Tue. Dec 10th, 2019

Ringkasan Sunnah-Sunnah Ketika Makan dan Minum (Bagian 1)

4 min read

Beberapa sunnah dan adab yang dapat kita amalkan ketika makan/minum antara lain :

1. Mencermati makanan yg dimakan halal, baik dan tidak memaksakan makanan yang tidak dia sukai.

Firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”.
(Surat Al-Baqarah : 172)

Juga sebagaimana hadits maimunah radhiallahu ‘anha tatkala menghidangkan daging dhob (kadal arab) sedang beliau bertanya akan jenis daging tersebut, dan kemudian tidak memakannya karena bukan makanan kaumnya.(Lihat hadits riwayat Al-Bukhari no. 5537 dan Muslim no. 1946)

Catatan:
Lahmu Dhobbin adalah daging kadal arab, bukanlah seperti yang dipahami sebagian saudara kita yang menyamakan dengan daging biawak.
Karena hewan kadal arab ini makanannya adalah serangga dan tanaman herbal, sedangkan biawak makanannya diantaranya tikus, ular, bangkai dll dan biawak termasuk heaan yang bertaring dan bercakar yang merupakan kriteria hewan yang dilarang untuk dikonsumsi.

2. Mengambil makanan sesuai dengan jumlah kebutuhan.
Tidak kekurangan sehingga tidak bisa mengembalikan kekuatan dan tidak pula berlebihan sehingga kadang tersisa dan mubadzir.

Sebagaimana sabdanya ﷺ :

“مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ حَسْبُ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.”

“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (Hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/132), Ibnu Majah (no. 3349), al-Hakim (IV/ 121). Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1983), karya Syaikh al-Albani rahimahullah)

3. Mencuci tangan sebelum makan dan setelah makan.

Tidak ditemukan satu pun hadits shahih yang membicarakan tentang cuci tangan sebelum makan, namun hanya berstatus hasan. Imam Baihaqi mengatakan ;
“Hadits tentang cuci tangan sesudah makan adalah hadits yang berstatus hasan, tidak terdapat hadits yang shahih tentang cuci tangan sebelum makan.”
(Adabus Syar’iyyah, 3/212)

Dan jikalau setelah makan hukum mencuci tangan datang dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan;
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang tidur dalam keadaan tangannya masih bau daging kambing dan belum dicuci, lalu terjadi sesuatu, maka janganlah dia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Ahmad, no. 7515, Abu Dawud, 3852 dan lain-lain, hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)

4. Makan berjama’ah dalam satu piring/nampan.

Sebagaimana hadits Rasulullah ﷺ :

ِجْتَمِعُوْا عَلَى طَعاَمِكُمْ يُبَارِكْ لَكُمْ فِيْهِ.

“Berkumpullah kalian dalam menyantap makanan kalian (bersama-sama), (karena) di dalam makan bersama itu akan memberikan berkah kepada kalian.”
(HR. Abu Dawud no. 3764, hasan. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no. 664)

5. Jika tidak suka dengan makanan, cukup tinggalkan saja. Tidak boleh mencela makanan.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu :

مَا عَابَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعاَماً قَطُّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَ إِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ.

“Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan, apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berselera, (menyukai makanan yang telah dihidangkan) beliau memakannya, sedangkan kalau tidak suka (tidak berselera), maka beliau meninggalkannya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3563), Muslim (no. 2064) dan Abu Dawud (no. 3764).

6. Makan dengan duduk, duduk iq’a atau jatsa.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُقْعِيًا يَأْكُلُ تَمْرًا

“Aku melihat Nabi ﷺ duduk iq’a saat makan kurma.” (HR. Muslim No 3807)

7. Membaca tasmiyah sebelum makan ( “bismillah” saja). Jika lupa, membaca “bismillaahi awalahu wa akhirahu” meskipun tinggal satu suap terakhir.

Rasulullah ﷺ bersabda,

« يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

“Wahai Ghulam, sebutlah nama Allah (bacalah “BISMILLAH”), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تعالى فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تعالى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَ آخِرَهُ

“Apabila seseorang diantara kalian hendak makan hendaklah ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa menyebut nama Allah ta’ala di awalnya maka hendaklah ia mengucapkan “Bismillah awwalahu wa aakhirahu” (dengan nama Allah di awal dan akhirnya). (Riwayat Abu Dawud 3767, At-Tirmidziy 1858 dan Ahmad VI/ 143. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih).

8. Makan dengan tangan kanan dan makan dari yang terdekat.

Sabda Rasulullah ﷺ :

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ.

“Wahai anak muda, sebutlah Nama Allah (bismillaah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu.” (Shahih, Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5376, Muslim no. 2022, Ibnu Majah no. 3267, Ad-Darimi II/100 dan Ahmad IV/26).

9. Makan dengan tiga jari dan menjilatnya sebelum membersihkan dengan tissue atau sebelum mencuci tangan.

Ibnu Ka’ab bin Maalik, dari ayahnya radhiallahu ‘anhuma ;

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأكل بثلاث أصابع ، ويلعق يده قبل أن يمسحها

“Rasululluh ﷺ makan dengan menggunakan tiga jari, dan Beliau menjilat tangannya sebelum membersihkannya”.(Riwayat Muslim 2032)

10. Tidak bersandar, bertelekan atau bersila. Dan makannya seperti duduknya seorang hamba (budak).

Sebagaimana yang ditafsirkan ibnul qoyyim dari makna ittika’ dalam zadul ma’adnya jilid keempat hal. 210.

Sabda beliau ﷺ:

لاَ آكُلُ مُتَّكِئًا إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ آكُلُ كَمَا يَأْكُلُ الْعَبْدُ وَأَجْلِسُ كَمَا يَجْلِسُ الْعَبْدُ.

“Aku tidak pernah makan sambil bersandar, aku hanyalah seorang hamba, aku makan sebagaimana layaknya seorang hamba dan aku pun duduk sebagaimana layaknya seorang hamba.” (Riwayat Al-Bukhari no. 5399)

11. Tidak meniup makanan karena alasan panas atau selainnya.

Hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bernafas di dalam gelas atau meniup isi gelas. (Riwayat Ahmad 1907, Turmudzi 1888, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Dengan mengamalkan sunnah-sunnah tersebut, aktivitas makan kita tidak hanya merasakan lezatnya dan manfaat makanan semata. Tetapi mendapat sesuatu lebih baik dari itu yaitu pahala dan juga ampunan atas dosa yg telah lalu.

✒️ Pemateri : Ustadz Abu Ahmad Ar Ramadhany Abdurrahman Dani Hafidzahullah

Wallahu a’lam.

Repost By :
Team Syiar Tauhid Aceh 96.1 FM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *