Mon. May 25th, 2026

Memahami Nama-Nama Allah

3 min read

Berkaitan dengan permasalahan akidah asma’ wa shifat, dalam memahami nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala terdapat beberapa kaidah.

Kaidah pertama, nama-nama Allah semuanya adalah husna, yang maknanya mencapai tingkatan tertinggi dalam kemuliaan, sehingga tidak ada celaan dari sisi mana pun. Oleh karena itu, nama-nama Allah yang mengandung di dalamnya unsur yang tercela atau terdapat kemungkinan memiliki kekurangan, dinafikan dari Allah.

Seperti nama al-Mutakallim (Yang Maha Berbicara). Dari segi sifat, Allah memiliki sifat al-Kalam (berbicara), tetapi tidak setiap sifat diambil dari sifat itu nama. Maka tidak ditetapkan bagi Allah nama al-Mutakallim. Alasan utamanya karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Allah memiliki nama tersebut. Dilihat dari sifat al-Kalam secara umum, ada pembicaraan yang baik dan yang buruk, dan lain sebagainya. Allah tidak boleh diberikan nama dengan sifat yang mengandung unsur kejelekan, meskipun sedikit.

Contoh lain, Allah tidak boleh diberikan nama dengan al-Jahil, karena itu adalah sifat yang penuh dengan kekurangan dari segala sisi. Dari sebagian sisi saja tidak boleh, apalagi dari segala sisi. Hal ini untuk menutup celah dari orang-orang yangmenetapkan nama-nama Allah secara berlebihan.

 

Kaidah kedua, nama-nama Allah azza wa jalla ditinjau dari dua arah. Arah yang pertama ialah dari nama itu sendiri dan arah yang kedua dari sifat yang terkandung pada nama tersebut. Apabila ditinjau dari nama itu sendiri, antara nama Allah yang satu dengan yang lainnya terdapat persamaan atau keterkaitan. Ketika ada orang memanggil dan berdoa kepada Allah dengan “Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim.” Maka semua maksudnya adalah satu, yaitu Allah.

Adapaun jika ditinjau dari sisi sifat yang terkandung pada nama-nama tersebut maka terdapat perbedaan. Saat seseorang berdoa, “Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Hannan, Ya Mannan”, maka sifat yang terkandung dalam nama ar-Rahman, bukan sifat yang terkandung di dalam nama ar-Rahim, dan bukan juga dengan sifat yang terkandung dalam nama al-Hannan, juga berbeda dengan sifat yang terkandung dalam nama al-Mannan.

Ar-Rahman (Yang Memberikan Kasih Sayang), al-Mannan (Yang Maha Pemberi), al-Qadir (Yang Mahamampu), menunjukkan suatu perbedaan. Dzat yang memberikan kasih sayang dengan Zat Yang Mahamampu itu berbeda, namun perbedaanya apabila ditinjau dari sisi sifat yang terkandung di dalamnya, sedangkan jika ditinjau dari sisi nama itu sendiri, maka tidak terdapat perbedaan atau sama.

 

Kaidah ketiga, nama-nama Allah tabaraka wa ta’ala memiliki dua sudut pandang yang berbeda dari sisi makna. Pertama, nama yang lazim. Kedua, nama yang muta’addi.

Nama Allah dengan sudut pandang makna yang lazim adalah nama-nama Allah yang memiliki makna tetap dan tidak memiliki pengaruh positif kepada makhluk atau kepada selain Allah. Muta’addi adalah nama Allah yang mengandung sifat, dan sifat itu berpengaruh kepada makhluk hidup.

Istilah lazim diambil dari istilah ilmu Nahwu. Makna lazim adalah sebuah kata kerja yang tidak butuh kepada objek, hanya cukup subjek dan predikat. Contohnya disebutkan oleh para ulama, nama Allah dengan al-Hayyu (Yang Mahahidup), ketika Allah memiliki nama al-Hayyu, tidak terlihat bahwa nama tersebut memiliki bias, efek, atau sasaran objek kepada makhluk.
Berbeda dengan nama ar-Rahman. Ar-Rahman adalah nama dari nama-nama Allah yang bermakna Allah memiliki sifat penyayang. Nama ini memiliki pengaruh kepada makhluk hidup yaitu Allah berikan rahmah sehingga mereka berkasih sayang dan lain sebagainya.

Sebagian orang dari kelompok sesat, tidak mau menetapkan semua sifat. Kata mereka, “nama itu, seandainya kita munculkan dari nama sebuah sifat, maka akan memberikan efek bahwa Dzat yang kita sembah dan kita ibadahi itu berbilang.” Mereka membuat sebuah kaidah bahwasanya jika ada yang disifati dengan lebih dari satu, maka menunjukkan dia lebih dari satu zatnya. Dengan demikian, mereka tidak menetapkan bahwa sifat apa pun kepada Allah.

Mereka mempertanyakan dengan menganologikannya pada makhluk, apakah mungkin suatu makhluk dapat duduk dan berdiri sekaligus. Sifat yang digunakan sebagai contoh ialah sifat yang pada dasarnya memang tidak dapat disatukan.

Sedangkan Ahlussunnah wal Jama’ah, mengatakan bahwa ada sifat-sifat yang tidak bertentangan dan yang bertentangan. Sifat yang tidak bertentangan bisa ditetapkan bagi Allah. Adapun yang bertentangan, maka tidak ditetapkan.

Di dalam ayat Alquran, banyak yang memberikan dasar perkara ini,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 58)

Dalam ayat lain Allah mengatakan,

وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ

“Dan bagi-Nya-lah matsal (sifat) yang Maha Tinggi.” (QS. ar-Rum [30]: 27)

Dalam tafsir al-Muyassar, tafsir as-Sa’di dan tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa makna al-Matsal adalah ash-Shifat.

 

(Ikhtisar dari kajian Ustadz Imam Abu Abdillah)


Lihat faedah ilmiah lainnya:

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *