Nikmat Kemerdekaan
3 min read
Di antara kenikmatan yang Allah subhanahu wa ta’ala telah berikan kepada kita adalah nikmat kemerdekaan. Nikmat kemerdekaan, tidak akan bisa terlepas dari keistimewaan-keistimewaan yang ada di dalamnya, yaitu nikmat keamanan, kenyamanan, dan ketenteraman. Oleh karena itu, tentunya kita harus selalu senantiasa bersyukur dan menjaga nikmat ini.
Dalam sebuah hadits dari Ubaidullah al-Anshari radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah, No. 4141, di-hasan-kan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ush Shaghir No. 5918)
Hadis ini menunjukkan betapa besarnya nikmat keamanan yang Allah subhanahu wa ta’ala anugerahkan. Dalam sebuah ayat Allah sebutkan,
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian’.” (QS. al-Baqarah [2]: 126)
Nabi Ibrahim ‘alaihi shalatu wassalam lebih mendahulukan meminta nikmat keamanan daripada meminta agar Allah memberi rezeki kepada penduduk negeri tersebut. Ayat ini menunjukkan bahwasanya nikmat keamanan merupakan sebuah nikmat yang sangat besar bagi kaum muslimin.
Namun, Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa memberi nikmat yang sangat besar ini, ketika penduduk negeri tersebut benar-benar menjaga nikmat yang diberikan itu. Menjaganya dengan menjalankan sebab-sebab yang dengannya Allah akan terus-menerus dan senantiasa memberikan nikmat tersebut.
Disebutkan oleh para ulama, di antara sebab atau faktor yang harus dilakukan yang pertama adalah bersyukur kepada Allah dengan meningkatkan amalan saleh, mengisi kemerdekaan tersebut dengan ketakwaan, keimanan, dan meningkatkan amalan saleh kepada Allah. Allah berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Barangsiapa bersyukur terhadap nikmat Allah, pasti Allah akan menambahkan kenikmatan tersebut. Sebaliknya apabila kufur, Allah katakan bahwasanya azab-Nya sangatlah pedih. Banyak sekali permisalan di dalam al-Qur’anul Karim. Di antaranya Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang sebuah kaum di dalam sebuah negeri yang dinamakan dengan negeri Saba’,
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan) ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun’.” (QS. Saba’ [34]: 15)
Kaum Saba’ tidak mau bersyukur kepada Allah azza wa jalla, bahkan mereka membangkang. Allah mengatakan bahwasanya mereka berpaling dan kemudian Allah turunkan kepada mereka banjir bandang yang sangat besar. Dijelaskan oleh al-Imam Abdurrahman as-Sa’di rahimahullahu ta’ala bahwasanya yang menyebabkan tenggelamnya kampung halaman mereka adalah runtuhnya sebuah bendungan yang ada di Ma’rib.
Sebab yang kedua, yaitu dengan senantiasa memurnikan ibadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. an-Nur [24]: 55)
Kenikmatan ini yang Allah azza wa jalla berikan ketika kaum muslimin senantiasa menjaga ibadah mereka, menjaga kemurnian niat dan keikhlasan mereka hanya kepada Allah serta menjauhi kesyirikan dan menjauhi segala bentuk riya’ yang ada di dalam ibadah mereka kepada Allah.
Sebab yang ketiga, adalah tatkala kaum muslimin menjaga persatuan dan kesatuan di tengah-tengah mereka serta menjauhi segala bentuk pertikaian dan permusuhan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ٠ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. ar-Rum [30]: 32)
Dalam ayat yang lainnya, Allah mengatakan,
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (QS. al-Anfal [8]: 46)
(Diringkas dari kajian Ustadz Tanthawi)
Lihat faedah ilmiah lainnya:
- Mulia Karena Memuliakan Islam
- Berhati-hati dalam Pengkafiran
- Kesabaran Seorang Muslimah
- Jangan Tertipu dengan Usia
- Menutup Pintu-Pintu Fitnah
- Berpegang Teguh pada Al-Qur’an
- Mengikuti Rasulullah
- Pembatal Keislaman
Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh
Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322
