْ ِلأَحْسَنِ اْلأَعْمَالِ ، وَأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ ، لاَ يَهْدِي ِلأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ ، وَقِنِي سَيِّئِ اْلأَعْمَالِ ، وَسَيِّئِ اْلأَخْلاَقِ ، لاَ يَقِي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ
“Ya Allah berilah petunjuk kepadaku untuk berbuat sebaik-baik amalan, sebaik-baik akhlak, tidak ada yang bisa menunjuki untuk berbuat sebaik-baiknya kecuali Engkau. Dan lindungi kami dari jeleknya amalan dan jeleknya akhlak, dan tidak ada yang melindungi dari kejelekannya kecuali Engkau.” (HR. an-Nasa’i)
(Diringkas dari kajian Ustadz Iqbal Abu Hisyam)
Lihat faedah ilmiah lainnya:
- Mulia Karena Memuliakan Islam
- Nikmat Kemerdekaan
- Berhati-hati dalam Pengkafiran
- Kesabaran Seorang Muslimah
- Jangan Tertipu dengan Usia
- Menutup Pintu-Pintu Fitnah
- Berpegang Teguh pada Al-Qur’an
- Mengikuti Rasulullah
- Pembatal Keislaman
Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh
Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322
