Thu. Jun 4th, 2026

Sebab dan Jalan Keluar dari Musibah

3 min read
Di antara sebab terjadi musibah di muka bumi adalah dikarenakan dosa dan maksiat yang dilakukan oleh penduduk bumi ini. Allah ta'ala mengatakan,

Di antara sebab terjadi musibah di muka bumi adalah dikarenakan dosa dan maksiat yang dilakukan oleh penduduk bumi ini. Allah ta’ala mengatakan,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. asy-Syura [42]: 30)

Dalam ayat yang lain,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. ar-Rum [30]: 41)

Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwasanya hal tersebut terjadi dikarenakan dosa, maksiat, serta kezaliman yang dilakukan oleh manusia. Orang-orang saleh dari kalangan para Nabi dan para Rasul, ketika mereka mendapatkan ujian atau diberikan musibah oleh Allah, mereka tidak pernah menyalahkan orang lain, tetapi mereka menjadikan musibah itu sebagai ajang untuk mengintrospeksi diri-diri mereka.

Doa Nabi Adam ‘alaihissalam ketika Allah menurunkan beliau dari surga,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf [7]: 23)

Berbeda dengan Iblis ‘alaihi la’natullah, justru dia sibuk untuk mensucikan dan membersihkan dirinya untuk mengangkat pamornya. Ketika Allah memerintahkan malaikat dan juga Iblis sujud kepada Adam, Iblis berkata,

خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. al-A’raf [7]: 12)

Begitu juga Fir’aun, Allah mengabadikan ucapan Fir’aun di dalam Alquran ketika dia mengatakan,

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

“Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. (QS. an-Nazi’at [79]: 24)

Ketika Allah mencoba seseorang, apakah dengan musibah atau kenikmatan, pilihan ada pada orang tersebut, apakah memilih jalannya para Nabi dan Rasul dengan introspeksi diri atau memilih jalannya Iblis untuk sibuk membersihkan diri dan merasa diri tidak bersalah.

Namun harus dipahami, bahwa ketika musibah itu datang, Allah tidak memandang apakah dia orang saleh ataukah tidak, Allah tidak memandang apakah dia orang yang taat kepada Allah ataukah tidak.

Allah ingatkan di dalam Al-Qur’anul Karim,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً

“Takutlah kamu dengan fitnah (siksaan), yang fitnah itu tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu.” (QS. al-Anfal [8]: 25)

Disebutkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam Shahih keduanya, dari Zainab bintu Jahsy bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ

“Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang saleh?”

Nabi menjawab,

نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

“Ya, benar jika keburukan telah merajalela”.

Dengan demikian, setiap orang memiliki tanggung jawab agar musibah dijauhkan oleh Allah subhanahu wa taala.

Di antara musibah yang Allah berikan kepada manusia adalah tingginya harga barang, sulitnya pekerjaan dan tingginya nilai tukar uang. Disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, itu semuanya merupakan ketetapan dan keputusan yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Segala sesuatunya itu ada sebab dan akibat. Matinya seseorang terkadang karena dibunuh oleh seseorang yang lainnya, begitu juga naiknya harga barang, sulitnya perekonomian, sulitnya mendapat

Sewaktu kaum muslimin terdesak pada perang Ahzab, dikepung oleh musyrikin, Allah menurunkan sebuah ayat dalam al-Qur’anul Karim,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Dan sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (QS. al-Ahzab [33]: 21)

Di tengah musibah dan bencana menimpa muslimin, Allah ingatkan mereka untuk selalu senantiasa berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallalallahu alaihi wasallam.

Perlu diketahui, persoalan naiknya harga barang bukan hanya terjadi saat ini, tetapi sudah pernah terjadi di zaman Rasulullah. Disebutkan oleh Anas bin Malik, yang dikeluarkan oleh al-Imam Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya,

غَلاَ السِّعْرُ فِيْ الْمدِيْنَةِ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Pernah (terjadi) kenaikan harga di Madinah zaman Rasulullah ﷺ.”

Agar perekonomian yang penuh keberkahan itu diturunkan oleh Allah, kaum muslimin harus kembali beribadah kepada Allah, menjauhi dosa dan maksiat. Allah berjanji,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. al-A’raf [7]: 96)

Selain itu, Islam adalah agama yang menyerahkan sesuatu itu kepada ahlinya. Ketika berbicara persoalan ekonomi atau perdagangan, maka orang-orang yang ahli dalam bisnis dan perdaganganlah yang berbicara dan kemudian dipadu dengan ilmu agama. Apa yang sesuai dengan ilmu agama maka diambil, dan kalau seandainya bertentangan dengan ilmu agama maka ditinggalkan.

 

(Disarikan dari Khotbah Jumat al-Ustadz Harits Abu Naufal)


Lihat faedah ilmiah lainnya:

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *