Urgensi Menuntut Ilmu Agama

Share Yuk!!!

Idealnya setiap muslim harus mengutamakan sebuah perkara yang teramat mulia yaitu apa yang disebut dengan menuntut ilmu. Ilmu itu lebih didahulukan baik daripada perkataan maupun perbuatan.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah pernah berkata,

قال الشافعي رضي الله تعالى عنه ما تقرب العبد الى الله بعد اداء مفترض عليه بشيء افضل من طلب العلم

“Tidaklah sesuatu yang mendekatkan hamba kepada Allah setelah menunaikan apa yang Allah wajibkan kepadanya yang lebih afdhal dari menuntut ilmu.” (Imam Baihaqi, Manaqib asy-Syafi’i jilid II: 108).

Dengan bahasa yang berbeda namun dalam konteks yang sama, Imam Ahmad dan Imam Malik berkata,

“Tidak ada sebuah amalan yang lebih afdhal di mana seseorang mendekatkan diri kepada Allah setelah shalat, zakat dan haji dari perkara-perkara wajib yang lebih afdhal dari menuntut ilmu.” (Dikutip oleh al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Daris Sa’adah).

Dalam hal ini perlu ditekankan, bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitabnya al-Ushul al-Tsalatsah,

العلم ، وهو معرفة الله ، ومعرفة نبيه ، و ومعرفة دين الإسلام بالأدلة

“Ilmu itu adalah mengenal Allah, mengenal Rasul-Nya dan mengenal agama.”

Semisal dengannya, Imam adz-Dzahabi rahimahullah di dalam beberapa makalah beliau menyebutkan,

العلم ما قال الله و قال الرسول و قال الصحابه العرفاني

“Ilmu itu adalah apa yang difirmankan oleh Allah, apa yang disabdakan oleh Rasul, dan apa yang diucapkan oleh para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam.”

Ilmu agama adalah ilmu yang pasti, sedangkan ilmu dunia tidak pasti. Seorang ilmuwan membuat teori bumi datar (flat earth), ilmuwan yang lain membantahnya dengan mengatakan bumi itu bulat (globe earth). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada ketentuan yang benar-benar pasti dalam ilmu dunia.

Adapun ilmu agama, dari zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sampai hari ini tidak ada yang berubah. Berpuasa di bulan Ramadhan adalah menahan haus dari apa saja yang membatalkannya mulai dari terbit matahari sampai tenggelam. Dan ini tidak berubah dari zaman Rasul shallallahu alaihi wasallam bahkan sampai hari kiamat. Sehingga ilmu agama sangat sesuai dan pantas dikatakan sebagai pengetahuan yang pasti dan bisa dibuktikan.

Sehingga jelas bahwa apa yang dimaksud oleh Imam Syafi’i rahimahullah dalam perkataannya mengenai amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah menuntut ilmu agama.

Diriwayatkan dari Harmalah Ibnu Yahya dari Imam Syafi’i,

طلب العلم افضل من صلاه النافلة

“Menuntut ilmu itu lebih mulia dari shalat nafilah”.

Sehingga sungguh sangat merugi orang-orang yang meninggalkan majelis ilmu dalam keadaan majelis ilmu itu lebih mulia dari shalat malam yang dia lakukan, lebih mulia dari puasa Daud, lebih mulia dari harta yang disedekahkan, karena tidak ada ibadah yang lebih utama daripada menuntut ilmu kecuali pada perkara-perkara yang wajib.

Kemudian ucapan Imam Syafi’i yang dinukilkan dari Rabi’ bin Sulaiman sebagaimana disebutkan dalam Thabaqat Asy-Syafi’i al-Kubra jilid 2 halaman 132,

طلب العلم افضل من صلاه النافلة

“Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya dia menuntut ilmu. Dan siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dia menuntut ilmu (Karena ilmu adalah sebab Allah melapangkan rezeki kepada manusia).”

Terkadang seseorang tidak sempat menuntut ilmu karena sangat fokus dengan perniagaannya dan menganggap hal tersebut akan menjamin rezekinya. Padahal Rasulullah telah mengabarkan sebagaimana yang disebutkan di dalam Shahih Bukhari bahwa pernah ada dua orang kakak beradik di mana yang satunya bekerja dan yang satunya lagi fokus menuntut ilmu agama. Tapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam justru mengatakan bahwa orang yang bekerja tersebut mendapatkan rezekinya dengan sebab adiknya yang belajar ilmu agama, bukan justru mengatakan sebaliknya bahwa adiknya bisa belajar karena ada kakaknya yang bekerja untuk menafkahinya.

Dengan demikian, barang siapa yang menginginkan kebaikan untuk dunianya maka harus baginya mempelajari ilmu agama. Karena tanpa ilmu agama, bukan hanya akhiratnya yang akan rusak, akan tetapi dunianya juga.

Orang yang memiliki harta yang banyak, karena tidak ada ilmu agama ia gunakan hartanya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat baik untuk dunia maupun akhiratnya. Maka hartanya justru merusak dunia dan akhiratnya disebabkan bodohnya dia terhadap agamanya.

Di tengah-tengah kaum muslimin hari ini ada yang menyerahkan uang mereka kepada dukun untuk dilipat gandakan. Ini adalah bentuk kebodohan. Sehingga hartanya yang telah ia upayakan selama bertahun-tahun hilang seketika dan akidahnya menjadi rusak. Maka ini adalah bukti dari apa yang disebutkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah,

من اراد الدنيا فعليه بالعلم ومن اراد الاخره فعليه بالعلم

“Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya dia menuntut ilmu. Dan siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dia menuntut ilmu.”

Orang yang mengerti ilmu jika diberi harta maka hartanya tersebut akan bermanfaat. Hartanya akan ia gunakan untuk berangkat haji, umrah, membangun sekolah, masjid, menafkahi anak dan istrinya dan yang lain dari hal-hal yang bermanfaat. Maka sesungguhnya kebahagiaan dunia itu hanya bisa dinikmati secara benar oleh orang-orang yang memiliki ilmu agama.

Kemudian kata Imam Syafi’i,

العلم و الام تعطي كلك لم يعطك بعضه

“Ilmu itu, kalau seandainya engkau tidak mencurahkan seluruh usahamu untuk mendapatkannya maka engkau tidak akan bisa mendapatkan sebagiannya.”

Maksud dari ucapan Imam Syafi’i ini adalah untuk mendeskripsikan luasnya ilmu, di mana kalau seandainya seseorang diberikan umur jutaan tahun untuk menuntut ilmu maka itu belumlah cukup untuknya menguasai seluruh ilmu tersebut.

Ada orang yang baru mempelajari ilmu agama beberapa tahun tapi sudah bisa mengartikan bahasa Arab meskipun tidak banyak, ini adalah hasil daripada kesungguhan di dalam mempelajari ilmu. Ada juga orang yang sudah belajar bertahun-tahun tapi untuk mengartikan bacaan shalat saja ia masih belum mampu, sehingga ini sangat penting untuk diperhatikan.

(Disarikan dari kajian Ustadz Harits Abu Naufal oleh Tim Syiar Tauhid Aceh).


Baca juga:

Share Yuk!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares