Hadis-Hadis tentang Hakikat Kesabaran
5 min read
Dalam bab Sabar pada kitab Riyadhus Shalihin karya al-Imam Abu Zakaria Yahya Ibn Syaraf an-Nawawi rahimahullahu ta’ala menyebutkan hadis-hadis yang menggambarkan hakikat sabar yang sesungguhnya.
Hadis pertama, dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu,
وعنْ أَبي عبْدِ الرَّحْمنِ عبْدِ اللَّه بنِ مسْعُودٍ رضيَ اللَّه عنه قَال : كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلى رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يحْكيِ نَبيّاً من الأَنْبِياءِ ، صلواتُ اللَّهِ وسَلاَمُهُ عَليْهم ، ضَرَبُهُ قَوْمُهُ فَأَدْمـوْهُ وهُو يمْسحُ الدَّم عنْ وجْهِهِ ، يقُولُ : « اللَّهمَّ اغْفِرْ لِقَوْمي فإِنَّهُمْ لا يعْلمُونَ » متفقٌ عَلَيْه
“Dari Abu Abdur Rahman, yaitu Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu katanya, ‘Seakan-akan saya melihat kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasalam sedang menceritakan tentang seorang Nabi dari sekian banyak Nabi-nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim. Beliau dipukuli oleh kaumnya, sehingga menyebabkan keluar darahnya dan Nabi tersebut mengusap darah dari wajahnya sambil mengucapkan: ‘Ya Allah ampunilah kaumku itu, sebab mereka itu memang tidak mengerti’.” (muttafaq ‘alaih)
Ini adalah pelajaran yang sangat dalam dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa secara asal tindakan terhadap orang-orang-orang awam yang hanya ikut-ikutan, bukanlah dengan kekerasan, tetapi dengan sikap lemah lembut, dengan lapang dada, pemaaf dan kasih sayang kepada mereka karena kejahilan mereka. Di dalam al-Qur’anul Karim ada beberapa ayat yang menunjukkan hal seperti ini, misalnya,
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat [41]: 34)
Dalam ayat yang lain Allah mengatakan,
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf [7]: 199)
Pada saat Nabi berdakwah kepada kaum yang masih keluarganya di daerah Tha’if, beliau dilempari dengan batu oleh mereka sehingga beliau berdarah, bahkan malaikat yang Allah perintahkan menjaga gunung menampakkan dirinya seraya berseru,
يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ
“Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain (Dua gunung besar di Makkah).”
Nabi menjawab,
بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“(Tidak) namun aku berharap supaya Allah azza wa jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun jua”. (HR. Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim).
Ketidaktahuan suatu kaum memberikan bagi mereka sebuah uzur yang harus disikapi berbeda. Akan tetapi, terhadap mereka yang sudah tahu, yang memiliki doktrin berbahaya, orang yang dengan sengaja membenci Islam, memusuhi dan melecehkan Islam, maka ini memiliki hukum yang berbeda pula.
Rasulullah terhadap orang munafik dengan nifaq i’tiqadi atau orang zindiq, beliau tajam dan keras. Ayat-ayat al-Qur’an turun tentang orang munafik dan musyrik dengan jelas.
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” (QS. al-Lahab [111]: 1)
Hadis kedua, berkata al-Imam an-Nawawi rahimahullah,
وَعنْ أَبي سَعيدٍ وأَبي هُرَيْرة رضي اللَّه عَنْهُمَا عن النَّبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : «مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَن وَلاَ أَذًى وَلاَ غمٍّ ، حتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُها إِلاَّ كفَّر اللَّه بهَا مِنْ خطَايَاه » متفقٌ عليه .و « الْوَصَب » : الْمرضُ
“Dari Abu Said dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shalallahu alaihi wasalam, sabdanya, ‘Tidak suatu pun yang mengenai seorang muslim–sebagai musibah¬–baik dari kelelahan, tidak pula sesuatu yang mengenainya yang berupa kesakitan, juga kesedihan yang akan datang ataupun yang lampau, tidak pula yang berupa hal yang menyakiti–yakni sesuatu yang tidak mencocoki kehendak hatinya, ataupun kesedihan–segala macam dan segala waktunya, sampai pun sebuah duri yang masuk dalam anggota tubuhnya, melainkan Allah menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab apa-apa yang mengenainya¬–yakni sesuai dengan musibah yang diperolehnya–itu’.” (muttafaq ‘alaih)
Nabi menjelaskan bagaimana ujian yang dilalui oleh seseorang akan berubah menjadi pahala kebaikan. Sampai ke tingkatan yang paling kecil sekali pun, duri yang menempel dan menusuk kaki, kalau seseorang menjadikan itu semua sebagai ihtisab, akan mendapatkan pahala dari Allah.
Di dalam bab sabar ada tiga tingkatan seseorang dalam meraih kemuliaan dalam ujian yang mereka hadapi. Pertama adalah mereka yang bersabar, kemudian mereka yang rida, dan yang paling utama adalah mereka yang bersyukur.
Hadis ketiga,
وعن ابْن مسْعُود رضي اللَّه عنه قَالَ : دَخلْتُ عَلى النَبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَهُو يُوعَكُ فَقُلْتُ يا رسُولَ اللَّه إِنَّكَ تُوعكُ وَعْكاً شَدِيداً قال : « أَجَلْ إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلانِ مِنْكُم» قُلْتُ : ذلك أَنَّ لَكَ أَجْريْن ؟ قال : « أَجَلْ ذَلك كَذَلك مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى ، شوْكَةٌ فَمَا فوْقَهَا إلاَّ كَفَّر اللَّه بهَا سيئاته ، وَحطَّتْ عنْهُ ذُنُوبُهُ كَمَا تَحُطُّ الشَّجرةُ وَرقَهَا » متفقٌ عليه.
وَ « الْوَعْكُ » : مَغْثُ الحمَّى ، وقيل : الْحُمى
“Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, katanya, ‘Saya memasuki tempat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan beliau sedang dihinggapi penyakit panas. Saya lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya Tuan dihinggapi penyakit panas yang amat sangat.’ Beliau kemudian bersabda, ‘Benar, sesungguhnya saya terkena panas sebagaimana panas dua orang dari engkau semua yang menjadi satu.’ Saya berkata lagi, ‘Kalau demikian Tuan tentulah mendapatkan dua kali pahala.’ Beliau bersabda, ‘Benar, demikianlah memang keadaannya, tiada seorang muslim pun yang terkena oleh sesuatu kesakitan, baik itu berupa duri ataupun sesuatu yang lebih dari itu, melainkan Allah pasti menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab musibah yang mengenainya tadi dan diturunkanlah dosa-dosanya sebagaimana sebuah pohon menurunkan–menggugurkan–daunnya–dan ini jikalau disertai kesabaran.’ Alwa’ku yaitu sangatnya panas (dalam tubuh sebab sakit), tetapi ada yang mengatakan panas (biasa).”
Hadis ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkatan keimanan seseorang, semakin berat ujiannya. Semakin kuat keimanan seseorang, semakin berat ujiannya. Semakin mulia kedudukan seseorang, semakin berat ujiannya.
Istidraj
Dalam Hadis Nabi, ada yang dinamakan dengan istidraj,
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syekh Syu’aib al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini hasan dilihat dari jalur lain)
Allah katakan,
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ ٠ وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
“Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh.” (QS. al-Qalam [68]: 44-45)
Jadi, orang yang tidak pernah susah perlu diperhatikan dan diwaspadai, jangan-jangan dia bukanlah orang yang baik. Orang yang baik itu selalu diuji dengan kesusahan.
Meskipun demikian, tidak berarti dengan ini kemudian seseorang berharap mendapatkan ujian. Tidak boleh berharap mendapatkan ujian atau malapetaka. Kita hanya dianjurkan untuk meminta sebagaimana doa Nabi setiap pagi dan petang,
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (HR. Abu Daud no. 5074 dan Ibnu Majah no. 3871, al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Makanya di dalam hadis setelahnya, datang hadis Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasul mengatakan,
وعَنْ أَنَسٍ رضي اللَّهُ عنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يتَمنينَّ أَحدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ
“Dari Anas radhiallahu anhu, katanya, ‘Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah seorang dari engkau semua itu mengharap-harapkan tibanya kematian dengan sebab adanya sesuatu bahaya yang mengenainya’.”
Adapun apabila dalam keadaan terpaksa, kata Nabi,
فَإِنْ كَانَ لا بُدَّ فاعلاً فليقُل : اللَّهُمَّ أَحْيني ما كَانَت الْحياةُ خَيراً لِي وتوفَّني إِذَا كَانَتِ الْوفاَةُ خَيْراً لِي » متفق عليه
“Tetapi jikalau ia terpaksa harus berbuat demikian maka hendaklah mengatakan, ‘Ya Allah, tetapkanlah aku hidup selama kehidupanku itu masih merupakan kebaikan untukku dan matikanlah aku apabila kematian itu merupakan kebaikan untukku’.” (muttafaq ‘alaih)
Tidak boleh meminta untuk dimatikan, tetapi boleh meminta untuk diberikan pilihan oleh Allah. Dianjurkan untuk berdoa dengan doa yang baik, seperti,
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. al-Baqarah [2]: 201)
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari beratnya musibah yang tak mampu ditanggung, dari datangnya sebab-sebab kebinasaan, dari buruknya akibat apa yang telah ditakdirkan, dan gembiranya musuh atas penderitaan yang menimpa.” (muttafaq ‘alaih).
Di dalam hadis Abdullah bin Abi ‘Aufa, Rasulullah mengatakan,
أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ
“Wahai manusia, janganlah kamu mengharapkan bertemu musuh, tetapi mohonlah keselamatan kepada Allah. Jika kamu bertemu musuh, maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga itu di bawah naungan pedang.” (HR. Bukhari, no. 3024, Muslim, no. 1742)
Pada ayat ini ada faedah yang disebutkan oleh para ulama, yakni ketika seseorang diuji oleh Allah (bukan dalam ujian dunia, tapi dalam ujian agama), ujian agama adalah khawatir ia akan terjerumus ke dalam kekufuran, nifaq, kesyirikan, kemaksiatan-kemaksiatan, dan dia sangat khawatir akan terjerembab dalam hal itu, maka seseorang boleh meminta kematian.
(Diringkas dari kajian Ustadz Imam Abu Abdillah).
Lihat faedah ilmiah lainnya:
- Utuhnya Syariat Islam
- Melawan Lupa
- Memahami Nama-Nama Allah
- Adab Seorang Alim dan Penuntut Ilmu
- Kewajiban Kepada Rasulullah
- Sikap Berlebihan Terhadap Orang Shalih
- Adab Berdoa
Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh
Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322
