3 Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
3 min read
Nabi berwasiat, dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih dari sahabat yang mulia Abu Ayyub al-Anshari,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عِظْنِي وَأَوْجِزْ وفي رواية عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ
“Seorang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, berilah aku nasehat dengan ringkas! (dalam riwayat lain) Ajarilah aku dengan ringkas!”
Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada sahabat yang mulia ini,
إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا وَاجْمِعِ الْيَأْسَ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ
“Kalau Engkau mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia). Jangan berbicara dengan satu kalimat yang esok hari kamu akan meminta udzur karena ucapan itu. Dan perbanyaklah rasa putus asa terhadap apa yang ditangan orang lain.” (HR. Imam Ahmad, No. 23498 dan Ibnu Majah, No. 4171. Lihat as-Shahihah, No. 401)
Pelajaran yang dapat diambil dari hadis yang mulia ini ada dua. Pertama adalah anjuran untuk melaksanakan salat dengan khusyuk, yaitu dengan merasakan bahwa salat yang dilakukan ialah salat terakhir kali. Misalnya, ketika salat Zuhur, janganlah pernah berpikir bahwa pada sore harinya (waktu Asar) dapat kembali melakukan salat.
Pada saat ini, di mana-mana terjadi kemungkaran, bahkan yang melakukannya terkadang adalah orang-orang yang melaksanakan salat. Hal ini disebabkan karena salat yang dilakukan tidak mengandung kekhusyukan, hanya gerakan badan, tidak ada tafakkur di dalamnya, sehingga tidak memberikan pengaruh kepada pelakunya.
Kedua adalah perintah untuk menjaga lisan. Lisan merupakan nikmat, anugerah yang sangat besar yang Allah berikan kepada seorang hamba. Apabila dipergunakan pada tempat yang baik, balasannya surga. Sebaliknya, jika tidak dipergunakan pada tempat yang baik, maka lisan ini bisa mengantarkan seseorang kepada neraka. Sehingga kata Nabi,
مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” (HR. Bukhari No. 6474)
Kalam itu ada tiga. Seandainya baik, maka ucapkan seperti kalimat “laa ilaaha illallah”, perbanyak istighfar seperti kata Nabi dari hadis yang dikeluarkan oleh al-Imam Ibnu Majah dari Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha dari Abdullah bin Husr radhiallahu ta’ala ‘anhu,
طُوْبَى ِلمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيْفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيْرًا.
“Sungguh beruntung seseorang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR Ibnu Majah No. 3818, dan dinilai shahih oleh syekh al-Albani rahimahullah)
Adapun seandainya salah dipergunakan atau ada kalam yang jelek maka segera tinggalkan. Kalau sesuatu yang tidak jelas apakah akan baik atau jelek maka juga tinggalkan. Maka tidak keluar dari lisan kita kecuali sesuatu yang baik yang akan membahagiakan kehidupan dunia dan akhirat.
Ketiga adalah perintah untuk bertawakal hanya kepada Allah subhanahu wa taala, tidak pernah berharap dengan apa yang ada di tangan manusia, tidak pernah mengharap apa yang ada pada manusia. Orang yang mampu melakukan itu akan mulia hidupnya, akan memiliki ‘izzah (kemuliaan), Allah yang akan mencukupinya,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. at-Talaq [65]: 3)
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS. az-Zumar [39] : 36)
Kemudian Nabi bersabda,
ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ
“Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR.Tirmidzi, hasan shahih)
Seperti kata Nabi ketika Jibril datang kepadanya dan memberi wasiat,
يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ، وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ
“Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya. Kemudian dia berkata, ‘Wahai Muhammad! Kemulian seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam), dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath No. 4278, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa, al-Hakim dalam al-Mustadrak 7921. Hadis ini dinyatakan hasan oleh syekh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/483)
(Disusun sebagai ringkasan dari Kajian Ustad Azhari Abu Abdirrahman)
Lihat faedah ilmiah lainnya:
- Utuhnya Syariat Islam
- Melawan Lupa
- Memahami Nama-Nama Allah
- Adab Seorang Alim dan Penuntut Ilmu
- Kewajiban Kepada Rasulullah
- Sikap Berlebihan Terhadap Orang Shalih
- Adab Berdoa
Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh
Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322
